KEMUDIKAN SPEEDBOAT KE PEDALAMAN, BUPATI MERAUKE JATUH SAKIT

Bupati Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT (topi kuning) sedang dalam spead boat keluar dari Kampung Sabon. (JUBI/Frans L Kobun)

Merauke, Jubi (19/9)- Perjalanan Bupati Merauke, Romanus Mbaraka bersama rombongan termasuk beberapa wartawan ke Kampung Sabon, Distrik Waan,  14-16 September 2014 lalu, membuat fisik  orang nomor satu itu ‘drop’ hingga jatuh sakit.

Romanus  harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.

Dalam keterangan persnya kepada sejumlah wartawan di RSUD Merauke, Jumat (19/9), Bupati Merauke menjelaskan,  sebelum ke Kampung Sabon, dirinya sempat bermain futsal di Lapangan Kodim 1707.

Usai bermain, ia sudah merasakan gejala tidak enak badan. Sebelum berangkat, salah seorang dokter masih sempat memeriksanya dan memberikan obat-obatan.

Hanya saja, lanjut Bupati Merauke, saat berangkat itu, obat-obatan bersama ponsel yang sudah diletakkan di atas meja, ketinggalan.

Dalam perjalanan dari kota menuju Ibukota Distrik Kimaam pada Minggu (14/9) lalu, bupati bersama rombongan menggunakan  pesawat.  Setiba di distrik, langsung menuju ke pelabuhan.

Dari situ, katanya, perjalanan menuju ke Distrik Waan dilakukan dengan menggunakan spead boat. “Memang saya yang membawa spead boat sendiri bersama beberapa pejabat termasuk wartawan. Perjalanan hingga menuju ke distrik tersebut kurang lebih enam jam,” katanya.

Selanjutnya, demikian Bupati Merauke, perjalanan dilanjutkan lagi dengan spead boat menuju Kampung Sabon. Namun, perjalanan pun tidak mulus dilalui. Ketika masuk ke Muara Sudan, gelombang laut sedang surut. Sehingga harus menunggu sampai air pasang.

“Saya memutuskan untuk bertemu masyarakat di bivak-bivak yang telah menunggu. Selama beberapa jam, pertemuan dilakukan dan diberikan dana senilai Rp 20 juta untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Beberapa jam kemudian, lanjut ke Kampung Sabon, namun tidak mulus juga,” tuturnya.

Setiba di salah satu kali, spead boat miliknya yang disetir sendiri, tidak dapat masuk ke kampung tersebut lantaran air sangat dangkal. Dengan demikian, Bupati Merauke harus pindah menggunakan spead boat berukuran lebih kecil lagi. Sampai di kampung itu sudah pagi hari pukul 04.00 Wit.

“Ketika sampai di Kampung Sabon, kondisi badan saya sudah mulai drop. Namun demikian, masih bertahan untuk menunggu sambil dilakukan dialog sekaligus meresmikan mesin penggilingan padi,” tuturnya.

Usai peresmian, katanya, bersama rombongan hendak kembali ke Distrik Kimaam. Namun, sampai di Muara Sudan, selain spead boat miliknya mengalami kerusakan karena menabrak kayu, juga kondisi badannya sudah tidak memungkinkan lagi. “Saya benar-benar drop,” katanya.

Dari situ, ia pindah ke spead boat ARB 0I lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Distrik Waan dengan jarak tempuh kurang lebih tiga jam lamanya. Meski dihantam angin dan gelombang besar, namun Bupati Merauke masih bertahan hingga sampai di distrik itu.

Setelah di Pelabuhan Waan, Bupati Merauke langsung dibawa ke salah satu rumah untuk langsung mendapatkan penanganan dari tenaga medis. Dari situ, kondisinya sudah mulai pulih dan pada keesokan harinya yakni Selasa tanggal 16 September 2014, bupati bersama beberapa orang langsung dengan spead boat lagi menuju ke Ibukota Distrik Kimaam.

Awalnya, pesawat hendak mendarat di Distrik Waan, namun karena sedang berada di Nabire. Sehingga keputusan terakhir tetap dengan spead boat.

“Ketika saya sampai di Distrik Kimaam, langsung ditangani juga. Beberapa jam kemudian, pesawat datang bersama beberapa dokter dan ditangani sesaat sambil terbang ke kota selama kurang lebih 40 menit. Selanjutnya dibawa ke RSUD untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut,” ujarnya.

Ditambahkan, kedatangannya ke Kampung Sabon tidak lain untuk melihat secara langsung hasil panen padi masyarakat setempat yang nota bene adalah orang asli Papua.

Selain itu juga meresmikan mesin penggilingan padi. Masyarakat disana sangat antusias dan termotivasi tatkala melihat beras secara langsung.

Salah seorang dokter di RSUD Merauke, dr. Richardo mengatakan, Bupati Merauke telah ditangani selama beberapa hari dan kondisinya sekarang sudah pulih kembali. “Saya bersama beberapa teman dokter telah menagani  Pak Bupati Merauke hingga sembuh,” katanya.

Dijelaskan, dirinya tidak bisa menjelaskan secara detail akan sakit yang dialami oleh Bupati Merauke. Karena itu adalah rahasia dan sesuai etika dari kedokteran. Tetapi bahwa yang mengetahui sakit tersebut adalah pasien bersangkutan. (Jubi/Frans L Kobun)

About the author

Related