Bupati Diminta Kreatif Kelola Dana Otsus

share on:
Gubernur Papua Lukas Enembe (tengah) Saat Berikan Keterangan Pers Di Istana Bogor, Berapa Waktu Lalu. (Jubi/Alex)
Gubernur Papua Lukas Enembe (tengah) Saat Berikan Keterangan Pers Di Istana Bogor, Berapa Waktu Lalu. (Jubi/Alex)

Jayapura, Jubi – Dengan adanya pembagian dana Otonomi Khusus sebesar 80 persen ke kabupaten/kota, maka bupati dan wali kota dituntut harus kreatif dalam mengelolanya. Terutama untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan rakyat.

“Bupati harus kreatif, jika anggaran tersebut tidak digunakan dengan baik, maka akan dipotong dan diberikan kepada bupati yang dinilia berhasil dalam membangun daerahnya,” kata Lukas Enembe kepada wartawan usai sidang Paripurna RAPBD 2015, di Jayapura, Papua, Rabu (15/10).

Menurut Enembe, dirinya tidak suka jika ada kepala daerah yang tidak bekerja dengan baik dalam membangun daerahnya. “kalau ada kepala daerah bekerja loyo-loya, saya pangkas anggarannya,” katanya.

Disamping itu, Enembe juga memuji kepemimpinan para bupati, dimana menurutnya ada beberapa bupati di Papua yang bekerja sangat luar biasa.

Bukti nyata kerja keras dari para bupati ini dapat terlihat dari menurunnya angka buta aksara, sehingga Papua menerima penghargaan “Anugerah Aksara Pratama” dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atas kinerja dan kepedulian yang tinggi dalam percepatan pemberantasan buta aksara di Provinsi Papua.

Dimana anugerah ini diserahkan secara langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh pada 20 September 2014 lalu di Kendari, Sulawesi Tenggara. Bertepatan dengan acara puncak peringatan Hari Aksara Internasional tingkat Nasional ke-49.

Menanggapi itu, ujar Enembe, rencananya pada 25 Oktober mendatang, dirinya akan terbang ke Kabupaten Lanny Jaya untuk meresmikan 214 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di daerah itu.

“Kabupaten ini pemegang rekor di Papua, bahkan mungkin di Indonesia ada 214 PAUD dan nanti masuk Sekolah Dasar (SD) kelas I sudah bisa membaca,” katanya.

Untuk menurunkan angka buta aksara, kata Enembe, nantinya semua potensi yang ada akan dikerahkan. Dimana orang yang sudah bisa membaca entah itu masyarakat, kepala desa ataupun gembala, akan dipakai menjadi guru PAUD, walaupun bahasa Indonesianya masih kurang lancar.

“Kita akan kerahkan semua potensi, setidaknya mereka bisa mengajar,” kata Enembe.

Selain Lanny Jaya, kata Enembe, ada beberapa daerah yang membuat prestasi dalam penurunan tingkat kemiskinan, karena penurunan yang drastis terjadi. Seperti yang dilakukan di Kabupaten Tolikara.

“Kabupaten Tolikara ada program ibu hamil yang diberikan makanan mengandung gizi. Sedangkan di Lany Jaya, selain program PAUD, ibu hamil diberikan dana Rp 5 juta. Kemudian di Mamberamo Raya satu kepala keluarga (KK) sebesar Rp 10 juta. Sementara Mamberamo Tengah mengambil kebijakan sekolah negeri ditutup, jadi sekolah saat ini hanya swasta,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Yunus Wonda disela-sela sidang RAPBD Papua 2015 mengaku sangat mendukung kebijakan Gubernur Papua soal pemotongan anggaran Kabupaten/Kota.

Dirinya mengatakan, dana Otsus 80 persen yang diberikan Pemerintah Provinsi Papua kepada Kabupaten/Kota harus dikelola dengan baik dan benar-benar bermanfaat bagi rakyat.

“Kami dari dewan sangat mendukung, jika ada kebijakan seperti itu, dengan demikian bupati dan walikota akan bekerja sungguh-sungguh dalam membangun daerahnya,” kata Yunus Wonda. (Alexander Loen)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Bupati Diminta Kreatif Kelola Dana Otsus