Karikatur Beli Atlet Luar Papua Bikin Carol Menangis

share on:
Gambar Karikatur (atas) yang Mengkritik Pembelian Atlit Dari Luar Papua. Mendapat Tanggapan Positif Dari Masyarakat Olahraga di Papua (Jubi/Roberth Wanggai)
Gambar Karikatur (atas) yang Mengkritik Pembelian Atlit Dari Luar Papua. Mendapat Tanggapan Positif Dari Masyarakat Olahraga di Papua (Jubi/Roberth Wanggai)

Jayapura, Jubi – Ketua Forum Peduli Olahraga Prestasi Papua, Carol Renwarin menaruh apresiasi yang besar terhadap koran Jubi, khususnya  tentang pemuatan  karikatur pada edisi 18 Oktober 2014, yang menyindir praktek  pembelian atlet dari luar Papua.

“Karikatur tersebut sangat-sangat merespons kami masyarakat dan pelaku olahraga sejak Irian Barat, Irian Jaya dan sekarang Papua,”tulis Carol Renwarin via pesan singkat yang diterima Jubi. Karikatur tersebut kata Carol, membuat dirinya harus menangis.

“Karena mereka juga sudah berlatih dan siap membela tanah ini. Tetapi belum dikasih honor untuk semangat mereka. Malah atlet yang dibeli dari luar Papua. Menurut info, mereka itu sudah dibayar,”kata Carol sembari menegaskan yang dibayar tersebut meliputi kontrak dan gaji bulanan.

Padahal lanjut pria berambut putih itu,  ada Pengprov yang tidak tahu alias tidak ada koordinasi tentang pembelian atlet  tersebut. Atlet yang dibeli bagaikan membeli tikus dalam karung, ungkap Carol Renwarin.

Pemerhati olahraga, Stev Dumbon mengatakan praktek itu  sudah bertentangan dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua yaitu Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera.

Masalahnya kata Dumbon, sebagian besar atlet Papua adalah pelajar, mahasiswa, tukang ojek, penganggur. Maka jika uang sebesar itu dikasih ke atlet di luar Papua, maka bertentangan dengan motto tersebut, dan  hanya jadi slogan belaka.

“Ini pertanda visi misi tersebut tidak bisa diterjemahkan oleh pelaku olahraga di Papua,”kata Dumbon di kantor KONI Papua APO Jayapura, Senin (20/10).

“Kalau gunakan uang Papua untuk pembinaan penguatannya bangkit mandiri dan sejahtera. Jadi kenyataannya di bidang olahraga,”kata Stev Dumbon.

Anehnya uang orang Papua untuk bayar orang lain, padahal Papua dikenal sebagai gudang atlet. Karena itu dia mempertanyakan kinerja  KONI yang sudah dibentuk sejak tanggal 8 November 2013 lalu.

“Kalau dia gunakan uang satu tahun cukup. Apa lagi pra PON tahun depan, lebih dari cukup. Apa yang dibuat untuk beli atlet adalah cara yang instan,”katanya lagi. (Roberth Wanggai)

 

 

Editor : Syam Terrajana
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Karikatur Beli Atlet  Luar Papua Bikin Carol Menangis