Dianggap Sekolah Buangan, Sekolah Satu Atap Akomodir Hak Anak

share on:
Suasana Ruang Guru Sekolah Satu Atap - Jubi/Aprila
Suasana Ruang Guru Sekolah Satu Atap – Jubi/Aprila

Merauke, Jubi – Sekolah SMP – SMAN Plus Satu Atap 1 Merauke sering dianggap sekolah buangan oleh banyak pihak tetapi di sekolah ini anak-anak tetap bisa memperoleh-hak-haknya dalam bidang pendidikan.

“Siswa kami beragam. Siswi yang dikeluarkan dari sekolahnya karena hamil, kami tampung di sekolah ini,” kata Sergius Womsiwor kepada Jubi di Kampung Wasur, Merauke, Kamis, 13/11.

Hal ini dilakukan Womsiwor karena baginya setiap anak di seluruh dunia berhak mengenyam bangku pendidikan sesuai dengan hak-hak anak dalam undang-undang Indonesia dan undang-undang internasional. Pihaknya juga tak kunjung berhenti berupaya agar lembaga Pendidikan Luar Sekolah yang dipimpinnya dapat menjadi pendidikan formal.

“Ada juga beberapa anak yang sedang menjalani hukuman di Lapas Merauke menjadi siswa kami di sini,” katanya.

Sekolah ini, lanjut Womsiwor memiliki satu unit asrama permanen dan beberapa ruangan kelas dan gudang yang sudah ‘disulap’ menjadi asrama yang layak huni. Di sini juga diterapkan pola sekolah gratis karena menyerap dana pendidikan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke.

“Tantangan lainnya adalah kami harus menghadapi siswa yang sudah berkeluarga atau yang usianya lebih tua dari guru yang kebanyakan adalah Mahasiswa Universitas Musamus yang bekerja karena alasan kemanusiaan,” tutur Womsiwor.

Harapan lain dari Womsiwor adalah kehadiran pos polisi di area sekolah karena kenakalan siswa di sekolah ini bisa melewati batas-batas normal karena keberagaman latar belakang tadi.

“Di sini Orang Asli Papua masih mayoritas meski ada juga non Papua tetapi perlakuan kami sama bagi semua siswa,” kata Womsowor lagi.

Terkait hak-hak anak, Wilhelmina Welliken dari The Australian Indonesian Partnership of Decentralization (AIPD) mengatakan bagi siswi yang mengalami ‘kecelakaan’ saat studi, biasanya dikeluarkan dari sekolah oleh pihak sekolah.

“Di Kota Merauke, untungnya, masih ada sekolah yang mau menerima siswi ‘kecelakaan’ ini dengan harapan, melalui pendidikan, dia punya masa depan yang lebih baik,” kata Wilhelmina kepada Jubi di Kampung Wasur, Merauke, Kamis (13/11).

Lanjut Wilhelmina, memang ada aturan tetapi di sisi lain, kita ingin menyelamatkan hak-hak anak dimana dari sisi kemanusiaan, anak-anak ini memiliki hak bersekolah. (Aprila Wayar)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Dianggap Sekolah Buangan, Sekolah Satu Atap Akomodir Hak Anak