Menggantungkan Hidup Dari Berjualan Air Keliling Merauke

share on:
Para penjual air sedang antre mengambil air di salah satu sumur di seputaran Jalan Raya Mandala. (Jubi/Frans L Kobun)

Merauke, Jubi – Djulhadi (55) tahun, salah satu dari belasan penjual  air yang mencari nafkah dengan mengambil air di sumur, mengisi dalam jerigen, mengatur ke dalam gerobak, sekaligus menghantar kepada para pelanggan yang telah memesan.

Sengatan panas matahari tidak dihiraukan. Bajunya yang terlihat kusut dan basah akibat keringat. Ia mengambil air dari salah satu sumur di seputaran Jalan Raya Mandala. Ia harus mengantri bersama enam penjual air lainnya. Mereka bergantian mengisi jerigen dalam gerobak yang jumlahnya mencapai 15 buah.

Saat ditemui Jubi Selasa (25/11), Djulhadi menuturkan, sudah lebih 15 tahun, dirinya menggeluti pekerjaan sebagai penjual air. “Dulu kami datang pertama di Kabupaten Merauke mengikuti program transmigrasi dan ditempatkan di Distrik Muting. Hanya saja, beberapa tahun kemudian, saya bersama keluarga memilih ke kota dan langsung menggeluti pekerjaan sebagai penjual air keliling Kota Merauke,” katanya.

Pendapatan yang diperoleh dari berjualan air, hanya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Ya, satu gerobak dengan 15 jerigen berisi air minum, biasanya dijual antara Rp 40.000-Rp 50.000. Memang itu adalah standard yang telah kami sepakati bersama,” tuturnya.

Dalam sehari, demikian Djulhadi, hanya dua sampai tiga kali menghantar air ke para pelanggan. Itupun kalau jarak tempuhnya agak dekat. Kalau jauh, paling hanya dua kali bisa mengambil air di sumur. “Terus terang, belakangan ini, kami kesulitan untuk mendapatkan air minum. Karena beberapa sumur yang biasa digunakan mengambil air, debitnya turun drastis akibat kemarau,” ujarnya.

Dengan kondisi umur juga mempengaruhi pendapatannya, “Lagi pula saya sudah tua dan hanya bisa menghantar air dalam sehari satu sampai dua kali. Ya, tenaga juga terkuras habis akibat mendorong gerobak dengan jerigen berisi air yang jumlahnya mencapai 15 buah,” katanya.

Ditambahkan, pendapatan yang didapatkan setiap hari, hanya untuk membeli beras serta kebutuhan penting lain. “Anak-anak tidak bisa sekolah lantaran uang yang ada tidak mencukupi,” tuturnya lagi.

Hal serupa disampaikan Arman (45) tahun. “Memang setiap hari kami harus antri di salah satu sumur di seputaran Jalan Raya Mandala. Karena banyak sumur mengalami kekeringan. Banyak orang memesan air, hanya dalam sehari kita hanya layani satu sampai dua orang saja,” katanya. (Frans L Kobun)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Menggantungkan Hidup Dari  Berjualan  Air Keliling Merauke