Paska Ditutup Lokalisasi di Biak Timbulkan Masalah

share on:
Sekrtaris KPA Papua, Drh. Constan Karma (bertopi) dan Assisten I Setda Provinsi Papua, Doren Wakerkwa (kanan) Saat Memberi Sambutan pada HAS 2014 di Lapangan Brimob Kotaraja Jayapura (Jubi/Roberth Wanggai)
Sekrtaris KPA Papua, Drh. Constan Karma (bertopi) dan Assisten I Setda Provinsi Papua, Doren Wakerkwa (kanan) Saat Memberi Sambutan pada HAS 2014 di Lapangan Brimob Kotaraja Jayapura (Jubi/Roberth Wanggai)

Jayapura, Jubi – Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, Drh. Constan Karma mengatakan ditutupnya lokalisasi Wapnor di Biak yang dilakukan Bupati terdahulu, Melianus Maryen, justru saat ini menimbulkan masalah, dimana para Pekerja Seks Komersial (PSK) saat ini hidup membaur dengan masyarakat dan kedapatan banyak muncul warung remang-remang dan pantai pijit plus.

“Dulu ada kebijakan Bupati Biak Numfor yang lama yakni tutup lokalisasi Wapnor. Tetapi kebijakan itu tidak diikuti dengan langkah-langkah berikutnya, apakah dipulangkan atau dikembalikan kemana ka. Terpaksa karena ditutup, mereka bisa bebas ada di (tengah) masyarakat,”kata Constan Karma, Senin (1/12) kepada wartawan di Lapangan Brimob Kotaraja pada momentum hari AIDS seduina (HAS) 2014.

Dengan begitu, mereka pada PSK bisa kontrak rumah dan kos-kosan di Kota Biak yang akirnya menimbulkan masalah, bukan menyelesaikan masalah. Karma mengatakan hal ini menjadi problem tersendiri.

“Dan itu sudah diamati, dan Biak (saat ini) angka HIV cukup tinggi,”kata Karma lagi. Anggota DPR Kabupaten Biak periode saat ini, Yan Dance Kbarek mengakui kebijakan ditutupnya lokalisasi Wapnor di Biak oleh Bupati Maryen karena dampak yang ditimbulkan, berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat di Kelurahan Wapnor Biak. (Roberth Wanggai)

Editor : Albert Yomo
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Paska Ditutup Lokalisasi di Biak Timbulkan Masalah