Pengembalian Uang Saksi Korupsi Batik Tak Menghapus Pidana

share on:
Christina Luluporo Usai Diperiksa Penyidik Kejari Jayapura Sebagai Saksi Dugaan Korupsi Pengadaan Batik pada 13 Oktober lalu – Jubi/Arjuna
Christina Luluporo Usai Diperiksa Penyidik Kejari Jayapura Sebagai Saksi Dugaan Korupsi Pengadaan Batik pada 13 Oktober lalu – Jubi/Arjuna

Jayapura, Jubi – Pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua menyatakan, meski dua orang saksi dugaan korupsi pengadaan batik di lingkungan Pemerintah Kota Jayapura sudah mengembalikan sejumlah uang, namun itu tak akan menghapus perbuatan pidana mereka.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Papua, Obed Ansanai mengatakan, meski dua orang saksi yakni Christina Luluporo dan Weniselius sudah mengembalikan uang masing-masing senilai Rp300 juta dan Rp50 juta beberapa waktu lalu, namun bukan berarti mereka bisa bebas dari kemungkinan jeratan hukum.

“Dalam Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi, pengembalikan uang negara tidak akan menghapus perbuatan pidananya. Para tersangka wajib mengembalikan uang negara. Namun tidak akan menghapus perbuatannya. Korupsi itu sifatnya berjamaah. Dilakukan lebih dari satu orang. Maka perbuatan berjamaah itu yang dihukum,” kata Obed Ansanai, Sabtu (6/12).

Menurutnya, ada kejanggalan ketika dua orang saksi itu mengembalikan uang. Mereka kapasitasnya sebagai apa. Keduanya bukan pengguna anggaran atau rekanan.

“Mereka kan hanya saksi. Kenapa harus mengembalikan uang? Jadi sebenarnya peran mereka dalam pengadaan batik itu apa? Kalau mereka mengembalikan uang padahal hanya saksi, ya bisa ditarik benang merah dalam kasus dugaan korupsi itu. Ini berarti sudah ada titik terang,” ucapnya.

Obed menduga, penyidik sebenarnya sudah tahu peran Christina Luluporo yang juga istri Walikota Jayapura itu, bersama saksi lainnya Weniselius dalam kasus tersebut, karena keduanya mengembalikan sejumlah uang.

“Apakah dia pemilik pekerjaan, menyuruh melaksanakan pekerjaan itu, dan menyarankan penunjukan langsung, penyidik sudah tahu itu sebenarnya. Jadi sebaiknya dibuka ke public agar kasus ini jelas dan masyarakat tahu yang sebenarnya. Ini juga aga Kejari Jayapura tidak terkesan tebang pilih dan tertutup dalam penanganan kasus korupsi itu,” katanya.

Pertengahan November lalu, salah satu saksi dugaan korupsi pengadaan batik, Christina Luluporo mengembalikan uang senilai Rp300 juta ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jayapura, Papua, Senin (10/11).

Kala itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Jayapura, Tumpak Simanjuntak mengatakan, uang tunai itu dikembalikan saksi setelah pihak kejaksaan setempat menanyakan apa yang bersangkutan berhak atas rupiah tersebut.

“Setelah kami menanyakan apakah saudara berhak atas uang itu, yang bersangkutan mengembalikan. Uang itu sudah kami titipkan di Bank Mandiri,” kata Kajari Tumpak ketika itu.

Menurutnya, sebelum Christian Luluporo mengembalikan uang, terlebih dahulu salah satu saksi lainnya Weniselius mengembalikan uang senilai Rp50 juta. (Arjuna Pademme) 

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pengembalian Uang Saksi Korupsi Batik Tak Menghapus Pidana