JDP: Mencari Solusi Komprehensif untuk Papua

share on:
Dr. Neles Tebay, Pr (Jubi/Aprila)
Dr. Neles Tebay, Pr (Jubi/Aprila)

Abepura, Jubi – Demi menghindari konflik yang berkepanjangan di Papua di kemudian hari, seperti kejadian di Enarotali, Paniai pada 8 Desember lalu, Jaringan Damai Papua (JDP) mengajak semua pihak berfikir mencari solusi komprehensif tanpa saling menyalahkan satu sama lain.

“Saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah,” kata kordinator JDP, Pastor Neles Tebay Pr kepada Jubi Selasa (9/12) lalu.

Karena itu, menurut Tebay, semua pihak mendesak Presiden Jokowi membentuk tim independen untuk melakukan investigasi secara menyeluruh dan mengumumkan kepada publik untuk mencari solusi yang menyeluruh dalam mengakhiri dan mencegah kekerasan di Tanah Papua.

Investigasi satu hal yang peting karena penembakan terhadap warga sipil di Enarotali ini bukan hal pertama. Penembakan warga sipil di kabupaten Paniai sudah banyak kali terjadi di masa lalu, sejak tahun 1969 hingga kini. Semua keluarga di kabupaten Paniai pernah mengalami kehilangan anggota keluarga mereka, entah suami, isteri, dan anak.

Katanya, masyarakat bisa menunjuk tempat dimana saudara mereka dibunuh, atau dianiaya. Hati mereka sudah dilukai berkali-kali sehingga pada suatu saat apabila mereka tidak bisa menahannya lagi, mereka dapat menuntut pertanggungjawaban dari pihak TNI dan POLRI. Tuntutan seperti itulah yang mereka lakukan hari Senin (8/12) lalu. Mereka berdemonstrasi menuntut penjelasan dari pihak TNI dan POLRI atas penganiayaan terhadap seorang pemuda di pondok natal.

Pihak yang menganiaya perlu menjelaskan kepada rakyat bahwa mereka mempunyai hak untuk melakukan penganiayaan sesuai hukum dan perundang-undangan Indonesia. Tanpa penjelasan, tindakan penganiayaan akan ditafsirkan secara berbeda-beda.

Menurutnya, selama ini orang Papua di Kabupaten Paniai dipandang dan dicurigai sebagai separatis yang adalah musuh negara. Pada masyarakat, dikenakan stigma separatis. Dengan stigma ini, masyarakat tidak mampu melakukan perlawanan karena takut dituduh sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau pendukung OPM. Dengan stigma ini, mereka dilumpuhkan hingga tidak berdaya. Karena takut, mereka tidak berdaya untuk melakukan perlawanan terhadap berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan. Mereka seakan hidup sebagai orang jajahan dalam Republik Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat setempat tidak dapat mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitasnya karena selalu hidup dalam ketakutan. Hal ini tidak membantu perkembangan diri sebagai warga Negara Indonesia. Maka pemerintah perlu mencari solusi yang tepat untuk mencabut akar penyebab dari adanya separatisme di Tanah Papua.

“Apabila pendekatan kesejahteraan sudah diperlakukan untuk Provinsi Papua, maka kehadiran aparat keamanan secara fisik harus dikurangi di semua tempat. Di setiap kecamatan cukup dibentuk Koramil. Tidak perlu ditempatkan anggota batalyon infantri atau anggota Brimob. Apabila kehadiran dan dominasi aparat kemanan, TNI dan POLRI, masih kelihatan secara fisik, maka rakyat tidak akan percaya pada pendekatan kesejahteraan yang dipromosikan oleh Pemerintah,” kata Tebay.

Apabila ditemukan masalah keamanan, tambah Pastor Neles, maka penempatan pasukan non-organik TNI tidak boleh dipandang sebagai solusi. Solusi terhadap masalah keamanan dapat ditemukan melalui suatu dialog yang melibatkan pemerintah dan orang Papua. Maka kedua belah pihak mesti membuka diri untuk terlibat dalam dialog. Melalui dialog ini kedua belah pihak secara bersama dapat mengidentifikasi akar masalahnya, dan menetapkan secara bersama solusi-solusi yang diterima semua pihak.

Insiden penembakan yang terjadi di Paniai, awal pekan ini mengakibatkan lima orang meninggal dan terluka. Empat dari lima korban tewas adalah siswa SMA. Alpius Youw (17), adalah siswa SMA Yayasan Pendidikan Pelayanan Katholik (YPPK) Enarotali, Paniai. Yulian Yeimo yang berusia 17 tahun merupakan siswa SMA Yayasan Pendidikan Pelayanan Gereja Indonesia (YPPGI), Enarotali, Paniai. Simon Degei (18), tercatat sebagai siswa di SMA Negeri 1, Paniai Timur, Enarotali, Paniai dan Alpius Gobai (17), siswa SMA Negeri 1, Paniai Timur, Enarotali, Paniai. Sedangkan satu korban tewas lainnya adalah Abia Gobai (28), petani dari Enarotali yang meninggal setelah dibawa ke RSUD Madi, Paniai.

Pihak aparat keamanan Indonesia menolak dituduh sebagai pelaku penembakan tersebut. Mereka mensinyalir  gerakan separatis OPM sebagai pelaku penembakan.

“Ada kemungkinan separatis. Saya tidak menuduh. Ada kemungkinan ke situ,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Fuad Basya, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (11/12).

Menurut Fuad, lokasi terjadinya perkelahian antara sekelompok orang tak dikenal dengan sekelompok pemuda di daerah Pondok Natal, sehari sebelum terjadinya bentrokan, merupakan lokasi yang rawan. Kelompok orang yang tak dikenal tersebut mungkin saja merupakan orang dari kelompok separatis yang ingin melakukan provokasi.

“Ini akan terjawab setelah penyelidikan selesai. Siapa yang melakukan provokasi ini,” kata Fuad. (Mawel Benny)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  JDP: Mencari Solusi Komprehensif untuk Papua