Waket Pokja Perempuan MRP Mengaku Tak Pernah Lihat Kaum Laki-Laki Migani di Gereja

share on:
Ciska Abugau, Wakil Ketua Pokja Perempuan MRP. (Jubi/Arnold Belau)
Ciska Abugau, Wakil Ketua Pokja Perempuan MRP. (Jubi/Arnold Belau)

Jayapura, Jubi – Wakil Ketua Pokja Perempuan Majelis Rakyat Papua, Ciska Abugau menegaskan kepada pemerintah Daearah kabupaten Intan Jaya, provinsi Papua, agar tidak memandang sebelah mata peran perempuan Migani.

“Kami berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pemerintah daerah Intan Jaya. Karena sudah membangun daerah dengan baik. Walaupun ada banyak hal yang masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan,” katanya kepada Jubi (10/12).

Menurut Ciska, pembangunan yang sudah dikerjakan pemerintah daerah sudah cukup baik. Contoh, pembangunan jalan sudah nampak. Dan itu sudah menunjukan sebuah langkah maju pembangunan Intan Jaya. Tetapi, pekerjaan rumah yang harus dikerjakan mulai dari kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan masih menjadipekerjaan rumah pemda.

Namun, dirinya mengaku sangat kecewa dengan satu kebijakan yang tidak mengakomodir perempuan. Dimana, jelas Abugau, baru-baru ini, pemerintah merekrut 28 orang untuk melakukan wisata rohani ke tanah suci, Yerusalem.

“Saya sebagai perempuan Migani yang berasal dari Intan Jaya sangat kecewa. Karena dalam tim yang berangkat itu (wisata rohani – red) tidak ada satu orang pun perempuan yang disertakan. Ini yang menjadi pertanyaan sendiri untuk saya,” Ungkapnya.

Tindakan ini menurut dia, adalah soal ketidakadilan yang dilakukan oleh pemda terhadap kaum perempuan.

“Saya heran, selama saya turun ke daerah, tidak pernah melihat satu batang hidung pun laki-laki yang aktif di gereja-gereja. Yang ada hanya kaum perempuan dan anak-anak saja. Laki-laki itu tahunya urus masalah-masalah yang tak jelas,” katanya.

Masih lanjut Abugau, “Apakah sebelum berangkat itu dilakukan tes sehingga membuat mama-mama Migani di Intan Jaya tidak ada yang lolos untuk berangkat, maka yang berangkat hanya laki-laki saja? Ini yang namanya pemojokkan terhadap kaum perempuan Papua, terutama perempuan Intan Jaya,” ungkapnya kecewa.

Untuk itu, Abugau berharap, ini menjadi pelajaran yang berharga untuk pemerintah daerah Intan Jaya. Kedepannya, diminta tidak mengulangi hal yang sama. Dan harus melibatkan perempuan di segala bidang, agar perempuan juga bekerja dan tunjukkan potensi yang dimilikinya.

“Jangan hanya tahu mendiskriminasi perempuan. Tetapi bukti yang ditunjukkan sama saja. Tidak ada yang menunjukkan itu hasil karya seorang laki-laki,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu peserta wisata rohani ke tanah suci yang enggan dimediakan namanya, saat dihubungi lewat telepon genggamnya, kepada jubi membenarkan bahwa memang dalam tim itu tidak ada kaum perempuan.

“Benar, kami semua yang berangkat hanya laki-laki. Tidak ada perempuan. Kami yang berangkat semua ada 28 orang. Yang terdiri dari, 18 orang dari gereja dan 10 orangnya adalah dokter, wartawan dan tim dari pemda,” ungkapnya.

“Saya juga dari awal protes tetapi memang ini karena dipilih oleh pemerintah daerah, jadi saya terpaksa ikut,” katanya kepada Jubi. (Arnold Belau)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Waket Pokja Perempuan MRP Mengaku Tak Pernah Lihat Kaum Laki-Laki Migani di Gereja