Biaya Usaha Tanaman Kakao Paling Besar Dibanding Sawit

share on:
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, Didik Koesbianto. Jubi/Alex
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, Didik Koesbianto. Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Didik Koesbianto mengatakan secara umum rata-rata jumlah biaya untuk kegiatan usaha tanaman kakao paling besar dibandingkan dengan kelapa sawit, karet dan kopi.

Dimana tata-rata jumlah total biaya usaha untuk tanaman kakao selama setahun mencapai 73,78 persen dari nilai produksi Rp 26,7 juta. Sementara untuk komoditas kelapa sawit rata-rata jumlah biaya selama setahun jika dibandingkan dengan nilai produksi mencapai 68,67 persen (Rp 5,99 juta) dan kopi sebesar 63,57 persen (Rp 2,98 juta). Sedangkan untuk tanaman karet biaya produksi per hektar mencapai 37,18 persen (6,24 juta).

“Dari hasil ini secara relatif kegiatan usaha tanaman karet lebih menguntungkan dibandingkan komoditas kelapa sawit, kakao dan kopi,” kata Didik Koesbianto kepada wartawan, di Jayapura, Papua, Selasa (23/12).

Menurut Didik, pada komoditas karet sebagian besar biaya digunakan untuk membayar upah tenaga kerja sebesar 75,61 persen dengan jenis kegiatan terbesar berada pada proses pemanenan yang mencapai 69,16 persen dari seluruh total biaya.

Sementara jenis pengeluaran lain yang juga cukup besar di struktur pengeluaran komoditas karet adalah sewa lahan yang mencapai 15,49 persen. Sementara itu biaya yang digunakan untuk sewa alat dan sarana sebesar 5,16 persen, biaya yang lain yang digunakan untuk benih/penyiapan/pelindung sebesar 0,16 persen dan pengeluaran lainnya 0,50 persen.

“Struktur pengeluaran komoditas tanaman kelapa sawit, kakao dan kopi secara relatif memiliki kesamaan dengan kegiatan tanaman karet, namun untuk tanaman kopi pengeluaran sewa lahan menghabiskan porsi terbesar kedua setelah pengeluaran tenaga kerja yang mencapai 44,52 persen dari total biaya,” katanya.

Sebelumnya. Kepala Dinas Perkebunan Papua, Jhon Nahumury mengatakan tanaman kakao merupakan produk yang menjadi unggulan di Provinsi Papua. Untuk itu, upaya peremajaan dan rehabilitasi kebun kakao sangat diperlukan dan perlu dukungan pemerintah, termasuk melalui program pemerintah Pusat dalam bentuk bantuan sarana dan prasarana.

Sementara soal luasan kebun kakao yang perlu dilakukan rehabilitasi atau peremajaan, diakui Nahumury, memang jumlahnya cukup banyak di Papua.

“Kebun-kebun yang perlu direhabilitasi ini luasnya cukup banyak, hanya saya belum tahu persis berapa jumlahnya. Namun kami sangat mendukung program Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan menganggarkan dana sebesar Rp 1,2 triliun untuk rehabilitasi dan perbaikan tanaman Kakao di seluruh Indonesia,” kata Nahumury. (Alexander Loen)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Biaya Usaha Tanaman Kakao Paling Besar Dibanding Sawit