Kisah Tukang Ojek Pelintas Batas, Berjualan Sembako

share on:
Motor yang biasa digunakan untuk menjual sembako ke Negara PNG. (Jubi/Frans L Kobun)

Merauke, Jubi- Kurang lebih 30 kendaraan roda dua bolak balik dari Ibukota Distrik Sota menuju ke Kampung Weriabe, Negara Papua Nugini. Perjalanan  hingga sampai ke kampung tersebut, mencapai kurang lebih 15 kilometer dengan waktu bisa mencapai dua jam lamanya.

Waktu tempuh yang sedikit lama itu, lantaran ruas jalan yang dilalui hanya setapak dan harus membawa barang bawaan berupa sembilan bahan pokok (sembako) yang menjadi kebutuhan warga di negara tetangga tersebut. ‘Jalan tikus’ menjadi alternatif satu-satunya untuk mengais rezeki di sana. Setiap hari, para tukang ojek itu harus bolak balik dengan membawa sejumlah kebutuhan itu.

Meskipun ruas jalanan yang sempit dan melalui hutan, namun saban hari para tukang ojek menghabiskan waktu dengan berjualan di kampung tersebut. Kegiatan dan atau aktivitas itu, sudah dijalani sejak belasan tahun silam.

Koordinator Tukang Ojek Sota, Musa Dimar kepada Jubi Senin (22/12) menuturkan, selama ini yang terdaftar, hanya sembilan motor beroperasi menuju ke Kampung Weriabe-PNG. Sedangkan lainnya belum terdaftar. Meski tak terdaftar, setiap hari mereka tetap beroperasi sebagaimana biasa dari Sota dengan membawa sembako sekaligus berjualan di sana.

Biasanya, lanjut Musa, mereka dilengkapi dengan pass jalan tradisional yang diberikan oleh petugas Kantor Imigrasi Kabupaten Merauke. “Ya, dengan pass itu, kami dengan leluasa dapat keluar masuk ke PNG sekaligus membawa beberapa kebutuhan pokok untuk dijual,” tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan, meskipun tidak ada pelanggan tetap yang membeli barang sembako dagangan dari Sota, namun warga PNG sudah mengetahui. Sehingga dalam beberapa jam kemudian, sembako habis terjual. “Memang warga disana menggunakan mata uang kina,” ujarnya.

Setelah mendapatkan uang kina tersebut, lanjut dia, kina langsung digunakan lagi membeli ikan, daging rusa, gelembung ikan, lombok serta beberapa hasil alam lain dari warga PNG. Jadi, yang dibawa pulang dari sana juga barang dagangan untuk dijual kembali kepada warga di Sota.

Ya, biasanya setiap hari, modal yang kami gunakan untuk belanja sembako sekitar Rp 500.000. Setelah sampai disana, harga barang tidak dijual mahal juga. Paling kami hanya untung antara Rp 1.000-Rp 2.000 untuk satu jenis barang. Karena memang di sana, terdapat beberapa keluarga yang sudah menjadi warga PNG,” katanya lagi.

Ditanya apakah sejauh ini ada kesulitan dihadapi, Musa mengaku tidak ada. Karena selalu dibekali dengan kartu pelintas dan masyarakat di PNG juga sudah mengetahui aktivitas yang dijalankan para tukang ojek setiap hari. Mereka merasa sangat terbantu dengan sembako yang dibawa kesana.

Secara terpisah Kepala Distrik Sota, Mike Walinauluk mengakui jika ada beberapa tukang ojek selalu membawa sembako ke negara tetangga tersebut sekaligus berjualan. Setelah itu, langsung pulang ke Sota. Jadi, hanya sehari saja mereka di sana.

Selain itu, katanya, banyak warga PNG juga datang di Sota dengan mengendarai sepeda bahkan berjalan kaki untuk berbelanja sejumlah kebutuhan pokok. Setelah itu, pulang ke negara asalnya. (Frans L Kobun)

 

Tags:
Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kisah Tukang Ojek Pelintas Batas, Berjualan Sembako