Cuaca Buruk, Tak Melaut, Nelayan Rugi Ratusan Juta Rupiah

share on:

Kupang, Jubi/Antara – Tidak melautnya para nelayan yang bermukim di sepanjang pesisir Oeba dan di sepanjang pendaratan ikan, Kota Kupang, sebagai akibat cuaca buruk, telah berdampak kepada kerugian materil hingga mencapai ratusan juta rupiah.

“Biasanya dalam sehari setiap kali melaut, kami bisa mendapatkan keuntungan Rp10 juta. Namun dalam kondisi cuaca seperti ini, kami tidak berani melaut karena itu kami alami kerugian,” kata seorang nelayan Kristo Gago, di Kupang, Sabtu (3/1).

Dia mengaku, bersama ratusan nelayan lainnya tidak bisa melaut, sebagai akibat dari cuaca buruk yang tidak menentu, berupa hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang dan gelombang tinggi.

Menurut dia, para nelayan tidak berani mengambil risiko dengan kondisi cuaca tersebut, karena bukan tidak mungkin akan berdampak kepada kerugian, baik kerugian material akibat rusak atau tenggelamnya alat tangkap, juga korban jiwa.

“Kami tidak berani paksakan diri untuk melaut dengan kondisi cuaca buruk seperti ini. Kami sangat takut dengan segala musibah yang akan terjadi,” kata Kristo.

Dia mengatakan, untuk mengisi waktu selama tidak melaut, para nelayan melakukan pembersihan dan perbaikan sejumlah alat tangkap yang ada, agar bisa kembali normal sehingga pada saat kondisi normal, aktivitas tangkapan bisa berjalan baik.

“Kami berharap cuaca bisa segera kembali normal, agar kami bisa segera melakukan aktivitas penangkapan, demi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, ada sekitar ratusan kapal nelayan diparkir di tempat pendaratan ikan, untuk menghindari gelombang yang dipastikan akan merusak kapal-kapal tersebut.

Data dari Stasiun Meteorologi El Tari Kupang menyebutkan bahwa hujan disertai angin kencang menyebabkan tinggi gelombang maksimum di perairan Selatan Nusa Tenggara Timur mencapai 5,0 meter.

Kondisi ini memicu hujan terjadi hingga tiga hari ke depan dan gelombang tinggi berpotensi terjadi hingga sepekan ke depan, terutama di perairan bagian selatan seperti Laut Sawu bagian selatan, Laut Timor, Selat Rote dan Samudera Hindia Selatan NTT.

Stasiun Meteorologi El Tari Kupang memprakirakan enam hari ke depan menunjukkan tinggi gelombang maksimum dengan 5,0 – 6,0 meter itu terjadi di Perairan Selatan Pulau Sumba, Samudera Hindia Selatan Nusa Tenggara Timur, Selat Sape, Selat Sumba dan Perairan Utara Pulau Flores yang selama ini dilalui kapal penyeberangan antarpulau di wilayah ini.*

Editor : Victor Mambor
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Cuaca Buruk, Tak Melaut, Nelayan Rugi Ratusan Juta Rupiah