Minuman Lokal “Kava”: Media Kampanye dan Suap Pemilu di Tonga

share on:

(kava
Jayapura, Jubi – Salah satu kandidat pemilihan umum di Tonga meminta Komisi Pengawas Pemilu mengawasi pelaksanaan kampanye di klub-klub Kava—minuman lokal di beberapa negara di Pasifik.

Minuman lokal tersebut ditengarai menjadi media mengumpulkan pendukung untuk memperoleh suara serta berpotensi dilakukannya suap untuk memenangankan ajang pemilu.

Laporan Radio New Zealand edisi Rabu (7/1) menyebutkan, calon gagal dalam pemilihan Tonga, Mele Amanaki, mengatakan beberapa kandidat telah melakukan kegiatan di bar-bar di mana minuman tradisional yang memabukan adalah melanggar Undang-undang Pemilu.

Dalam laporannya, Mele Amanaki meminta Komisi Pemilihan memeriksa beberapa kandidat yang telah memenangkan pemilu. Satu dari tiga yang dilaporkan adalah wakil Perdana Menteri Tonga, Siaosi Sovaleni.

Dua kandidat yang berhasil lainnya adalah Tevita Palu dan William Clive Edwards.

Menurut Mele Amanaki, berkumpul di klub kava menjadi cara yang digunakan oleh kandidat laki-laki dalam jangka waktu yang panjang—sampai pemilihan. Itu salah satu keluhan yang menjadi pusat belanja kampanye dan penyuapan.

“Seorang calon perempuan hanya bisa pergi ke sana untuk waktu singkat guna memberikan pidato, dan hanya itu. Tetapi, kandidat laki-laki bisa pergi dan duduk di sana sepanjang malam dan minum kava dengan laki-laki. Ini kontribusi yang mereka buat untuk klub, di situlah keluhan, jumlah uang yang mereka kontribusikan ke klub,” kata Amanaki.

Mele Amanaki merupakan salah satu dari 16 perempuan yang gagal dalam pemilihan Desember 2014 lalu. (Yuliana Lantipo)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Minuman Lokal “Kava”: Media Kampanye dan Suap Pemilu di Tonga