Masyarakat Enggan Tinggalkan Lokasi Baliem Cottage

share on:
Pembongkaran kawasan Baliem Cottage di Wamena yang selama ini dijadikan lingkungan pembuatan minuman lokal. Jubi/Islami
Pembongkaran kawasan Baliem Cottage di Wamena, Rabu (8/1) pekan lalu. Jubi/Islami

Wamena, Jubi – Pasca penggusuran beberapa bangunan di lokasi Baliem Cottage oleh pemerintah Kabupaten Jayawijaya, masyarakat yang mendiami lokasi tersebut masih enggan keluar dari bangunan bekas restaurant dan tempat karaoke tersebut.

Usai pembongkaran lokasi Baliem Cottage yang dinilai sebagai sentra pembuatan minuman keras lokal (milo), masyarakat yang bermukim di lokasi ini sudah membangun rumah sementara yang terbuat dari tripleks dan kayu beratap terpal sebagai tempat tinggal mereka.

Masyarakat yang tinggal di Baliem Cottage menyesalkan pembongkaran tersebut. Mereka menilai pembongkaran ini membunuh hak dari masyarakat kecil.

“Pemerintah Jayawijaya tidak sopan dan tidak hargai masyarakat, sebab bangunan yang ada main langsung rubuhkan,” kata Hiron Kosay salah satu masyarakat yang tinggal di lokasi Baliem Cottage ketika ditemui wartawan, Senin (12/1).

Menurut Hiron Kosay, lokasi dan tanah Baliem Cottage merupakan miliknya serta keluarga besar lainnya, sehingga lokasi tersebut tidak diperjualbelikan.

“Waktu pembongkaran kami katakan bahwa aset pemda boleh bawa keluar, tapi setelah itu kami akan bangun rumah lagi dan sekarang kami sudah bangun rumah lagi, karena ini tanah kami,” jelas Hiron.

Lebih jauh Hiron mengatakan, dirinya bersama keluarga yang lain akan bertemu dengan kepala pertahanan Kabupaten Jayawijaya, guna memperjelas status keberadaan lokasi Baliem Cottage.

“Kami mau bertemu kepala pertanahan untuk cek langsung jika tanah ini sudah pelepasan secara nasional dan prona, kalau tidak kami akan gugat dan masalah ini. LMA sudah mengetahuinya, dan hal ini sudah bicarakan tapi Bupati tidak ada tanggapan,” kata Hiron.

Sementara itu salah satu warga lainnya, Alfons Kosay menjelaskan, sebelum melakukan pembongkaran dan penggusuran, pihak pemerintah telah berjanji untuk melakukan koordinasi dengan warga setempat, namun sampai saat ini belum ada koordinasi yang baik dengan masyarakat yang tinggal di lokasi tersebut.

“Mereka datang kasih hancur dan tidak tanya-tanya dulu, kami ini kan bukan pengungsi, biar pemerintah datang kami tetap di sini,” kata Alfons.

Sebelumnya, Rabu (8/1) Pemda Jayawijaya membongkar bangunan Baliem Cottage yang selama ini dihuni oleh masyarakat sipil dengan mengerahkan sebuah alat berat, dengan dikawal oleh petugas Sat Pol PP dan juga aparat kepolisian.

Sekda Jayawijaya, Yohanes Walilo yang hadir saat pembongkaran menjelaskan, penggusuran itu dilakukan karena tempat Baliem Cottage hendak dibangun rumah dinas eselon II dan rumah bupati.

“Salah satu titik produksi minuman lokal (milo) itu di sini (Baliem Cottage, red) oleh karena itu kami gusur karena ini masih aset milik pemda,” katanya.

Diakui Sekda, masyarakat yang menghuni Baliem Cottage pun masuk tanpa ada ijin resmi dari pemerintah. Meski demikian, kata Sekda, masyarakat yang menghuni Baliem Cottage keberatan dengan pembongkaran yang dilakukan dengan alasan, mereka sudah lama tinggal.

“Menyangkut tanah, mereka sampaikan punya surat-suratnya tetapi itu kita akan lihat tersendiri berkasnya,” kata Walilo. (Islami)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Masyarakat Enggan Tinggalkan Lokasi Baliem Cottage