NTB Fokus Benahi Sektor Pendidikan dan Kesehatan

share on:

Mataram, Jubi/Antara – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada 2015 memfokuskan pembenahan sektor pendidikan dan kesehatan guna meningkatkan indeks pembangunan manusia yang kini berada di urutan 33 dari 34 provinsi di Indonesia.

“Ini yang menjadi salah satu titik penekanan yang disampaikan gubernur NTB dalam rapat pimpinan bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD),” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda NTB Fathul Gani di Mataram, Senin (12/1).

Kata dia, dalam upaya meningkatkan di kedua sektor tersebut. Pemprov NTB sesuai arahan gubernur akan menindaklanjuti dengan melakukan pengurangan dan efisiensi anggaran, terutama pada sektor yang dianggap tidak memberikan efek yang menyentuh langsung kepada masyarakat.

Dalam arti, kata dia, seluruh anggaran yang tidak langsung berkaitan dengan pelayanan terhadap masyarakat akan dialihkan untuk melaksanakan program pemberdayaan pendidikan dan kesehatan, sehingga diharapkan kedepan indeks pembangunan manusia (IPM) di provinsi ini bisa lebih baik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat urutan indeks pembangunan manusia (IPM) NTB tahun 2012-2013 masih berada pada posisi kedua terendah dari 34 provinsi di Indonesia.

Kepala BPS NTB H Wahyudin, mengatakan penyebab masih rendahnya IPM NTB karena masih lemah di sektor kesehatan dan pendidikan masyarakat.

“Dari tiga indikator yang menjadi alat ukur IPM, hanya ekonomi yang paling bagus, sedangkan dimensi kesehatan dan pendidikan masih perlu ditingkatkan,” katanya.

Posisi IPM NTB, kata dia, berada di atas Provinsi Papua yang berada di urutan paling rendah di Indonesia, namun NTB berada di bawah Provinsi Papua Barat.

Menurut dia, NTB masih kalah dengan Papua Barat dari segi dimensi kesehatan. Sektor ini masih perlu mendapat perhatian karena masyarakat NTB masih ada yang buang air besar sembarangan.

Sementara dari sisi rumah sehat, NTB sudah hampir sama dengan Provinsi Papua Barat. NTB hanya unggul dari sisi pemanfaatan sarana kesehatan dan peran serta rumah tangga terhadap sanitasi lingkungan dibanding dengan Provinsi Papua Barat.

Wahyudin menambahkan, secara absolut, jumlah tenaga medis, perawat dan bidan di NTB, relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain, tetapi rasio tenaga kesehatan (per 100.000) justru lebih rendah. “Ini artinya NTB masih kekurangan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Dari dimensi pendidikan, kata Wahyudin, persentase penduduki usia 15 tahun ke atas yang belum pernah sekolah relatif tinggi, sehingga menyumbang angka masyarakat buta huruf.

Demikian juga dengan angka “drop out” atau putus sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas masih relatif tinggi, terutama pada jenjang sekolah dasar.
“Penduduk usia 15 tahun ke atas yang berijazah minimal sekolah dasar di NTB, relatif rendah dibanding wilayah lain,” kata Wahyudin.

Pemerintah Provinsi NTB, menurut dia, sudah berupaya untuk menggenjot ranking IPM, melalui berbagai program, seperti pembelajaran bagi warga buta aksara dan bantuan pembangunan jamban gratis, namun daerah lain juga melakukan hal yang sama, sehingga belum ada perubahan urutan IPM.

Meskipun demikian, kata Wahyudin, NTB harus tetap berupaya melakukan pembenahan untuk meningkatkan IPM, terutama dari dimensi kesehatan masyarakat dan sektor pendidikan. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  NTB Fokus Benahi Sektor Pendidikan dan Kesehatan