OPM Markas Victoria, Lamber Pekikir: Letakan Senjata,Kita Dialog

share on:
Lambertus Pekikir (Jubi/Mawel Benny)
Lambertus Pekikir (Jubi/Mawel Benny)

Abepura, Jubi – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) markas Victoria ingin menyelesaikan konflik Papua melalui dialog. TPNPB mengajak militer Indonesia meletakan senjata dan duduk bersama mencari solusi damai.

Pernyataan itu disampaikan Panglima TPNPB, wilayah Keerom, dari Markas Victoria, Lamber Pekikir kepada Jubi di Jayapura, Papua, Selasa (13/1). Ini petikan wawancara wartawan Jubi dengan Pekikir.

Apa tangapan bapa mengenai pertemuan yang menghasilkan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di Vanuatu?
OPM markas Victoria tidak ikut terlibat dalam pertemuan itu tetapi saya minta terima kasih Vanuatu mengambil kebijakan itu, hanya yang saya sesalkan itu kurang komunikasi. Masa, saya tidak dihadirkan, Goliat Tabuni, Matias Wenda tidak dihadirkan. Kita ini yang tahan dalam hutan rimba. Jadi pertemuan di Vanuatu bagus dan benar tetapi Markas Victoria mengambil langkah baru karena itu diluar negeri harus menghargai itu.

Apa langkah yang diambil markas Victoria?
Sebuah persoalan, pertikaian itu tidak bisa diselesaikan kalau kita tidak ketemu. Jadi Victoria mengambil satu kebijakan bagaimana soal konflik kita selesaikans secara damai atau dialog. Jadi saya juga harap semua elit politik, semua diplomat-diplomat yang ada diluar mari kita dukung jalan ini. Saya kira hal ini yang bagus, baru kita munculkan dan harus mendapat dukungan dari semua.

Lalu bagaimana dengan wadah politik lain?
Saya tidak persoalkan wadah apapun. Wadah baru yang dibentuk. Apapun wadah, dilahirkan dari bentuk mana? Dia lahir karena dasar apa? Saya tidak tahu tapi semua komponen yang bicara hak Papua merdeka itu mari kita bicara dalam satu meja bersama-sama dengan pemerintah Indonesia dan kita mencari solusi di situ.

Mengapa bapak kini mendukung dialog?
Saya dulu orang yang paling keras menolak dialog antara Papua Jakarta, tetapi saya melihat persoalannya. Kita kembali kepada sejarah bahwa sebenarnya kita berkelahi, kita bicara diluar negeri itu dunia bebas. Itu paling, saya suruh kamu berkelahi di situ. Saya sendiri ada di dunia bebas to. Sembunyi disana. Sayang rakyat kecil yang korban. Jadi saya membangun satu strategi baru bagaimana kita harus dekat dengan Indonesia dan kita duduk dalam satu meja.

Dialog model apa yang bapa inginkan?
Mari kita duduk sama-sama dengan Indonesia. Entah itu di dalam NKRI atau diluar NKRI tidak ada persoalan yang penting kita bisa duduk dalam satu meja. Saling mengungkapkan isi hati. Kita ini berjuang karena dendaman, ketidakpuasan. Saya OPM. Saya bicara ini karena PEPERA. Kamu tidak jujur sama saya, tidak adil. Ini ketikdakpuasan. Ok kita bicara di meja. Harus duduk dengan Indonesia. Kita harus bicara terhormat, demokratis dan bebas.

Kalau mengambil langkah dialog, apakah sudah tidak angkat senjata lagi?
Bapak tidak bisa menjawab itu tergantung masyarakat. Kalau masyarakat bertindak, ada kekerasan pasti bapak angkat senjata tetapi bapa hari ini sudah taruh senjata dan saya mau bicara dengan Indonesia. Mari kita duduk dalam satu meja.

Kalau bapak sudah letakan senjata, bagaimana dengan militer Indonesia?
Indonesia turunkan senjata,merendahkan hati. Sama-sama letakan senjata dan kita bicara di atas satu meja tadi. Presiden Jokowi sudah umumkan to..Ah ini, ruang untuk kita duduk.

Apakah pihak lain perlu terlibat dalam dialog ini?
Yang konflik itu Indonesia dan Papua. Jadi jangan pergi lari ke luar negeri, sembunyi di hutan tetapi harus ada pihak ketiga, harus libatkan gereja, LSM dan nNegara-negara tetangga sebagai saksi dari pertemuan itu.

Apa hasil dialog yang bapak harapkan?
Bapak tidak bisa ungkapkan hasilnya. Saya hanya siap. Hanya dalam hati ini manusia Papua hidup.

 

Sementara itu, sekretari Dewan Adat Papua, wilayah Lapago, Engelbertus yang dihubungi Jubi mengatakan pihak bersedia bila dialog yang dimediasi pihak ketiga.

Apakah DAP setuju ada dialog dengan Jakarta?
Sebelum kongres Papua III, DAP full dukung dialog Papua-Jakarta tetapi setelah kongres, posisi tawar berubah. Kita minta negosiasi atau perundingan antar negera. Pemerintah dan pemerintah.

Tetapi, apakah bapak setuju ada ruang untuk pemerintah Indonesia dan Papua duduk dialog?
Kami setuju kalau itu ada pihak ketiga yang netral yang memediasi. (Mawel Benny)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  OPM Markas Victoria, Lamber Pekikir: Letakan Senjata,Kita Dialog