BNN NTT Rehabilitasi 26 Pengguna Narkoba

share on:

Kupang, Jubi/Antara – Badan Narkotika Nusa Tenggara Timur hingga Januari 2015 telah merehabilitasi 26 korban pengguna narkoba dan dilakukan di panti rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Baddoka, Sulawesi Selatan, dan Lido, Bogor, Jawa Barat.

“Karena hingga saat ini Badan Narkotika Nusa Tenggara Timur belum memiliki panti rehabilitasi, maka para korban narkoba yang ada kami kirim ke dua tempat rehabilitasi tersebut,” kata Kepala Badan Narkotika Nusa Tenggara Timur Alo Dando di Kupang, Rabu (21/1), menjawab proses rehabilitasi korban narkoba di daerah tersebut.

Menurut Alo, selain mengirim para korban narkoba untuk direhabilitasi di dua lokasi tersebut, Badan Narkotika Nusa Tengga Timur juga melakukan kerja sama dengan sejumlah yayasan peduli korban narkotika dan obat-obat terlarang di daerah itu.

Sedikitnya, kata Alo, ada empat yayasan dan rumah singgah yang menjadi bagian kerja sama Badan Narkotika Nusa Tenggara Timur untuk melakukan sejumlah langkah pemulihan baik fisik dan mental para pengguna narkotika dan obat terlarang.

“Jadi jika masih bisa dilakukan pemulihan secara psikologis dan fisik, maka akan dilakukan di sejumlah yayasan dan rumah singgah itu, tanpa harus direhabilitasi di Baddoka dan Lido,” katanya.

Dia menyebut, empat yayasan dan rumah singgah itu, masing-masing Yayasan Tanpa Batas (YTB) di Kupang, Yayasan Bangkit, Yayasan Warna Kasih serta Rumah Doa Kineru di Atambua.

Untuk Yayasan Tanpa Batas di Kupang, kata Alo, para korban narkoba, akan didampingi secara psikologis dan melakukan advokasi masyarakat agar para korban narkotika bisa kembali hidup normal. Selain itu, lanjut dia, di Yayasan Tanpa Batas juga memiliki klinik untuk melakukan pemerikasaan fisik terhadap para korban pengguna narkotika tersebut.

Hal sama juga untuk Yayasan Bangkit dan Yayasan Warna Kasih di Kota Kupang. Khusus untuk Yayasan Warna Kasih, juga akan dilakukan pengobatan dengan bentuk spiritual bagi korban narkoba, dengan pola pengolahan napas korban narkotika itu. Sedangkan untuk Rumah Doa Kineru di Atambua, Kabupaten Belu, wilayah batas RI-Timor Leste, dilakukan dengan cara berdoa, dengan menekankan peneguhan iman korban narkotika.

“Dengan semua yayasan itu, kami melakukan kerja sama untuk menjalankan penanganan terhadap korban narkotika yang berada di daerah dan wilayah masing-masing sesuai dengan tingkat kecanduan para korban. Jika memang sangat parah dan butuh rehabilitasi maka akan dikirim ke rumah rehabilitasi,” kata Alo.

Sementara itu, Ketua Yayasan Tanpa Batas (YTB) Deny Sailana yang dihubungi terpisah mengaku telah melakukan tindakan konseling dan pemeriksaan klinik fisik bagi 35 korban pengguna narkotika di daerah ini.

Menurut Deny, pola tindakan konseling yang dilakukan itu sepanjang korban narkotika masih mampu untuk direhabilitasi dari aspek kejiwaan dan kehidupan sosialnya.

“Jadi para korban kita beri konseling agar bisa mampu kembali hidup normal di tengah masyarakat,” katanya.

Advokasi masyarakat di lingkungan tempat tinggal korban narkotika juga dilakukan, sehingga masyarakat menjadi bebas dan bisa kembali menerima korban narkoba itu seperi sedia kala.

Pemeriksaan klinik, kata Deny, juga dilakukan untuk memastiksan korban narkotika terhadap kemungkinan terinveksi virus HIV/Aids serta hepatitis.

“Kita paham para pengguna adalah bagian dari kelompok rentan, karena itu penting untuk diperiksa kesehatannya,” kata Deny.

Jika ditemukan ada yang terinveksi, maka akan dilakukan penindakan sesuai dengan kondisi virus yang ada di dalam tubuhnya. “Semuanya akan kita tangani secara medik dan tertutup,” kata Deny. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  BNN NTT Rehabilitasi 26 Pengguna Narkoba