Ketika Persiwa Dihantam Badai Pegunungan

share on:

persiwa-wamenaJayapura, Jubi-Kegembiraan anak-anak tim berjuluk Badai Pegunungan Tengah tak berlangsung lama, baru masuk ke ISL 2015. Ternyata badai es dan angin kencang menerpa Piter Rumaropen dan kawan-kawan. Sudah setengah mati berjibaku akibat sepak bola gajah, akhirnya harus menerima kenyataan tak lolos ke ISL karena faktor financial. “Minimal setiap kompetisi setiap klub butuh dana sebesar Rp 15 Miliar,”kata Sekretaris Badan Liga Indonesia, Jokp Driyono pekan lalu di Jakarta usai memutuskan kalau Persiwa tak lolos kualifikasi ke ISL.

Padahal sebelumnya Asosiasi Bupati se Pegunungan Tengah berkomitmen mendukung Persiwa, begitupula Gubernur Lukas Enembe menyatakan hal yang sama. Mencari solusi guna mendukung tim berjuluk Badai Pegunungan.

Klub berjuluk Badai Pegunungan Tengah ini sebagai klub kedua dari Papua yang pernah berlaga di Asia Football Club(AFC). Saat itu Persipura juara ISL 2008-2009 mendapat jatah ke Liga Champion Asia(LCA), dan Persiwa runner up otomatis mewakili Indonesia ke AFC. Kedua klub asal Papua sama-sama kandas di babak penyisihan.

The Highlander julukan Persiwa berada di laga perdana di Grup F bersama VB Sports, Muang Thong United dan South China. Piter Rumaropen dan kawan-kawan kalah saat berjumpa dengan VB Sports dari Maladewa dengan skor tipis 3-2 di Stadion Gajayana, Malang. Sebelumnya mereka unggul 2-1 lewat kaki dua bintang Liberia Erick Weeks dan Boakay Eddie Foday.

Setiap derby Papua di Stadion Mandala, supporter The Highlander menghijaukan lapangan seolah-olah Persipura jadi tim tamu. Atmosfir derby Papua saat Persipura menjamu Persiwa berbeda ketika melawan Persiram Raja Ampat atau Persidafon yang juga turun kasta alias mengalami nasib yang sama dengan Persiwa.

Jebolan PON 2004 terbagi dua Boaz dan kawan-kawan ke Persipura sementara Imanuel Padwa, Ricardo Salampesy membela The Highlander. Dua klub elite Papua Persipura dan Persipura selalu memberikan permainan berbeda dengan klub Persiram, Persidafon dan Perseru. Aroma derby Papua justru sangat kental ketika Mutiara Hitam berhadapan dengan The Highlander. Bahkan laga keduanya sempat membawa korban gara-gara pintu masuk jebol karena ribuan supporter ingin masuk ke Stadion Mandala.

Jika melihat prestasi Persipura juara Liga Indonesia 2005, juara ISL 2008-2009; ISL 2010-2011 dan ISL 2012-2013. Semifinal AFC 2014 dan delapan besar AFC2011. Prestasi ini tak memberikan jaminan untuk gampang mendapat sponsor. Baru PT Freeport Indonesia dan Bank Papua yang mau jadi sponsirhip Persipura. Andaikata produksi PT Freeport terganggu dan sponsor berkurang, bagaimana nasib klub berjuluk Mutiara Hitam. Perusahaan sepatu dan jersey Speech juga menjadi sponsor dan Bosowa Grup dari Makassar.

Tuntutan profesionalisme dan kebangkitan industri sepak bola di Asia otomatis akan berpengaruh kepada persyaratan klub-klub sepak bola di Indonesia. Aspek-aspek yang menjadi penilaian bagi klub-klub sepak bola di Indonesia pertama legalitas. Klub harus berbadan hukum dan diurus oleh menejemen yang profesional. Direktur PT Persipura Papua sendiri adalah seorang PNS Pemerintah Kota dan Sekretaris Umum Persipura. Meskipun berbadan perusahaan swasta tapi pengelola perusahaan klub Persipura mayoritas pegawai negeri sipil(PNS terkecuali Rudy Maswi cs pihak bisnis dan swasta murni.

Kedua Infrastruktur, yaitu setiap klub harus memiliki lapangan sendiri dan stadion sendiri. Klub Persipura sampai sekarang masih memakai Stadion Mandala, lapangan milik KONI Papua sebagai markas klub berjuluk Mutiara Hitam. Sedangkan lapangan latihan berpindah-pindah antara Lapangan Brimob dan Lapangan Mandala. Persipura memilih berlatih di Batu Malang karena fasilitas di sana lengkap.

Ketiga, finansial. Setiap klub wajib memiliki dana untuk mengikuti kompetisi di ISL. Minimal dana yang dibuthkan satu musim kompetisi Rp 15 Miliar. Tim berjuluk belum memanfaatkan potensi supporter dan Persipuramanian guna meraup dana. Belajar dari klub-klub luar negeri seperti Barcelona dan Bayer Muenchen. Pep Guardiola eks pelatih Barca memilih Bayern Muenchen karena punya filosofis dan tradisi pembinaan pemain muda. Separoh saham dari klub Bayern Muenchen milik supporter. Pertandingan Bayern Muenchen selalu dipadati supporternya karena merasa memiliki. Para supporter berandil besar membangun stabilitas finansial klub, selain kebijakan manajemen yang membatasi pembelanjaan pemain bintang. Memang beda atmosfir antara Jerman dan Papua tetapi pengalaman di sana bisa dipakai guna menjaga finansial klub karena sponsor hanya bersifat sementara saja.

Keempat, Administrasi. Persyaratan ini bukan sekadar formalitas semata tetapi harus dibuktikan dengan kantor sekretariat yang memadai lengkap dengan informasi seputar sejarah klub dan informasi terkini soal kontrak serta persiapan latihan. Selain itu bertugas untuk pengelolaan klub secara profesional laiknya sebuah perusahaan(PT Persipura Papua) yang mengejar profit. Selama ini tugas media officer hanya sekadar memberikan informasi kalau dihubungi wartawan. Padahal tugas-tugas lain meliputi pembelian dan pengawasan jersey klub dan asesoris klub yang diperjual belikan. Pendaftaran dan persyaratan untuk menjadi anggota klub Persipura dan keuntungan apa yang diperoleh kalau menjadi anggota klub Persipura.

Kelima adalah Supporting dan Pembinaan Usia Muda. Rata-rata klub di Indonesia termasuk Persipura belum memiliki Akademi Sepakbola Persipura. Meski Persipura sudah punya Persipura U21, Persipura U18 dan Persipura U15. Selama ini yang mendukung klub-klub di Papua karena banyak sekolah sepakbola di Papua yang ikut dalam Festival Sepakbola Danone. Di Kota Jayapura ada SSB Nmbay Star, Emsyik Uni Papua, SSB Wahenlouw Sentan, SSB Imanuel dan Hamadi Putra sebagai pemasok pemain muda di Persipura. Mayoritas pemain Persipura jebolan PON Papua, generasi Boaz Solossa, Ricardo Salampesy, Gerald Pangkali PON 2004 sampai Nelson Alom angkatan PON 2012 serta sebagian eks Persipura U21.

Badai yang menerpa Persiwa Wamena dan Persidafon bukan tidak mungkin akan imbas ke Persipura kalau tidak mengelola klub ini sebagai klub profesional dan sebuah industri sepak bola. Selama masih menjadi komoditi politik untuk tujuan jangka pendek, nasib Persipura akan menunggu waktu. Walau pernah mencicipi AFC bersama Persiwa. Badai Pegunungan itu akan datang ketika klub-klub masih berkutat dengan gaya pengelolaan amatir.(Dominggus Mampioper)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Ketika Persiwa Dihantam Badai Pegunungan