PT.SPCI Telah Membohongi Masyarakat Adat Pemilik Gunung Botak

share on:
Gunung Botak, Manokwari - panoramio.com
Gunung Botak, Manokwari – panoramio.com

Sorong, Jubi – Menejemen PT.SPCI, investor asing asal Negara China yang hendak mengambil bahan galian pasir kwarsa di Kawasan Gunung Botak, Dusun Siep, Kampung Yekwandi, Distrik Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat diduga telah melakukan pembohongan terhadap masyarakat adat pemilik kawasan tersebut.

Bahan galian pasir kwarsa tersebut konon bakal digunakan sebagai bahan dalam pembuatan semen pada Pabrik Semen milik perusahaan tersebut di Maruni-Kabupaten Manokwari.

Hal itu dapat dibuktikan dari adanya kedatangan seseorang yang mengaku bernama Mr.Wu yang telah datang  bertemu masyarakat adat di Dusun Siep tersebut pada hari Minggu, 25 Agustus 2013 lalu dengan maksud hendak mengambil material batu dan tanah yang ada di kawasan Gunung Botak tersebut.

Atas pembicaraan dengan oknum Mr.Wu tersebut, maka Lambertus Mokiri selaku Kepala Suku Siep dan masyarakatnya telah memberi ijin kepada oknum dari PT.SPCI tersebut untuk melakukan pengeboran di Gunung Botak, guna mengambil bahan galian batu dan pasir yang diperlukan bagi kepentingan uji laboratorium.

Persetujuan tersebut dilandasi kesepakatan lisan waktu itu bahwa PT. SPCI selain membayar hasil tambang batu dan pasir kwarsa, juga akan membangun fasilitas umum seperti Gedung Gereja Baru di Dusun Siep, Jembatan Kampung, Rumah Masyarakat, Jaringan Air Bersih dan Talut Kali serta Pantai.
“Mereka berjanji nanti bangun sekolah , Gereja , perbaiki Rumah masyarakat tapi tidak ada. Sampai hari ini kami tunggu saja,” tutur kepala Suku Siep Lembertus Mokiri Kepada Jubi Sabtu, (31/1/2015) di Manowari.

Kemudian menurut janji Mr.Wu tersebut kepada masyarakat adat bersama Kepala Suku Siep, Lambertus Mokiri bahwa mereka (PT.SPCI) akan kembali bertemu dengan masyarakat pada bulan Oktober 2013 lalu. Namun demikian ternyata baik oknum Mr.Wu tersebut maupun menejemen perusahaan asal Negeri Tirai Bambu tersebut tidak pernah kembali maupun tidak pernah berkomunikasi dengan masyarakat adat Dusun Siep hingga hari ini.

Ternyata kemudian masyarakat adat melalui Kepala Suku Mokiri mendapat informasi bahwa perusahaan tersebut tidak bisa kembali bertemu masyarakat, karena Pemerintah Daerah  Kabupaten Manokwari Selatan tidak memberikan ijin melakukan eksplorasi di kawasan Gunung Botak, karena termasuk dalam wilayah Hutan Lindung.

Selanjutnya Kepala Suku Dusun Siep Lambertus Mokiri telah mengirim surat nomor : 001/SRT/X/2013 perihal Ijin Operasi PT.SPCI di Siep tertanggal 17 Oktober 2013 kepada Bupati Manokwari Selatan.

Sayang sekali, karena surat tersebut tidak pernah memperoleh tanggapan secara tertulis dari Bupati hingga hari ini dan karena menunggu lama dan masyarakat adat tersebut merasa mereka telah ditipu oleh oknum pimpinan PT.SPCI tersebut, maka mereka telah datang memohon bantuan hukum kepada LP3BH Manokwari.

Bahwa atas dasar adanya kegiatan pengeboran yang sudah dilakukan selama kurang lebih 42 hari yang dilakukan oleh PT.SPCI di kawasan Tanah Adat Gunung Botak milik Lambertus Mokiri dan keluarganya itu pada tanggal 8 Februari hingga 20 Maret 2014, maka mereka selanjutnya telah mengajukan tuntutan ganti rugi dan atau denda adat kepada perusahaan asal China tersebut sejumlah Rp.5.000.000.000,- (Lima Milyar rupiah).

Sementara Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian Pekajian Bantuan Hukum (LP3BH ) Manowari Yan Kristian Warinusi, menanggapai tuntutan Masyarakat Adat Dusun Siep tersebut , menilai sangat berdasar hukum dan perlu ditanggapi oleh perusahaan asing ini dengan melakukan pendekatan dan berdialog demi mencari solusi yang baik dan adil bagi kedua belah pihak demi kelanjutan investasi tersebut di masa depan.
”Tuntutan masyarakat sangat mendasar. Apa lagi dibuktikan dengan pernyataan tertulis. Jika digugat secara perdata itu hak mereka,” kata Warinusi. (Nees Makuba)

 

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PT.SPCI Telah Membohongi Masyarakat Adat Pemilik Gunung Botak