KNPB : Gereja di Tanah Papua Harusnya Bicara Tentang Kebebasan Umat Tuhan

share on:
GKI di Tanah Papua (Jubi/IST)
GKI di Tanah Papua (Jubi/IST)

Jayapura, Jubi – “Gereja di tanah Papua harus dan mampu berbicara tentang kebebasan umat Tuhan di Tanah Papua. Seperti Hak rakyat Papua untuk menentukan nasibnya sendiri, bukan sebaliknya gereja mendukung kebijakan NKRI di Papua, untuk menindas hak-hak rakyat West Papua. Karena hal itu bertolak belakang dengan makna peradaban manusia Papua,”

Hal ini ditegaskan, Victor Yeimo, ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) melalui surat elektronik yang dikirim oleh pengurus pusat KNPB, Kamis (5/2/2015) di Jayapura, Papua.

Gereja-gereja yang ada di diatas tanah Papua bukan media pemerintah Indonesia di West Papua. Sehingga menjadikan Doa Syafat untuk dan mendoakan kepentingan Indonesia agar terus menjajah West Papua. Tatkala jemaat-jemaat (baik di kota/kampung) diminta mendoakan agenda Hak Penentuan Nasib Sendiri west Papua, justru di tolak oleh kebanyakan pimpinan gereja di tanah Papua dengan memberikan alasan bahwa gereja tidak berpolitik dan tidak terlibat dalam perjuangan hak penentuan nasib sendiri rakyat West Papua.

“Tetapi setiap hari minggu dalam Doa Syafat selalu mendoakan pemerintah Indonesia, berarti secara tidak langsung gereja-gereja di Papua ikut terlibat dan berpolitik dan berperan penting dalam memperpanjang penjajahan di tanah Papua,” katanya.

Beberapa tahun ini Gereja-gereja sedunia (PCC) di Pasifik banyak berbicara keras tentang kebebasan umat Tuhan di dunia. Bahkan secara nyata mendukung hak bangsa Papua untuk menentukan Nasib Sendiri (SELF DETERMINATION). Berbagai bantuan financial lainnya terus dilakukan bagi kemajuan dan penghormatan Hak Azasi Manusia (HAM) rakyat West Papua.

“Namun yang terjadi hanyalah “Genocida” Pembunuhan, Pemerkosaan, Pemenjaraan dan eksploitasi Sumber Daya Alam/SDA Papua. Bagimana Gereja-gereja di tanah Papua memaknai peranannya memainkan Suara kenabian dalam kondisi Papua Barat saat ini dan dimasa-masa akan datang?” tulisnya.

Sementara itu, Dance Marisan, aktivis GMKI kepada Jubi mengatakan, memang perjalanan gereja di papua hari ini melenceng jauh dari yang diharapkan. Sehingga momentum peringatan hari Pekabaran Injil sebagai momen untuk evaluasi kembali perjalanan gereja-gereja di tanah papua.

“Seluruh gereja-gereja di Tanah Papua, perannya melenceng jauh. Karena tidak mengikuti apa yang negara mau. Sehingga hak-hak umat Tuhan di tanah Papua tidak terperhatikan dan yang menjadi korban adalah umat Tuhan. Maka itu, semua dedominasi gereja di tanah Papua harus memanfaatkan momentum peringatan Injil masuk di Tanah Papua yang ke-160 ini sebagai momentum untuk mengevalusi kembali perjalanan gereja di Papua,” ujarnya Dance Marisan, yang juga mantan ketua GMKI Cabang Jayapura ini. (Arnold Belau)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  KNPB : Gereja di Tanah Papua Harusnya Bicara Tentang Kebebasan Umat Tuhan