Eksekutif Tidak Hadir, Mama-Mama Papua Kecewa

share on:
Aksi demonstrasi
Mama-mama papua saat datang di DPRD Merauke. Jubi/Frans L Kobun

Merauke, Jubi-Ratusan Mama-Mama Papua yang berjualan di Pasar Wamanggu serta Pasar Mopah, mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke, akhirnya kecewa karena gagal berdialog bersama para wakil rakyat maupun dinas terkait dari lingkungan pemerintah setempat.

Disaksikan Jubi Senin (16/2/2015), ratusan Mama-Mama Papua memadati halaman kantor dewan dan

Beberapa utusan melanjutkan pertemuan yang dipimpin Ketua DPRD Merauke, Kanizia Mekiuw. Dalam pertemuan tersebut, terjadi ‘silang’ pendapat antara dewan sendiri.

Ketua Komisi B DPRD Merauke, Fransiskus Firifefa meminta agar pertemuan ditunda hingga besok. Karena jika hanya dihadiri dewan, tanpa kehadiran instansi terkait, maka tidak akan diperoleh jawaban pasti. “Saya kira kita harus tunda hingga besok dengan menghadirkan pemerintah terlebih dahulu,” katanya.

Anggota dewan lain, Moses Kaibu justru meminta agar pertemuan tetap dilanjutkan, karena esok hari masih ada berbagai agenda yang harus dijalankan oleh dewan. “Kita sebagai wakil rakyat, ingin mengetahui permasalahan apa yang terjadi. Sebagai dewan yang adalah perpanjangan tangan dari rakyat, harus mendengar,” pintanya.

Setelah terjadi perang argumentasi diantara beberapa anggota dewan, Ketua DPRD Merauke, Kanizia Mekiuw mengambil keputusan untuk dilakukan penundaan pertemuan bersama Mama-Mama Papua. “Ya, kita tunda sampai besok sambil menunggu kehadiran pejabat dari instansi terkait. Sehingga bisa memberikan penjelasan secara langsung,” ujarnya.

Secara tepisah Ketua Advokasi Lembaga Perempuan Merauke, Beatrix Gebze mengaku, atas nama Mama-Mama Papua, pihaknya merasa kecewa atas ketidakhadiran pemerintah. Padahal, surat telah dikirim ke dewan sejak beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, sejak dua tahun terakhir, pihaknya melakukan pendampingan terhadap Mama-Mama Papua dan ditemukan banyak permasalahan baik di Pasar Wamanggu maupun Pasar Mopah. Contohnya, tempat jualan maupun harga yang diberlakukan antara orang asli dengan dari luar.

Permasalahan lainnya, demikian Beatrix, transportasi yang sulit, sehingga Mama-Mama Papua kesulitan datang lebih pagi ke pasar. Saat tiba di pasar, banyak sudah berjualan. “Ini baru satu-dua permasalahan yang kami beberkan. Masih ada banyak hal yang harus didiskusikan sekaligus dicarikan jalan keluar penyelesaian,” pintanya. (Frans L Kobun)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Eksekutif Tidak Hadir, Mama-Mama Papua Kecewa