Sejak Abad 17 Orang Papua Sudah Miliki Konsep Ekonomi

share on:
Direktur RMD Institute, Robert Mandosir Bersama Direktur Eksekutif KAPP, Efraim Yoteni - Jubi/Arjuna
Direktur RMD Institute, Robert Mandosir Bersama Direktur Eksekutif KAPP, Efraim Yoteni – Jubi/Arjuna

Jayapura, Jubi – Direktur Resort Mangement and Development (RMD) Institute, Robert Mandosir mengatakan, sejak abad 17 sudah ada konsep ekonomi di tujuh wilayah adat di Papua dan Papua Barat.

Katanya, ketika itu masyarakat Papua sudah punya kebijakan ekonomi, mata uang dan sistem yang terorganisasi secara baik dalam lintas wilayah. Misalnya di wilayah pegunungan tengah Papua, masyarakat punya jalinan bisnis dengan warga di Papua Nugini.

“Di wilayah adat Tabi, Anima Ha, Saireri, Mee Pago, Bomerai dan Domberai juga begitu. Di Domberai bahkan ada kain Timor. Padahal Domberai tak memproduksi kain itu. Itu menandakan ada hubungan dagang,” kata Mandosir ketika dialoag interaktif di salah satu stasiun televisi lokal, Jumat (20/2/2015) malam.

Menurutnya, kini standar ekonomi yang diterapkan di Papua adalah standar nasional. Namun harus dipahami, masyarakat luar Papua misalnya Pulau Jawa, 300 tahun lebih duluan. Katanya, lomptan ekonomi orang Papua dari tradisional ke modern butuh penyesuaian dan harus disejajarkan dulu.

“Ini yang harus dipahami. Ketika orang Papua bicara konsep ekonomi, cara pandangnya beda, sehingga perlu didampingi dari sisi manajemen dan penguatan kapasitas,” ucapnya.

Sementara Direktur Eksekutif Kamar Adat Pengusaha Asli Papua (KAPP), Efraim Yoteni mengatakan, kendala yang dihadapi pengusaha Papua kini yakni masalah modal dan kurangnya wawasan. Mereka butuh pelatihan dibidang usaha yang akan digeluti.

“Jadi mereka perlu dilatih dan diarahkan. Mereka perlu dibina. Misalnya kalau dia tak bisa kerja kontraktor, bisa kerja disektor lainnya. Mungkin saja usaha pertanian, perikanan dan lainnya,” kata Yoteni. (Arjuna Pademme)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sejak Abad 17 Orang Papua Sudah Miliki Konsep Ekonomi