Setelah 43 Tahun Beroperasi, Freeport Baru Bangun Smelter

share on:
Gunung Grasberg mahkota Freeport.Jubi/dok
Gunung Grasberg mahkota Freeport.Jubi/dok

Jayapura, Jubi – Agaknya pepatah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, mungkin yang dipakai Freeport untuk mulai membangun smelter. Hanya saja terlalu lama bagi Freeport sebab memasuki tahun ke 42 tahun beroperasi, baru terpikir atau didesak untuk mulai membangun smelter.

Produksi Ertsberg tambang pertama Freeport membutuhkan waktu 15 tahun dan akhirnya ditutup sama sekali pada 1988. Terlalu cepat Ertsberg dilubangi dan kini berpindah ke Grasberg yang sebentar lagi mengalami nasib sebagai gunung berdanau alias berlobang.

Grasberg merupakan permata yang paling besar dan paling berkilau dalam mahkota Freeport. Awal 1996, diperoleh kenyataan bahwa Grasberg mengandung deposit sebesar 1,76 milyar ton batuan bijih dengan kadar rata-rata 1,11 persen tembaga atau sama dengan 35,2 milyar pon tembaga murni.
Kandungan emasnya sangat tinggi yaitu sebanyak 49 juta troy ons, sama dengan separo jumlah seluruh emas yang diperoleh dari California selama demam emas dulu. Anehnya, deposit yang luar biasa besar ini terletak hanya tiga kilometer dari Erstberg dan baru dibor 15 tahun setelah tambang disebelahnya dikerjakan.(George A Mealey, Grasberg ).

Bayangkan Ertsberg sudah berlobang dan produksinya menyusut sepanjang 1980 an, dan ditutup pada 1988 atau butuh 15 tahun menghabisi Ertsberg(1973-1988). Kini bekas penggalian Ertsberg merupakan danau persediaan air untuk pengolahan biji dan dinamakan Wilson (Wilson Lake). Ya danau Wilson diketinggian sekitar 4000 meter dari pemukaan air laut.

Seandainya saat itu smelter dibangun di Papua 1988, sudah ada perencanaan dan niat baik dari semua pihak, tentunya saat ini tak ada lagi perdebatan. Soalnya saat itu Grasberg lagi berisi penuh dengan potensi tembaga dan emas sehingga tak mubazir kalau smelter mulai dibangun.

Mengapa setelah 27 tahun (1988-2015) Grasberg berproduksi dan tambang terbuka sudah berakhir baru mulai memikirkan pembangunan smelter. Apakah Grasberg masih ekonomis dan layak untuk ditingkatkan produksinya?

Grasberg mungkin, ibarat perempuan tua yang dipaksa untuk melahirkan emas dan tembaga. Terkecuali dibalik Grasberg ada tersimpan uranium! Mungkin ceritanya lain atau memang betul sehingga Freeport harus dipimpin oleh seorang mantan petinggi Badan Intelijen Negara(BIN).

Untuk memaksa Grasberg hanya ada satu jalan yaitu lewat penambangan bawah tanah (under ground mining), tambang terbuka pada 2015 sudah berakhir operasinya. Deep Ore Zone (DOZ) merupakan tambang bawah tanah ketiga yang mulai produksi pada 2000 atau 15 tahun lalu. Dua tambang bawah tanah sebelumnya adalah GBT (Gunung Bijih Timur) dan IOZ(Intermediate Ore Zone) sudah selesai beroperasi.(Armando Mahler dan Nurhadi Sabirin, Proses Penambangan Tembaga dan Emas 2008).

Big Gosan sendiri beroperasi pada 2009 lalu dilakukan dengan metode penambangan open stoping. Freeport sendiri membuka blok penambangan bawah tanah Deep Grasberg dan Kucing Liar dengan metode block caving.
Pabrik pengolah bijih memproduksi 1,2 milyar pound tembaga, dan 2,6 juta troy ounces emas pada 2007. Tahun yang sama, produksi konsentrat adalah 2 juta ton dengan kadar tembaga(grade) 28,5 persen dan emas 40,8 gram per ton. Pabrik pengolah biji mampu memproses 200.000-250.000 ton bijih per hari. Tambang terbuka telah mengkontribusi lebih dari 75 persen total produksi, sedangkan tambang bawah tanah mengkontribusi sekitar 25 persen. Artinya Grasberg ke depan memproduksi tambang bawah tanah sampai dengan 2050 atau tinggal 35 tahun lagi memproduksi.

Tak heran kalau George Mealey dalam buku berjudul Grasberg menyebutkan hingga 45 tahun ke depan penambangan di Grasberg masih menguntungkan. Tetapi yang lebih mengherankan lagi George A Mealey menulis biaya produksi tambang emas dan tembaga di Indonesia yang termurah di dunia. Apalagi sisa pasir tambang alias tailing langsung dibuang ke sungai sedangkan konsentrat memakai pipa dari pabrik langsung ke pelanuhan Port Side.

Setelah 43 tahun(1973-2015) beroperasi, kini Freeport baru mau merencanakan membangun smelter di Gresik dan Papua. Layakah smelter dibangun setelah hampir setengah abad Freeport beroperasi di Bumi Amungsa? Mau kemana para pekerja di pabrik smelter di Amerika Serikat dan Pan Pacific Smelter di Jepang? Semuanya tergantung dari itikad baik dan bukan sekadar berlindung dibalik kepentingan lebih besar dan mengabaikan masyarakat di Tanah Papua khususnya mereka di Bumi Amungsa.(Dominggus Mampioper)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Setelah 43 Tahun Beroperasi, Freeport Baru Bangun Smelter