Mahasiswa Jawijaya Tetap Menolak Rencana Pembanguna Mako Brimob

share on:
Mahasiswa Wamena saat jumpa pers menolak pembanguna Mako Brimob di Wamena, 25/2/2015. Jubi/Arnold Belau
Mahasiswa Wamena saat jumpa pers menolak pembanguna Mako Brimob di Wamena, 25/2/2015. Jubi/Arnold Belau

Jayapura, Jubi – Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Pelajar Jayawijaya (HMPJ) dan Solidaritas Pemuda dan Mahasiswa Alam Semesta Papua dengan tegas menyatakan tetap menolak rencana pembangunan Mako Brimob di Wamena, yang oleh Polri direncanakan akan dibangun pada Maret mendatang.

“Pertama kami dari awal nyatakan tolak. Dan itu tetap. Karena alasan bupati Wempi untuk bangun Mako Brimob sangat tidak masuk akal. Dan seperti yang diberitakan di beberapa media pemilik hak ulayat terima pembangunan Mako Brimob. Itu tidak benar. Yang benar adalah masyarakat Jayawijaya dari 40 distrik sudah menolak. Bukan terima,” kata Soleman Itlay kepada Wartawan di Abepura, Rabu (25/2/2015) di Abepura.

Maka itu, bupati jangan memaksakan kebijakan yang sesungguhnya rakyat tidak mau. Karena terkesan seperti ada upaya untuk meloloskan kepentingan para elit politik untuk menjadikan kota Wamena sebagai Kota Madya.

“Jadi jangan korbankan rakyat. Stop kamu punya politik busuk itu. Kami tahu bahwa ada permainan untuk mekarkan provinsi dan jadikan Wamena sebagai kota madya sehingga kami melihat ini ada permaian politik antara elit politik di Wamena dan di provinsi. Maka itu kamoi minta untuk hentikan semua upaya busuk yang sedang dibangun ini,” kata Benyamin Lagowan, salah satu mahasiswa asal Wamena.

Kata dia, pemerintah terkesan seperti memaksa rakyat. Padahal dengan jelas masyarakat Jayawijaya sudah menolak. Tapi ini hanya untuk meloloskan kepentingan para elit politik di pegunungan tengah. Sehingga nantinya jika Mako Brimob sudah ada, pemerintah akan toki dada dan mekarkan provinsi.

Alius Himan, dari HMPJ mengatakan, beberapa waktu lalu ada beberapa mahasiswa yang mengatasnamakan HMPJ dan menyatakan mendukung program pemda Jayawijaya untuk bangun Mako Brimob.

“Sejak awal kami tetap eksis untuk menolak rencana pembangunan mako itu. Dan kami klarifikasi bahwa penyataan dari sekelompok orang yang mengatasnamakan HMPJ itu tidak benar. Karena HMPJ tidak pernah menyetujinya. Itu orang-orang dekat bupati Jhon Wetipo,” kata Himan.

Selain itu, Niko Seledak, aktivis mahasiswa juga mengatakan, beberapa waktu lalu ada sekelompok orang yang mengatasnamakan kepala suku dari beberapa distrik dan datang menghadap ke Polda untuk menyampaikan dukungan pembangunan Mako Brimob.

“Nyatanya mereka bukan kepala suku. Mereka hanya mencarai nama dan uang. Mereka yang datang itu bukan kepala suku. Dan bukan pula pemilik hak ulayat,” katanya.

Bupati Jayawijaya harus sadar, bahwa orang Wamena masih berada dalam trauma berat. Karena operasi militer tahun 1977 hingga saat ini terjadi berbagai operasi yang dilakukan oleh aparat yang didalamnya ada Brimob. Dan bagi masyarakat Wamena, brimob adalah penjahat. Maka bupati Wamena harus mengerti kondisi yang sedang dialami warga di Wamena. (Arnold Belau)

Editor : dominggus a mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Mahasiswa Jawijaya Tetap Menolak Rencana Pembanguna Mako Brimob