Cakupan Imunisasi di Papua Hanya 52,4 Persen

share on:

Jakarta, Jubi/CNN Indonesia – Cakupan imunisasi di Papua serta Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Tengah pada 2013 hanya berkisar 52,4 persen hingga 74 persen, masih jauh dibawah angka nasional sebesar 82 persen.

Program imunisasi di Indonesia yang tidak merata mengakibatkan anak rentan berbagai penyakit. Hal itu terlihat dalam beberapa kasus kesehatan yang tidak juga mengalami penurunan signifikan, salah satunya kasus difteri.

Tahun 2006, kasus difteri di Indonesia mencapai 432 kasus dan 394 kasus pada 2014. Difteri adalah penyakit menular mematikan yang menyerang saluran pernafasan bagian atas. Anak usia kurang dari 5 tahun dan orang tua diatas 60 tahun sangat beresiko tertular difteri.

“Sekitar 68 persen sampai 74 persen kasus difteri adalah anak dibawah umur 15 tahun. Sisanya dewasa dan lansia,” kata anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Sri Rezeki S. Hadinegoro, di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Rabu (4/3/2015).

Program imunisasi yang tidak merata juga berdampak mewabahnya penyakit campak. Pada 2014 ada 10.651 kasus campak dan terjadi 170 kali kejadian luar biasa campak.

“Bila cakupan imunisasi tinggi dan merata di seluruh pelosok tanah air, kejadian luar biasa tidak akan terjadi,” kata Sri.

Tolok ukur untuk menilai rata atau tidaknya program imunisasi adalah pencapaian Universal Child Immunization (UCI) Desa yang harus lebih besar dari 80 persen.

“Pada tahun 2013, Indonesia mencapai UCI desa sebesar 82 persen. Namun angka itu tidak merata karena provinsi Papua, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tenggara, dan Papua hanya mencapai 52,4 persen sampai 74 persen,” ujar Sri.

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, berpendapat tidak meratanya program imunisasi tersebut karena minimnya infrastruktur di daerah Indonesia, terutama daerah terpencil. Padahal, vaksin harus segera didistribusikan.
“Vaksin harus disimpan dalam pendingin. Kalau infrastruktur tidak memadai, akan membuat vaksin itu rusak karena butuh waktu lama mencapai tempat tujuan,” katanya.

Program imunisasi nasional dilaksanakan Kementerian Kesehatan sejak 1979. Badan Kesehatan Nasional (WHO) menilai dunia masih terancam penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti hepatitis B, polio, difteria, pertusis (batuk rejan), tetanus, dan campak. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : CNN Indonesia
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Cakupan Imunisasi di Papua Hanya 52,4 Persen