Hidupkan Literasi lewat Budaya ‘Sabtu’

share on:

Ponorogo, Jubi/Antara – Budayawan Dr Sutejo mengajak masyarakat untuk menghidupkan dunia literasi lewat budaya sadar baca tulis atau ‘sabtu’ sebagaimana yang dia rintis bersama sejumlah guru dan dosen.

“Saya sudah memulai budaya ‘sabtu’ bersama para pendidik. Karena namanya sabtu, maka kami mengadakan pertemuan malam Sabtu. Logikanya, Sabtu itu kan biasanya libur, sementara kalau malam Minggu kan untuk keluarga,” kata doktor lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu saat ditemui di Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (15/3/2015).

Dosen sastra Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Ponorogo ini mengaku prihatin dengan masih rendahnya budaya baca dan tulis di masyarakat Indonesia, khususnya para guru, bahkan di kalangan dosen.

“Padahal proses mendidik itu tidak hanya dibatasi oleh ruang kelas. Kita memperluas vibrasi fungsi kita sebagai pendidik lebih luas lagi, yakni melalui tulisan, baik melalui media massa, buku atau dunia maya. Ilmu yang kita sebarkan akan memiliki jangkauan luas jika disebarkan lewat tulisan,” kata penulis belasan buku dan ratusan artikel ini.

Ketua Litbang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ponorogo ini menjelaskan bahwa pertemuan-pertemuan dengan para pendidik itu ia manfaatkan dengan berbagi semangat agar mereka aktif menulis. Karena dengan menulis, maka mereka akan terangsang untuk membaca.

Di sisi lain Sutejo juga memiliki komunitas yang tersebar di Madiun, Kediri, Pacitan, dan Magetan. Namun. Diakuinya komunitas itu tidak formal, sehingga seolah-olah tidak ada.

“Komunitas yang kami bangun ini adalah membangun semangat membaca dan menulis itu. Komunitas ini memang tidak formal, tapi eksistensinya ada,” katanya.

Sementara di kalangan NU sendiri, hasil budaya ‘sabtu’ itu telah menghasilkan kumpulan tulisan yang diterbitkan dalam bentuk buku “Membaca dan Menggagas NU ke Depan”. Penerbitan yang digagas oleh Litbang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Ikatan Sarjana NU (ISNU) Ponorogo itu diluncurkan, Sabtu (14/3).

Acara itu menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Cirebon, Jawa Barat, KH Husein Muhammad dan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah KH M Faizi, MFil. Selain ulama, keduanya juga merupakan penulis produktif.

Sutejo mengaku kagum dengan apa yang dilakukan oleh KH Husein Muhammad yang telah menulis puluhan buku. Demikian juga dengan aktivitas KH Faizi dan upayanya menanamkan budaya menulis di Annuqayah.

“Annuqayah itu luar biasa. Saya ikut bangga dan saya berharap pesantren lain juga meniru seperti Annuqayah. Karena beliau biasa menulis, beliau bisa diundang ke Singapura dan Jerman,” katanya.

KH Faizi menyebutkan bahwa pihaknya membudayakan para santri menggeluti dunia literasi dengan menekankan kebiasaan menulis setiap hari.

“Kalau tidak bisa tiap hari, minimal tiga kali seminggu,” katanya.

Ia mengemukakan, para santri di salah satu pesantren besar di Madura itu juga dibiasakan membaca resume buku yang dibuat oleh para guru atau ustadz sebelum mereka masuk kelas. Dalam resume itu juga dijelaskan sejumlah diksi yang diperkirakan kesulitan dicerna oleh santri.

“Jadi ketika mereka menunggu masuk kelas, mereka membaca. Nanti kalau tertarik ingin tahu lengkapnya cari di perpustakaan. Jadi bukan mengajak santri datang ke perpustakaan, tapi perpustakaan masuk kelas,” kata kiai nyentrik yang dikenal sebagai penyair ini. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Hidupkan Literasi lewat Budaya ‘Sabtu’