Sekda Papua Buka Konferensi Luar Biasa KAP Papua

share on:
Sekda Buka Konferensi Luar Biasa KAP Papua. Jubi/Arjuna
Sekda Papua, Heri Dosinaen Ketika membuka Konferensi Luar Biasa KAP Papua. Jubi/Arjuna

Wamena, Jubi – Konferensi Luar Biasa Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua resmi dibuka, Kamis (26/3/2015). Konferensi luar biasa yang akan berlangsung hingga 27 Maret dengan tema “Menata Pembangunan Mulai Dari Kampung” di Gedung Ukumerek Aso, Jalan Yosudarso, Wamena, Jayawijaya itu dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Papua, Heri Dosinaen mewakili Gubernur Papua, Lukas Enembe yang berhalangan hadir lantaran sedang urusan dinas di luar Papua.

Selain Sekda Papua, pembukaan juga dihadiri Sekda Jayawijaya, Yohanes Walilo, perwakilan Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Barat, Ketua Dewan Adat Papua wilayah La Pago, Dominikus Sorabut, serta pihak terkait. Dalam Konferensi Luar Biasa itu, ratusan pengurus KAP Papua dari kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat, akan memilih Ketua Umum KAP Papua yang baru, menggantikan Ketua Umum sebelumnya, almarhum Jhoni Wamu Haluk.

Dalam sambutannya, Sekda Papua, Heri Dosinaen mengatakan, masyarakat Papua patut bangga, menjelang dua tahun kepemimpinan Gubernur Papua, Lukas Enembe dan wakilnya, Klemen Tinal, orang Papua bisa bangkit di atas negeri sendiri. Kini bagaimana bersatu, bergandengan tangan membangun tanah Papua. Katanya, Gubernur Papua dalam berbagai kebijakan, lebih untuk keberpihakan kepada orang asli Papua. Salah satunya menghidupkan KAP Papua.

“Sejarah mencatat, tanah ini memiliki berbagai kekayaan, tapi kita miskin di atas tanah sendiri. Ini jadi tanggung jawab kita semua yang hidup di tanah ini. Saya harap semua anggota KAP Papua tak hanya berorientasi pada hal tertentu, namun bagaimana menanggapi semua kondisi yang ada. Selain akan memilih pimpinan, yang paling penting dalam konferensi, bagaimana membuat suatu ide yang bisa menjadi pegangan pemerintah daerah mengambil kebijakan.

“Gubernur Papua sudah memberikan kepercayaan kepada bupati dan walikota di Papua. Dana Otsus 80 persen kini diberikan ke pemerintah kabupaten/kota untuk mengatur daerahnya, karena rakyat ada di daerah. Bupati/walikota, yang lebih tahu kondisi di masyarakat. Gubernur hanya mengevaluasi,” kata Sekda Dosinaen.

Menurutnya, kebijakan lain, kini Pemprov Papua berupaya berjuang agar ada regulasi yang kokoh mengatur tanah ini. Selama ini, kewenangan pemda mandul karena tekanan regulasi sektoral. Pihaknya berharap, KAP Papua memberikan dukung moril, dan bersama – sama pemerintah membangun Papua.

“Semua bisa berjalan baik, ketika tak ada kemunafikan di tanah ini. Ada tujuh wilayah adat di Papua dan Papua Barat, mari begandengan tangan, jangan sampai terprovokasi oleh pihak tertentu. Atas nama gubernur, saya menghimbau peserta, agar konferensi ini bisa berjalan baik. Jangan sampai ada gesekan horizontal. Kita harus jadi satu kesatuan di tanah ini membangun perekonomian di tanah Papua. Terimakasih kepada Bupati Jayawijaya yang sudah menfalisitasi agar konferensi ini bejalan dengan baik,” ucapnya.

Sementara Sekda Jayawijaya, Yohanes Walilo, mewakili Bupati setempat, John Wempi Wetipo yang juga tak bisa hadir lantaran kini sedang berada di luar daerah, mengucapkan selamat datang kepada para peserta konferensi.

“Kami berterimakasih kerena KAPP mempercayakan kami di Jayawijaya sebagai tuan rumah kongres. Semoga kongres ini melahirkan pemimpin yang punya hati untuk membangun pengusaha asli Papua kedepan. Kami juga memberikan bantuan dana kepada panitia untuk membantu biayai konferensi,” kata Yohanes Walilo.

Ketua Dewan Adat Papua wilayah La Pago, Dominikus Sorabut mengatakan, Jhoni Wamu Haluk sudah merintis dan menerobos tabir keterisolasian ekonomi. Beliau sudah membangun pondasi. Kini orang Papua tak boleh mengemis di negerinya sendiri, tapi harus mandiri.

“Dewan Adat Papua satu, jadi KAP Papua juga satu. Tak ada namanya KAP Papua atau Papua Barat. Kita sedarah, serumpun, dan satu nenek moyang. Dalam konferensi ini, jangan ada yang punya motivasi mencari makan dari KAP, tapi bagaimana membesarkan KAP. KAP Papua baru akan berkembang, jadi jangan ada kepentingan lain. Proses yang akan didorong dalam konferensi adalah membangun dari kampung ke kota. Kita harus menata dari diri kita sendiri,” kata Dominikus.

Katanya, jangan hanya mengejar investasi untuk mendapat donasi dari KAP Papua. Tapi bagaimana membangun KAP Papua mulai dari kampung hingga bisa membangun Papua. “Yang akan membangun negeri ini bukan orang dari luar, tapi pemilik negeri sendiri yang akan membangun,”imbuhnya.

Ketua Panitia Konferensi, Efraim Yoteni dalam laporan panitia mengatakan, banyak tantangan yang dihadapi KAP Papua. Terberat, ketika pendiri dan perintis KAP Papua, Jhoni Wamu Haluk meninggal dunia. Pengurus akhirnya mengambil langkah membuat konferensi luar biasa.

“Dana Rp 5 miliar, untuk konferensi. Itu bantuan dari Gubernur Papua. Sekda Papua membantu transportasi dari Jayapura ke Wamena. Bupati Jayawijaya, membantu falisitas penunjang. Kami berterimakasih kepada semua pihak itu, serta Kapolres Jayawijaya yang sudah membantu kegiatan ini, juga semua pihak terkait yang tak bisa kami sebut satu persatu,” kata Yoteni.

Diakhir pembukaan konferensi, pengurus KAP Papua memberikan cindera mata berupa pin logo KAP Papua yang terbuat dari emas, hasil kerajinan pengusaha asli Papua kepada Sekda Papua, Sekda Jayawijaya, perwakilan MRP Papua Barat, serta Ketua Dewan Adat Papua wilayah La Pago. (Arjuna Pademme)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sekda Papua Buka Konferensi Luar Biasa KAP Papua