Gubernur : Kekerasan Mematikan Karakter Manusia

share on:
Stop Kekerasan - Google.com
Stop Kekerasan – Google.com

Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan secara sadar dan sistematik tindak kekerasan mematikan karakter manusia yang secara langsung berdampak terhadap menurunnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Dampak lain yang ditimbulkan oleh tindak kekerasan yakni rumah tangga bisa hancur dalam sekejap, tidak jarang nyawa melayang akibat kekerassn korban mengalami traumatik dalm jangka panjang dan sulit untuk dipulihkan,” katanya dalam sambutan yang dibacakan Asisten III Bidang Umum Sekda Papua, Rosina Upessy dalam kegiatan Pelatikan Paralegal Anak, di Hotel Horison Jayapura, Senin (30/3/2015).

Menurut dia, kekerasan bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia. Sebab sejak kehadiran manusia, hadir pula kekerasan karena kekerasan merupakan bagian dari tubuh manusia sendiri yang sering lebih dikenal dengan nama Emosional Question (EQ) dan Intelectual Question (EQ).

“Kalau IQ tinggi bagus namun kalau EQ tidak dikendalikan, maka akan berdampak buruk bagi hidup manusia sendiri. Sesungguhnya untuk menghapus kekerasan itu bukan hal yang mudah namun dapat dikendalikan agar tidak menimbulkan korban dan merugikan pelaku sendiri,” Ucapnya.

Untuk kekerasan, Ujar Enembe, Papua termasuk salah satu provinsi di Indonesia dengan tingkat kekerasan paling tinggi menurut UNDP, dalam Indeks PembangunahManusia (IPM) 2013 peringkat pembangunan manusia Indonesia masih berjalan di tempat dimana Indonesia berada di peringkat 108 dari 287 negara.

“Kekerasan yang terjadi di Papua cukup variatif antara lain kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan dan anak di sekolah, dan kekerasan terhadap perempuan dan anak di tempat kerja,” katanya.

Menanggapi itu, dirinya menilai, kedepan perlu ada penanganan yang lebih baik dan benar. Oleh karena itu, pelatihan paralegal anak yang dilaksanakan ini merupakan salah satu yang wajib dilakukan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak secara umum dan Kota Jayapura secara khusus.

“Pelatihan paralegal anak bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendamping akan pemahaman, pengetahuan dan pendampingan hukum bagi kita yang bekerja dengan isu perlindungan korban dan pelaku tindak kekerasan dan untuk mewujudkan visi Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera,” kata Enembe.

Sementara itu, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Papua, Anike Rawar mengatakan kegiatan yang dilakukan oleh pihaknya dalam rangka memberikan pemahaman kepada para pendamping, sehingga melalui kegiatan tersebut dapat menjadikan para pendamping mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi dilapangan.

“Kita berharap kedepan ada tenaga terampil yang dapat melakukan pendampingan bagi anak korban kekerasan di tingkat komunitas, serta anak dapat mengakses keadilan hukum secara mudah sederhana,” kata Anike Rawar. (Alexander Loen)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Gubernur : Kekerasan Mematikan Karakter Manusia