Pupuk Organik Solusi Kelangkaan Pupuk di Merauke

share on:

sayur-sayuran
Sayur-sayuran dari pupuk organik hasil kerja keras Mama-Mama Papua. Sayur itu sedang dipotong dan siap dijual. Jubi/Frans L Kobunpu[p
Merauke, Jubi – Disaat petani Merauke berteriak mengenai kelangkaan pupuk, bagi Bruder Johny Kilok potensi pupuk organik merupakan peluang untuk mengatasi kelangkaan pupuk anorganik yang terjadi di Kabupaten Merauke.

Hal itu dapat terbukti dengan penggunaan pupuk organik dari hasil kerja kerasnya bersama Mama-Mama Papua di Kampung Kamanggi, Distrik Tanah Miring. Dimana, pupuk yang dihasilkan, berhasil dipergunakan untuk memupuk sayur-sayuran di areal yang dibuka, tanpa harus dengan memanfaatkan pupuk anorganik produksi pabrik.

Kepada Jubi di lahan sayur-sayuran di Kampung Kamanggi Sabtu (28/3/2015), Bruder Johny Kilok mengatakan, berbicara tentang pupuk, potensi alam di Kabupaten Merauke sangat menjanjikan untuk bisa diolah menjadi pupuk organik. “Saya ingin mengatakan, hasil sayur-sayuran yang ada, tidak menggunakan pupuk urea atau jenis lain. Tetapi pupuk organik dari hasil olahan saya bersama Mama-Mama Papua,” tuturnya.

Untuk pupuk dasar yang digunakan, demikian Bruder Johny, adalah menggunakan kotoran ternak. Juga sepanjang alur rawa tumbuh enceng gondok serta sekam dari hasil penggilingan padi. “Itu kami olah sekaligus campurkan dan dihambur di bedeng sebagai langkah awal,” katanya.

Dari situ, lanjut Bruder Johny, guna merangsang pertumbuhan batang, daun maupun bunga dari sayur-sayuran menggunakan pupuk organik cair dengan bahan dasar dari mangga yang diblender hingga mendapatkan 20 liter. Selain itu, juga air kelapa 20 liter, gula pasir 15 kilogram dan M-4 dicampurkan air 20 liter. Semuanya diracik dan difermentasi selama 14 hari.

Pada hari ketujuh, campuran bahan dibuka dan dicium kembali. Kalau memunculkan aroma harum, ditutup kembali hingga 14 hari lagi. Tetapi jika aroma kurang baik, bisa ditambah M-14. Setelah batas waktu itu, campuran bahan sudah dapat digunakan dan atau dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Andreas Ndikon, salah seorang warga Kampung Kamanggi menuturkan, selama ini, mereka tidak berpikir untuk bagaimana harus menyisihkan uang guna membeli pupuk. Karena telah ada pupuk organik dari pengolahan yang dilakukan Bruder Johny Kilok.

“Ada ilmu baru yang kami dapatkan, setelah Bruder Johi melatih Mama-Mama Papua termasuk kami disini. Ya, hasil sayur-sayuran sudah bisa dilihat sekarang. Dimana, sangat segar dan diserbu banyak orang,” tuturnya. (Frans L Kobun)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pupuk Organik Solusi Kelangkaan Pupuk di Merauke