Taktik Partai Golkar “Menunda Kehamilan”

share on:
ilustrasi - IST
ilustrasi – IST

Oleh : Nasarudin Sili Luli

Jayapura, Jubi – Saya mengibaratkan Partai Golkar adalah nyonya tua dengan usia lajut yang masih tetap mau melahirkan jabang bayi di kalah usianya suda uzur, karena itu proses kehamilan menjadi hal yang sangat ditunggu oleh setiap wanita yang sudah menikah. Saat-saat melihat testpack dan mengetahui bahwa akhirnya ada makhluk kecil hidup dalam tubuh kita merupakan saat-saat yang luar biasa. Apalagi jika merupakan kehamilan anak pertama maka tentu perasaan bahagia yang dirasakan pastilah tidak bisa terungkap dengan kata-kata. Bagaiamana dengan partai Golkar ? Saya memulai menulis opini kali ini berkat celotehan salah satu tokoh terkenal Yousri Nur Raja Agam,beliau mengatakan Partai Golkar, diibaratkan sebagai makhluk hidup, Ia lahir dan bisa melahirkan. Kendati lahir di zaman Orde Lama (Orla) yang dipimpin Bung Karno, tanggal 20 Oktober 1964, Golongan Karya (Golkar), ternyata hidup subur di zaman Orde Baru (Orba) yang dipimpin Pak Harto. Dia tidak “mati”, ketika Pak Harto dilengserkan eksponen gerakan Reformasi.

Kelahiran Golkar berawal dari kesepakatan tiga pimpinan pilar Organisasi Massa (Ormas): Kosgoro (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong) pimpinan Mas Isman (alm), SOKSI (Sentral Organisasi Kekaryaan Swadiri Indonesia) pimpinan Suhardiman dan MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong). Ke tiga pimpinan Ormas Tri Karya ini, merangkul puluhan Ormas lainnya, berdiri sebuah Sekretariat Bersama (Sekber), bernama Sekber Golkar.

Memasuki era Orba, Golkar yang merupakan tempat penyaluran aspirasi rakyat yang tidak menjadi anggota Partai Politik (Parpol) – disebut sebagai anggota Golongan – itu, ternyata dijadikan kendaraan politik oleh rezim Presiden Soeharto. Tahun 1965 hingga 1971, Pak Harto berkuasa atas mandat MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara). Kemudian melalui enam kali Pemilihan Umum (Pemilu) – yaitu tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 – Golkar selalu mengalahkan Parpol lainnya.

Tahun 1971 Golkar mengalahkan sembilan Parpol dan tahun 1977 sampai 1997 mengalahkan dua Parpol yang merupakan fusi sembilan Parpol itu, yaitu PDI (Partai Demokrasi Indonesia) dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan).

Saat pergolakan politik terjadi dengan lahirnya Era Reformasi, rezim Orba tumbang bersamaan dengan lengsernya Pak Harto. Namun demikian, terjadi keajaiban luar biasa. Kalau di dunia lain, apabila sebuah rezim tumbang, maka Parpol pendukungnya ikut hancur. Tetapi tidak demikian dengan Golkar yang sudah berubah menjadi Partai Golkar. Parpol ini mampu menduduki tempat ke dua pada Pemilu 1999 di bawah PDI yang berganti nama menjadi PDI Perjuangan. Padahal peserta Pemilu waktu itu ada 48 Parpol. Bahkan lebih mengejutkan lagi pada Pemilu 2004, Partai Golkar kembali menduduki peringkat pertama.

Kekuatan Golkar itu berkat pembinaan yang cukup matang. Di samping sebagai rezim yang berkuasa, Golkar didukung oleh ormas yang dilahirkan, yang disebut Panca Karya. Ormas yang merupakan kepanjangan tangan Golkar itu adalah: AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia). HWK (Himpunan Wanita Karya), MDI (Majelis Dakwah Islamiyah), Pengajian Al Hidayah dan Satkar (Satuan Kerja) Ulama.

Ketika Golkar berubah menjadi Parpol, maka Partai Golkar bisa “terbang” dengan dua organisasi sayapnya: AMPG (Angkatan Muda Partai Golkar) dan KPPG (Kesatuan Perempuan Partai Golkar). Dengan demikian, kemuatan Tri Karya dan Panca Karya, semakin kokoh.

Taktik Melahirkan Bayi Parpol
Di masa Orba, Ketua Umum Golkar “memang” dihasilkan dari Munas, tetapi itu hanya formalitas, sebab yang menentukan adalah Ketua Dewan Pertimbangan (Wantimbang), yaitu Pak Harto. Namun di era reformasi, Partai Golkar benar-benar bangkit dengan kemandirian yang demokratis.
Golkar yang berubah menjadi Parpol menyelenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) 9-11 Juli 1998. Bak keluar dari cengkeraman kekuasaan, dalam Munaslub itu terjadi pergolakan. Golkar pecah menjadi dua kubu. Kubu yang satu berpihak kepada Akbar Tandjung yang didukung BJ Habibie, Wiranto, dan Feisal Tanjung. Kubu kedua, Edy Sudrajat yang didukung Try Sutrisno dan Hayono Isman. Ternyata dalam Munaslub itu, Akbar Tanjung berhasil menduduki ketua umum.

Kubu Edy Sudradjat menggalang kekuatan di luar, dan tanggal 15 Januari 1999 mendirikan Parpol “sempalan” bernama: Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) yang kemudian berubah nama menjadi PKPI (PKP Indonesia).

Tidak hanya PKP yang lahir dari perut Golkar, menyusul kemudian Partai Demokrat (PD). Namun kelahiran bukan akibat kisruh Munas. Saat Sidang Istimewa MPR tahun 2001, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak didukung Partai Golkar saat pemilihan wakil presiden mendampingi Megawati. SBY kemudian mendirikan Partai Demokrat.

Ini lain lagi, juga bukan akibat kisruh Munas, tetapi kekecewaan terhadap Golkar. Tahun 2002, keluarga Soeharto dan loyalis Soeharto, seperti Sri Hardiyanti Rukmana alias Tutut Soeharto atau Mbak Tutut, bersama Ary Marjono mendirikan partai baru PKPB (Partai Karya Peduli Bangsa).

Untuk menjaring calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2004, Partai Golkar melakukan konvensi. Dari internal Partai Golkar muncul nama Wiranto dan Prabowo Subianto. Hasilnya, Wiranto terpilih menjadi capres berpasangan dengan Solahuddin Wahid. Ketika Pilpres, pemenangnya SBY- JK. Karena JK (Jusuf Kalla) yang merupakan kader Golkar, kelihatan Golkar tidak sepenuh hati mendukung Wiranto. Akibat kekalahan Wiranto-Solahuddin Wahid itu, Wiranto yang kecewa mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) tahun 2006.

Dua tahun berikutnya, tahun 2008, Prabowo Subianto mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Menyusul tahun 2009 Partai Golkar Munas di Pekanbaru. Saat itu Aburizal Bakrie alias Ical yang didukunng Akbar Tanjung dan Agung Laksono mengalahkan kubu Surya Paloh. Dan Ical berjaya menduduki kusi Ketum DPP Partai Golkar masabakti 2009-2014.

Setahun kemudian, Surya Paloh yang kecewa membentuk Ormas Nasional Demokrat (Nasdem). Setelah merasakan Ormas Nasdem makin kuat, Surya Paloh menyatakan mundur dari Partai Golkar dan tahun 2010 mendirikan Partai Nasdem.

Jadi, Partai Golkar telah melahirkan enam Parpol “sempalan”, yakni: PKPI (1999), Demokrat (2001), PKPB (2002), Hanura (2006), Gerindra (2008), Nasdem (2010).

Taktik Partai Golkar Menunda Kehamilan ?
Motif ideologis pernah mengemuka pada masa berdirinya Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar pada 20 Oktober 1964. Organisasi yang digerakkan oleh Angkatan Darat ini merupakan wadah bagi kelompok-kelompok anti-komunis. Pada era Orde Baru, unsur pragmatis mulai mengemuka, meski Golkar sekadar berposisi sebagai party of the ruler alias parpolnya penguasa, bukan the ruling party atau parpol yang berkuasa. Pada masa Reformasi awal, ketika Akbar Tandjung menjadi pemimpin, motif mempertahankan eksistensi Golkar lebih dominan, meski setelah Munas Bali pada akhir 2004 motif pragmatis semakin besar hingga dewasa ini.

Meski demikian, Golkar memiliki para sesepuh dan tokoh-tokoh senior yang berpotensi mempersatukan kembali elite-elite yang bertikai. Keberadaan mereka penting, mengingat partai ini berbeda dengan beberapa partai lainnya. Golkar memang bukan bercorak “partai dinasti”, yang ditandai oleh sosok sentral yang kuat. Mereka harus turun gunung untuk mengupayakan terwujudnya Golkar bersatu. Namun inisiatif rekonsiliasi Golkar juga bisa hadir dari kalangan muda. Misalnya, di lingkup kalangan muda, kedua kubu melebur dalam gerakan rekonsiliasi dan mendesak elite-elite yang bertikai untuk merekat kembali dalam satu Golkar milik semua.

Karena sudah ada dua versi kepengurusan Golkar saat ini, dalam konteks rekonsiliasi, kedua belah pihak yang bertikai sebaiknya berikhtiar mendinginkan suasana. Konflik harus disikapi secara damai sehingga tidak terjadi lagi kekerasan fisik. Kesabaran para elite yang menginginkan rekonsiliasi dari kedua kubu memang diuji betul dalam konflik Golkar kali ini. Namun ikhtiar rekonsiliasi tetap ada batasnya. Rekonsiliasi bisa terwujud lebih cepat atau bersamaan dengan persiapan menjelang Pemilu 2019. Namun, kalau lebih dari itu, pola zero sum game-lah yang terjadi. Walhasil, hal itu berarti mungkin akan ada parpol baru baik sebelum maupun sesudah 2019.

Apa pun ujung dari perpecahan Golkar kali ini, semua pihak tetap harus dapat menarik pelajaran soal mengapa parpol bisa pecah dan betapa pentingnya parpol yang kuat. Golkar bisa kembali bersatu dan tetap menjadi parpol besar, atau memilih menjadi fosil. Semua itu bergantung pada para elitenya, terutama seberapa canggih mereka merekonsiliasi diri.

Wallahualam bissawaab. (*)

Penulis adalah Humas ,Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI DAERAH PAPUA)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Taktik Partai Golkar “Menunda Kehamilan”