Peru Dihantam Krisis Setelah Kongres Berhentikan Perdana Menteri

share on:
Presiden Peru Ollanta Humala. Foto: www.acercandonaciones.com
Presiden Peru Ollanta Humala. Foto: www.acercandonaciones.com

Lima, Jubi/Antara/AFP – Presiden Peru Ollanta Humala harus mencari perdana menteri baru setelah Kongres pada Selasa memberhentikan kepala pemerintahan, Ana Jara, karena skandal mata-mata.

Jara diberhentikan melalui mosi tidak percaya pada Senin malam waktu setempat setelah muncul pemberitaan bahwa Direktorat Intelejen Nasional (DINI) memata-matai sejumlah politisi, wartawan, kelompok usaha, dan ribuan warga.

Jabatan Jara sebagai perdana menteri digoyang sejak 19 Maret, saat majalah “Correo Semanal” menyiarkan daftar warga Peru diduga menjadi sasaran mata-mata DINI.

Saat dipanggil Kongres, Jara (46) mengatakan bahwa kegiatan mata-mata itu dilakukan oleh setidak-tidaknya dua pemerintahan terdahulu. Wanita itu juga mengaku memerintahkan penyelidikan terhadap DINI.

Namun, kelompok oposisi tidak puas atas penjelasan Jara dan menyerangnya karena tidak berhasil menghentikan praktik mata-mata terhadap warga sendiri. Dalam pemungutan suara, 72 dari 114 anggota parlemen memilih mosi tidak percaya.

Akibat putusan itu, kabinet bentukan Jara bubar. Presiden Humala mempunyai wewenang untuk mengangkat kembali menteri-menteri yang ada saat ini jika sudah mengangkat perdana menteri baru.

Kemelut politik itu tantangan terbesar bagi Humala sejak menjabat sebagai presiden pada 2011.

Presiden kiri itu kini hanya mempunyai waktu 72 jam untuk mencari perdana menteri ketujuh dalam empat tahun terakhir.

Humala kemudian harus memperoleh persetujuan dari Kongres sebelum perdana menteri baru diangkat. Namun jika dewan legislatif menolak pilihannya, presiden berhak membubarkan Kongres dan menggelar pemilihan umum.

Mosi tidak percaya kepada Jara adalah yang pertama sejak 1963.

Dalam Twitter-nya, Jara sendiri mengatakan “berterimakasih kepada Tuhan atas kesempatan mengabdi kepada negara melalui lembaga eksekutif. Adalah sebuah kehormatan untuk diberhentikan oleh Kongres”.

Sementara itu, menurut anggota Kongres, Victor Isla, aktivitas mata-mata oleh DINI sudah berlangsung sejak 2005 “dan pemerintah tidak melakukan apa-apa”.

“Sekarang, seseorang yang berniat melakukan sesuatu terhadapnya justru diberhentikan,” kata dia.

Di sisi lain, ketenaran Humala sebagai presiden semakin turun akibat skandal terbaru. Sebelumnya dia didera oleh sejumlah persoalan seperti dugaan pencucian uang terhadap istrinya. Dia juga sempat menghadapi gelombang demonstrasi oleh kelompok pribumi Peru atas aktivitas penambangan dan pengeboran minyak.

Peru, yang merupakan negara produsen emas terbesar kelima di dunia, mencatatkan pertumbuhan ekonomi paling rendah dalam lima tahun terakhir pada 2014 lalu (2,35 persen) karena lambatnya sektor pertambangan. (*)

Editor :
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Peru Dihantam Krisis Setelah Kongres Berhentikan Perdana Menteri