Warga Daerah Terpencil Harapkan Perpustakaan Desa

share on:

Amuntai, Jubi/Antara – Warga daerah terpencil di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan berharap mendapat bantuan pembangunan perpustakaan desa untuk membantu meningkatkan wawasan dan pengetahuan warga desa.

Staf bagian pelayanan Kantor Perpustarda Hulu Sungai Utara (HSU), Ahmad Saini, di Amuntai, Senin (6/4/2015), mengatakan kepedulian masyarakat di daerah terpencil terhadap pembangunan sarana pendidikan patut mendapat apresiasi.

Seperti warga masyarakat beberapa desa di Kecamatan Paminggir Kabupaten Hulu Sungai Utara yang rela menghibahkan tanah untuk pembangunan sarana perpustakaan desa.

Berdasarkan proposal yang masuk ke Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (Perpustarda) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), sebanyak empat desa di Kecamatan Paminggir sudah mengajukan permohonan yang diantaranya siap menghibahkan tanah pribadi untuk dibangunkan perpustakaan desa.

Empat desa tersebut yakni Desa Bararawa, Tampakang, Paminggir dan Sapala, namun hanya Sapala yang belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Meski bantuan berupa 1000 buah buku (500 judul) dan rak buku 2 unit telah diserahkan kepada masing-masing perpustakaan desa, namun anggaran untuk membangun tempat bagi perpustakaan desa tidak pernah ada.

“Memang banyak desa yang siap menghibahkan tanah untuk pembangunan tempat perpustakaan yakni sebanyak 8 desa, namun anggarannya tidak tersedia sehingga, sehingga sebagian besar kegiatan perpustakaan desa masih digelar di rumah-rumah warga, kepala desa dan balai desa,” katanya.

Ahmad Saini mengatakan dari sebanyak 56 desa yang sudah memiliki aktivitas perpustakaan desa sebanyak 70 persen masih melaksanakannya di rumah-rumah warga atau rumah kepala desa, sedangkan 30 persen melaksanakannya di balai desa.

“Hanya dua buah perpustakaan percontohan yang dibangunkan sarana gedung yakni di Kecamatan Danau Panggang dan Sungai Pandan di mana dana pembangunannya dari bantuan provinsi” jelasnya Saini berharap, seiring meningkatnya anggaran Alokasi Dana Desa (ADD) diharapkan sebagian dana bisa diperuntukkan bagi membangun sarana perpustakaan desa.

Ia mengatakan, pemerintah provinsi siap menambah bantuan buku jika masyarakat mau membangun sendiri tempat untuk perpustakaan desa.

Sedangkan adanya bantuan berupa buku dan rak buku dari APBD Kalsel, Terangnya hanya dihibahkan satu kali saja kepada masing-masing perpustakaan desa, selanjutnya tidak ada lagi bantuan buku, sehingga Perpustarda HSU mengharapkan sharing melalui APBD HSU untuk penambahan buku-buku bagi perpustakaan desa.

Pihak Perpustarda setiap tahunnya menganggarkan sekitar Rp 100 juta untuk honor petugas perpustakaan desa. Setiap perpustakaan desa hanya dikelola satu petugas dengan honor Rp 125 ribu per bulan, dengan total jumlah petugas perpustakaan desa di HSU sebanyak 56 orang.

Di tengah keterbatasan sarana perpustakaan desa ini, Saini bersyukur masih terdapat satu perpustakaan di Desa Tapus Dalam yang masuk 10 besar lomba di tingkat nasional 2013.

Akhir 2014, lanjut Saini, sebanyak 10 buah proposal pengajuan bantuan buku dan rak buku diterima pihak Perpustarda HSU namun hanya sebanyak 8 desa yang disetujui untuk diberi bantuan pada 2015 ini.

“Sisanya milik Desa Tambalang Tengah dan Sapala akan direalisasikan bantuannya di 2016,” kata Ahmad Saini.

Desa Sapala, kata Ahmad Saini, salah satu desa yang warganya bersedia menghibahkan tanah untuk dibangunkan gedung perpustakaan desa.

Sebagai satu desa terpencil di Kecamatan Paminggir ini, warga Sapala berharap bisa memiliki sarana perpustakaan desa untuk memotivasi warganya gemar membaca untuk meningkatkan pengetahuan.

Jasmuni warga Desa Sapala sampai bahkan bersedia menghibahkan tanah pribadinya untuk pembangunan perpustakaan desa.

Saniah salah seorang kerabat Jasmuni menuturkan, umumnya, warga desa Sapala memiliki kepedulian tinggi untuk memajukan pendidikan anak-anak dengan menambah koleksi bacaan buku melalui perpustakaan desa.

“Melalui perpustakaan desa, Jasmuni berharap bisa pula memotivasi para orang tua dan anak-anak yang tidak sekolah untuk ikut belajar di perpustakaan” kata Saniah.

Ia mengatakan meski di desanya sudah berdiri sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama (SMP) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta, madrasah dan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) namun jumlah anak yang tidak sekolah dan putus sekolah masih cukup banyak.

“Banyak anak berhenti sekolah saat di bangku SMP karena para orang tua beranggapan pendidikan tidak bisa menjamin untuk mendapatkan pekerjaan” katanya.

Banyak anak-anak di Desa Sapala yang berhenti sekolah dan bekerja menangkap ikan guna membantu orang tua mereka. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Warga Daerah Terpencil Harapkan Perpustakaan Desa