SD Solus Populi Didik 169 Anak Asli Amungme – Kamoro

share on:
Kepala Sekolah Dasar (SD) YPPK Seminari Solus Populi SP3, Distrik Kuala Kencana, Suster M Bernarda, PRR (Jubi/Istimewa/Alverina)
Kepala Sekolah Dasar (SD) YPPK Seminari Solus Populi SP3, Distrik Kuala Kencana, Suster M Bernarda, PRR (Jubi/Istimewa/Alverina)

Timika, Jubi  –  Kepala Sekolah Dasar (SD) YPPK Seminari Solus Populi SP3, Distrik Kuala Kencana, Suster M Bernarda, PRR mengatakan, sebanyak 169 anak ini mengisi enam ruang kelas, mulai kelas I sampai kelas VI Sekolah Dasar (SD), semuanya merupakan anak asli Suku Amungme – Kamoro.

“Anak-anak yang dibawa ke sini berasal dari dua suku, yaitu Amungme dan Kamoro (Amor). Anak-anak Kamoro berasal dari Kampung Ipaya (Ipiri, Paripi dan Yaraya di Distirk Mimika Barat), Kampung Miyoko, serta dari Paomako sampai Koperapoka dalam kota Timika. Sedangkan anak Amungme direkrut di Akimuga,” ujar Sr Bernarda, PRR,  kepada wartawan saat ditemui, Senin (20/4).

Demikian juga situasi anak-anak asal Kamoro dan suku-suku lain di Lembaga Pendidikan Katolik di bawah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Solus Populi SP3, yang dibangun oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) dan dikelola oleh Keuskupan Timika.

Sejak sekolah ini beroperasi pada 7 Februari 2014 lalu, awalnya menampung 169 murid. Mereka (siswa,red) merupakan pindahan dari beberapa sekolah di Kota Timika, dan kampung di pesisir dan pedalaman. Karenanya, siswa yang bersekolah merupakan kumpulan anak-anak dari dua suku besar yang ada di Mimika. Dan sekolah ini menerapkan pola asrama, sehingga siswa yang belajar disini benar-benar mendapatkan pembelajaran dan pembinaan yang intensif.

Sr. Bernarda menambahkan, 169 anak ini mengisi enam ruang kelas, mulai kelas I sampai kelas VI Sekolah Dasar (SD).  Proses pembinaan dan pembelajaran yang dilakukan sekolah ini, menggunakan dua pola, yakni pola pendidikan sekolah dan asrama. Selain itu juga dibina dengan pembinaan keagamaan, yakni iman Katolik dan kehidupan berasrama.

“Saat ini ada 6 anak yang sudah siap ikut Ujian Sekolah (US) pada tanggal 18 Mei 2015 mendatang,” tambahnya.

Ia juga mengatakan, sampai saat ini sekolah ini belum genap berumur satu tahun. Waktu ini, tentulah bukan ukuran yang panjang. Karena pendidikan merupakan suatu proses, yang harus ditempuh. Proses yang dilalui, tentunya ditemukan suatu kendala dalam proses pembelajaran dan pembinaan terhadap anak-anak ini. Terlihat ada beberapa siswa yang meninggalkan sekolah dan asrama. Dan inilah proses yang harus dilalui untuk mendidik anak-anak Mimika dari dua suku ini.

“Tak semua anak merasa kerasan tinggal di asrama dan sekolah. Banyak anak meninggalkan sekolah dan asrama dengan beragam alasan dan faktor,” katanya.

Saat ini, katanya jumlah murid tersisa 132 anak. Puluhan anak keluar meninggalkan sekolah dan asrama, akibat desakan orangtua dan lingkungan luar sekolah. Orangtua kangen, rindu, lalu mengambil anaknya begitu saja tanpa pemberitahuan. Bahkan hal itu terjadi saat KBM sedang berlangsung di sekolah.

“ Kami sudah memberikan pemahaman kepada orang tua, akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Dari penjelasan tersebut, ada yang mengerti dan ada yang tidak,”tuturnya.

Walaupun begitu, dia menambahkan, pihaknya tidak akan putus asa dalam melayani masyarakat, khususnya anak-anak dua suku di Mimika ini untuk mendapatkan pendidikan. Karenanya, ditahun ajaran baru 2015/2016 nanti, pihaknya akan turun ke kampung-kampung. Tujuannya tidak lain, untuk menyakinkan orang tua akan pentingnya pendidikan.

“ Saya yakin, lambat laun orang tua akan paham dan sadar, bahwa kekayaan yang tertinggi adalah pendidikan. Karena pendidikanlah yang akan bermanfaat bagi anak-anak mereka,”ujarnya.

Sementara itu, Rektor Seminari Sekolah dan Asrama Solus Populi SP III Timika, Pastor Gabriel Tukan, SCJ mengatakan, sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan anak mesti diberitahukan kepada orangtua anak-anak lokal, terutama asal Kamoro di pesisir Pantai Selatan Mimika.

“Anak-anak sebenarnya bisa, kecuali orangtuanya menghambat anak mengikuti proses kegiatan belajar dan mengajar. Maka sosialisasi perekrutan anak masuk asrama mesti dilakukan terhadap orangtuanya,” katanya selama sembilan bulan mengoperasikan sekolah swasta itu. (Eveerth Joumilena)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  SD Solus Populi Didik 169  Anak Asli Amungme – Kamoro