Fiji: PACER-Plus “Tidak Seimbang”

share on:
Menteri Perindustrian, Perdagangan dan Pariwisata, Faiyaz Koya. Foto: pemerintah Fiji.
Menteri Perindustrian, Perdagangan dan Pariwisata, Faiyaz Koya. Foto: pemerintah Fiji.

Jakarta, Jubi – Pemerintah Fiji mengatakan perjanjian perdagangan Pasifik, PACER-Plus, tidak seimbang dan perlu penyesuaian untuk lebih melayani wilayah-wilayah Pasifik.

Negosiasi PACER-Plus dimulai pada 2009, mencakup kesepakatan perdagangan barang dan jasa, investasi, mobilitas tenaga kerja dan pembangunan.

Fiji TV melaporkan, Menteri Perindustrian, Perdagangan dan Pariwisata, Faiyaz Koya, mengatakan potensi pertumbuhan besar jika semua pihak setuju pada prinsip kemitraan yang setara.

“Tujuan utama Fiji adalah untuk memastikan PACER-Plus hidup sampai dapat tujuan perjanjian pembangunan, dan bukan sebagai suatu perjanjian yang tidak seimbang dimana Selandia Baru dan Asutralia menyediakan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya ke pasar Pasifik tanpa memberikan sesuatu yang nyata dan mengikat kembali,” kata Faiyaz Koya kepada Fiji TV, mengutip Radio New Zealand, Rabu (22/4/2015).

Negosiator perdagangan dari seluruh Pasifik akan bertemu bulan berikut dengan rekan-rekannya dari Australia dan Selandia Baru di Port Vila, Vanuatu, untuk membahas perjanjian tersebut.

Sementara itu, Kepala Penasihat Perdagangan untuk negara-negara Kepulauan Pasifik, Edwini Kessie, membela perjanjian yang direncanakan PACER-Plus, ia mengatakan itu merupakan kesempatan penting bagi wilayah tersebut.

Negosiasi PACER-Plus antara Australia, Selandia Baru dan 14 negara Pulau Pasifik, termasuk perjanjian wilayah pada perdagangan barang dan jasa, investasi, mobilitas tenaga kerja dan pembangunan, diharapkan akan selesai pada akhir tahun ini.

Kessie mengatakan klaim negara tidak akan memiliki kemampuan untuk mengatur, dan bahwa Australia dan Selandia Baru akan memiliki akses tak terbatas ke pasar Pasifik, tidak benar.

Dr Kessie mengatakan kesepakatan akan berarti peningkatan akses pasar untuk produk Pasifik, bantuan pembangunan yang lebih dan peningkatan mobilitas tenaga kerja.

“Pulau-pulau yang sangat rapuh. Dan tanpa perjanjian perdagangan yang kuat dengan negara-negara tidak dapat berkembang di bagian belakang hanya menerima bantuan pembangunan. Jadi, gambar perjanjian perdagangan belum tentu untuk kepentingan negara-negara Kepulauan Pasifik, saya pikir itu adalah terdistorsi tampilan,” kata Kessie.

Negara-negara Kepulauan Pasifik telah diberikan waktu sampai Desember untuk menyelesaikan negosiasi. (Yuliana Lantipo)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Fiji: PACER-Plus “Tidak Seimbang”