LPA Mimika Pendataan Anak, Banyak Putus Sekolah

share on:
Pengurus LPA Mimika, saat foto bersama dengan anak - anak usia sekolah di Gorong - Gorong, Timika (Jubi/Eveerth)
Pengurus LPA Mimika, saat foto bersama dengan anak – anak usia sekolah di Gorong – Gorong, Timika (Jubi/Eveerth)

Timika, Jubi  –  Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Mimika giatkan program kerja dengan mengunjungi anak – anak di wilayah Pasar Gorong – Gorong, sekaligus melakukan pendataan awal,  namun terungkap banyak yang putus sekolah, Jumat  (8/5/2015).

Hal ini dikatakan, Ketua LPAI Mimika, Yolanda Ivon. Dia menjelaskan, kegiatan tersebut adalah kegiatan awal dengan mendatangi secara langsung anak  – anak yang berada di wilayah Gorong – Gorong.

“Ini sudah merupakan program kerja, namun kegiatan awal hanya ajak anak – anak bercerita dan bermain, lalu kami mendata, sehingga dengan data ini kita bisa mengetahui berbagai kebutuhan kedepan, dalam rangka memberikan perlindungan kepada anak – anak generasi penerus bangsa ini,” ujar Ivon, kepada tabloidjubi.com, di lokasi kegiatan, Jumat (9/5/2015).

Dikatakan, dari pendataan awal tercatat sekitar  70 orang anak , dengan data ini  kedepannya bisa ada langkah – langkah selanjutnya, artinya kegiatan kedepan akan lebih efektif dengan data yang ada, termasuk dalam upaya memberikan perlindungan atas kebutuhan anak.

“Tentunya ini langkah awal sesuai fungsi tugas kami, selain meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat dalam perlindungan anak,  membangun sistem dan jejaring pengawasan perlindungan anak serta meningkatkan jumlah dan kompetensi pengawasan terhadap anak,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris LPA Mimika, Vincent Apoka menuturkan, pihaknya sangat senang karena bisa melayani secra langsung anak – anak di Gorong – Gorong.

“Kami harapkan dengan data ini, kita bisa kerjasama nantinya dengan pemerintah daereah, dalam hal ini dinas terkait untuk memikirkan sebuah program terbaik, karena ada anak – anak yang putus sekolah, anak – anak hisap aibon, bahkan ada yang tidak memiliki orang tua ayah dan ibu, semua ini harus mendapat perlindungan dan pertolongan, sebab semuanya adalah anak – anak penerus pembangunan di daerah ini,” tandasnya.

Dari pantauan di lapangan, sejumlah anak – anak usi sekolah yang di data, ada yang putus sekolah, karena faktor ekonomi orang tua serta ada yang tidak memiliki orang, bahkan ada yang sekolah namun kesulitan biaya suti, sehingga hal ini penting menjadi perhatian pemerintah daerah. (Eveerth Joumilena)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  LPA Mimika Pendataan Anak, Banyak Putus Sekolah