Wawancara : Menangani Papua ala Presiden Jokowi

share on:
Ibu Iriana, Presiden Jokowi bersama wartawan AlJazeera Step Vaessen dan Bobby Gunawan (paling kanan) dam Wartawan Jubi, Victor Mambor usai melakukan wawancara ekslusif di LP Abepura - Dok. Jubi
Ibu Iriana, Presiden Jokowi bersama wartawan AlJazeera Step Vaessen dan Bobby Gunawan (paling kanan) dam Wartawan Jubi, Victor Mambor usai melakukan wawancara ekslusif di LP Abepura – Dok. Jubi

Jayapura, Jubi – Kunjungan Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) ke Jayapura, Provinsi Papua 9-10 Mei lalu mengagendakan peninjauan Pasar Pharaa di Sentani, Peresmian Gedung Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Papua, Peninjauan jembatan Holtekamp, Peluncuran tiga “Kartu Sakti” dan pemberian grasi untuk lima tahanan politik Papua. Satu hari kemudian, Presiden Jokowi melanjutkan kunjungannya ke Merauke dan Manokwari sebelum melanjutkan perjalanannya ke Papua Nugini.

Usai upacara penyerahan grasi kepada lima tahanan politik Papua di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Abepura, Sabtu (9/5/2015), Aljazeera berkesempatan melakukan wawancara dengan Presiden Indonesia ini di ruang VIP LP Abepura. Langkah selanjutnya setelah pemberian grasi, Dialog Jakarta-Papua dan akses jurnalis asing menjadi topik wawancara ekslusif ini.

Berikut petikan wawancara Aljazeera dengan Presiden Indonesia yang dirangkum oleh Jubi.

– Bagaimana kelanjutan dari ini (pembebasan tahanan politik)
Presiden Jokowi : Kita harus membuka sebuah lembaran baru. Semuanya. Jadi tahanan-tahanan akan kita lepas dan kita akan mengajak mereka untuk membangun Papua sebagai sebuah Tanah yang Damai.

– Ada banyak tahanan politik di Papua dan Ambon, apakah anda akan membebaskan semuanya?
Presiden Jokowi : Ya semuanya. Ini baru kita mulai. Setelah itu semuanya akan kita lepas dan kita ajak untuk membangun Papua, membangun Maluku, untuk membangun Indonesia.

– Bagaimana sebaiknya tahanan politik ini dibebaskan?
Presiden Jokowi : Kalau mereka mengajukan grasi, dua minggu akan kita berikan. Tetapi kalau minta amnesti, harus ada persetujuan dari dewan. Jadi terserah. kalau mau grasi, cepat. Tapi kalau harus ke dewan lewat amnesti, saya tidak tahu apakah disetujui atau tidak.

– Tahanan politik menginginkan amnesti tapi mereka mendapatkan grasi. Tahanan politik merasa harus ada kesepakatan.
Presiden Jokowi : Tidak. Grasi itu atas inisiatif saya, bukan inisiatif dia (tahanan politik-red). Kalau dia mau itu inisiatif saya. Yang memberikan saya.

– Apa grasi ini untuk mereka juga berarti rehabilitasi?
Presiden Jokowi : Ya otomatis. Artinya mereka sudah bebas dan otomatis sudah rehabilitasi. Dan saya sudah sampaikan. Masalah-masalah sudah disampaikan kepada saya. tadi wakil gubernur sudah saya minta untuk mendampingi mereka mencari solusi. Entah pekerjaan, entah yang ada masalah kesehatan, kesehatannya. Kalau tidak bisa, maka akan saya handle langsung dari Jakarta.

– Mungkin ada kebingungan pada mereka (tahanan politik yang diberikan grasi) apakah akan diberikan grasi atau amnesti. Salah satu dari mereka mengatakan kecewa karena mengira akan diberikan amnesti.
Presiden Jokowi :Tidak. Sudah kita jelaskan. Saya kira mereka sudah tahu bahwa ini inisiatif presiden. Bukan dari dia (tahanan politik-red).

– Apakah ini berarti mereka bebas dari semua kesalahan mereka?
Presiden Jokowi : Ya sudah. Sudah diberikan (grasi-red)

– Sebagian orang berpendapat ini hanyalah pencitraan saja.
Presiden Jokowi : Tidak. Ini sudah kita persiapkan sejak bulan Desember. Kita sudah berbicara dengan semuanya di sini. Tapi memang perlu waktu. Perlu tahapan-tahapan dan kita ingin semuanya. Tapi juga tidak bisa. Hanya bisa lima. Ya sudah. Nanti tahapan lagi kalau bisa semua, kita ingin secepatnya menyelesaikan.

– Pemimpin Papua menginginkan dialog dengan pemerintah, yang saat ini anda adalah presidennya. Apakah anda akan melakukan dialog politik dengan rakyat Papua?
Presiden Jokowi : Di Papua sudah tidak ada masalah. Dialog untuk apa? Saya sudah sering ke sini. Sudah berbicara dengan ketua adat, dengan pimpinan agama, bupati, wali kota, semua sudah berbicara. Itu artinya apa? Dialog kan?

– Tapi itu tentang pembangunan dan ekonomi kan? Bukan tentang politik, situasi politik.
Presiden Jokowi : Ya politik kita di Papua, politik pembangunan, politik kesejahteraan.

– Anda tidak akan membicarakan masalah yang lalu? Masalah yang dialami rakyat Papua?
Presiden Jokowi : Tutup. Kita harus membuka lembaran baru. Kita harus menatap ke depan.

– Bagaimana dengan akses jurnalis asing ke Papua?
Presiden Jokowi : Mulai besok, (Minggu 10/5-red), untuk jurnalis asing sudah kita buka. Tidak ada masalah.

– Tidak perlu ijin khusus lagi?
Presiden Jokowi : Apa lagi? Jakarta perlu ijin? Tidak, tidak, tidak!

– Clearing house?
Presiden Jokowi : Ya, perlu tidak?

– Wartawan asing punya ijin kerja resmi di Indonesia. Tapi kalau ingin ke Papua, perlu ijin khusus.
Presiden Jokowi : Tidak, tidak, tidak

– Jadi tidak akan ada lagi clearing house?
Presiden Jokowi : Tidak!

– Jadi besok wartawan asing sudah bisa ke Papua?
Presiden Jokowi : Silahkan

– Anda yakin?
Presiden Jokowi : Saya yakin! Sudah saya sampaikan kepada jajaran disini. Di Papua, menteri, di Kapolri di Panglima TNI, sudah semuanya. Apa yang kurang?

-Bagaimana dengan penyelesaian kasus Paniai (penembakan empat siswa di Enarotali)
Presiden Jokowi : Jawabannya nanti, jangan sekarang saya jawab. Kalau sekarang saya jawab, nanti pemberian grasi ini “tenggelam”

– Terima Kasih

(Victor Mambor)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Wawancara : Menangani Papua ala Presiden Jokowi