PMI Bali: Masyarakat Tidak Terbebani Biaya Pengelolaan Darah

share on:

Denpasar, Jubi/Antara – Direktur Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Bali, dr AA Sagungmas Dwipayani, M.Kes mengharapkan masyarakat Pulau Dewata tidak terbebani biaya pengganti pengelolaan darah sebesar Rp 360 ribu saat mengambil darah untuk ditransfusikan kepada keluarganya.

“Biaya pengganti pengelolaan darah tersebut ditanggung keluarga pasien karena proses filtrasinya atau penyaringan darah itu sangat membutuhkan kehati-hatian,” kata Sagungmas, di Denpasar, Selasa (2/6/2015).

Ia mengatakan darah yang diambil dari seorang pendonor tidak dapat langsung ditransfusikan kepada pasien, namun harus menjalani proses pengolahan darah, agar terbebas dari HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C ataupun sifilis yang kemudian diambil komponen darah yang dibutuhkan.

Untuk itu, pihaknya mengharapkan keluarga pasien yang melakukan donor saat membantu keluarganya tidak terbebani biaya pengganti tersebut agar tidak berdampak pada kualitas darah yang dihasilkan.

Setelah itu, darah yang sudah difilter tersebut kemudian dilakukan tahap pencocokan sesuai golongan darah dan resus yang dibutuhkan oleh pasien.

“Oleh sebab itu, biaya yang dibebankan kepada keluarga pasien saat mengambil darah di UDD PMI Bali digunakan untuk mengganti biaya pengelolaan darah yang besarannya sudah ditetapkan oleh PMI pusat,” katanya.

Selain itu, ia mengharapkan masyarakat Bali bersedia menjadi pendonor darah rutin dan sukarela sehingga dapat membantu sesama yang membutuhkan darah itu.

“Kami ingin memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat dan menjamin kualitas darah itu aman ditransfusikan,” katanya.

Ia menambahkan dalam proses pencarian pendonor darah, pihaknya terus berupaya menyosialisasikan kepada masyarakat yang belum pernah berdonor darah bersedia menjadi pendonor aktif. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PMI Bali: Masyarakat Tidak Terbebani Biaya Pengelolaan Darah