Istilah “Energi Terbarukan” Diusulkan Diubah

share on:
Direktur World (WWF) Region Sahul Papua dan Papua Barat, Benja Victor Mambay  Menunjukan Energi Terbarukan ke Asisten II Papua Elia Loupatty - Jubi/Alex
Direktur World (WWF) Region Sahul Papua dan Papua Barat, Benja Victor Mambay Menunjukan Energi Terbarukan ke Asisten II Papua Elia Loupatty – Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Dinilai susah dimengerti, Asisten II Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Papua, Elia Loupatty menyarankan agar istilah “Energi Terbarukan” diubah menjadi bahasa yang lebih mudah dan dimengerti oleh masyarakat Papua.

“Sebagian besar masyarakat di Papua khususnya, dan Indonesia pada umumnya belum mengenal istilah Energi Terbarukan sebagai sumber energi yang diperoleh ulang seperti sinar matahari dan angin,” kata Elia Loupatty saat
Launching Dokumen Energi Terbarukan 2050 dan Dialog di hotel Aston Jayapura, Papua, Senin (15/6/2015).

Ia menjelaskan, sumber energi terbarukan adalah sumber energi ramah lingkungan yang tidak mencemari lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. “Oleh karena itu ini menjadi alasan utama mengapa energi terbarukan sangat terkait dengan masalah lingkungan dan ekologi di mata banyak orang,” tambahnya.

Ia mencontohkan, ada masyarakat di daerah tertentu yang masih menggunakan ampas kayu untuk menghasilkan energi sebagai pengganti kompor untuk memasak. Ini juga dikategorikan sebagai energi terbarukan. Namun karena istilah itu dikaitkan teknologi canggih sehingga masyarakat tidak mengetahui termasuk kotoran binatang yang bisa diubah menjadi energi listrik.

“Ini mungkin jadi hal yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh kita. Jadi sebenarnya sangat perlu kita manfaatkan apa yang telah diciptakan Tuhan di muka bumi ini misalnya matahari, air, angin dan yang lainnya,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur World Wildlife Fund for Nature (WWF) Region Sahul Papua dan Papua Barat , Benja Victor Mambay menjelaskan, kegiatan Launching dan dialog yang dilaksanakan adalah rangkaian kerja sama WWF dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral yang sudah berlangsung 1,5 tahun.

Dimana kata Benja, bersama dengan pihak ketiga dan akademisi Universitas Cenderawasih dan Universitas Musamus Merauke telah melakukan studi di lima wilayah yang mewakili tipe ekosistem. Seperti Kabupaten Merauke dan Boven Digul di wilayah Selatan Papua, Kabupaten Jayapura di wilayah Utara, Jayawijaya di wilayah Pegunungan Tengah dan wilayah Kepulauan Yapen.

“Dari hasil kajian itu, hari ini kami ingin perkenalkan visi energi baru terbarukan. Dengan harapan di 2050, seratus persen negeri ini telah menggunakan energi terbarukan,” kata Benja.

Diakuinya, ini merupakan visi yang relevan dengan apa yang diperjuangkan pemerintah Republik Indonesia dan Provinsi Papua. Targetnya adalah menurunkan emisi 26 persen dengan upaya sendiri.

“Ketika nanti ada bantuan dari luar negeri, yakni bantuan dari Pemerintahan Denmark diharapkan pada 2020 bisa turun sebanyak 20 persen,” katanya lagi

Ia menambahkan, sejauh ini pemerintah provinsi sudah memberikan dukungan dengan menyiapkan tenaga tekhnis. Selain itu WWF juga bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten/Kota Jayapura, yang mana telah dipasang alat sinar surya yang digunakan sebagai pusat penelitian energi terbarukan.

“Saya harap kerjasama dengan universitas dapat menghasilkan energi terbarukan,” ucapnya. (Alexander Loen)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Istilah “Energi Terbarukan” Diusulkan Diubah