Benarkah Persipura Terlibat Pengaturan Skor?

share on:
Prestasi Persipura di AFC 2014. berhsil masuk ke babak semi final. Persipura saat melibas Churcil Brother klub dari India.(Jubi/Ist)
Prestasi Persipura di AFC 2014. berhsil masuk ke babak semi final. Persipura saat melibas Churcil Brother klub dari India.(Jubi/Ist)

Jayapura, Jubi- Prestasi Persipura meraih Bintang Empat bukanlah prestasi yang mudah diraih. Perlu perjuangan panjang dan kerja keras, tetapi mengapa ada pihak yang meragukan kehebatan Persipura?

“Saya tidak percaya kalau Persipura terlibat dalam pengaturan skor sebab secara materi pemain mereka sudah berkualitas dan menejer Persipura yang bagus,”kata David Mayor mantan punggawa Persipura era 1980 an kepada Jubi, Kamis(19/6/2015).

Menurut mantan pemain Persipura yang kini menjadi dosen Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri(IPDN) Regional Papua mengatakan tim Persipura yang solid di dalam lapangan dan di luar lapangan sehingga membuat permainan mereka berada di atas rata-rata klub ISL di Indonesia. “Mereka sudah selevel dengan klub Asia karena sudah enam kali berlaga di level AFC,”katanya.

Sebelum data yang berhasil dihimpun Jubi menyebutkan dalam beberapa kompetisi Liga Indonesia sejak 2003-2010. Dokumen itu tertulis ada relasi antara kompetisi sepak bola dan kepentingan politik. Terutama Pilkada karena beberapa Ketua Uumum klub menjadi orang nomor satu di wilayahnya masing-masing. Bahkan laporan tersebut menuding kemenangan Persipura pada 2008-2009 karena konflik politik karena Papua Merdeka sehingga diberikan hadiah.

Padahal pantauan Jubi selama kompetisi di Indonesia, justru Persipura yang selalu dirugikan terutama teriakan bernada rasis yang menghina para pemain Persipura. Begitupula si pengadil di lapangan yang terlalu berpihak kepada tuan rumah.

Bahkan Persipura dalam Copa Indonesia di Lapapngan Jaka Baring, 2009 laga final melawan Sriwijaya FC. Mantan Ketua Umum Persipura memerintahkan para punggawa Persipura keluar lapangan karena wasit tidak adil dan memihak tuan rumah.

Mantan pemain Persipura era 1970 Nico Dimo justru menilai dalam laga final Persipura melawan Persib Bandung juga di Stadion Jakabaring Palembang. “Persipura dirugikan, mestinya saat pelanggaran terhadap Ian Luiz Kabes harusnya ada finalty tetapi wasit tidak meniup. Begitu pula kartu merah terhadap Bio Pauline,”katanya.

Mantan pelatih Persipura saat dihubungi Jubi via facebook juga mengatakan selama menukangi Persipura tak pernah ada mafia sepak bola. “Bung sendiri tahu kalau pak Kambu sendiri mengatakan kita bermain jujur dan takut akan Tuhan ,”kata Jacksen F Tiago.

Sebelumnya Rocky Bebena Sekretaris Umum Persipura mengatakan soal mafia bola dalam sepak bola, tak boleh melihat dari sebuah opini.

Dia menambahkan kalau dalam sebuah kompetisi ada indikasi kecurangan, baik itu pelanggaran saat bermain di lapangan ataupun di luar lapangan, ada komite disiplin yang memiliki hak untuk menelusuri itu atas dasar laporan dari pengawas pertandingan.

Bebena menegaskan Persipura tidak pernah mendapat hasil pertandingan dari sebuah pengaturan skor.
“Jujur saja kami manajemen Persipura tidak pernah merasakan mendapatkan kemenangan dari hasil sebuah pengaturan skor,”katanya.

Sementara itu, Panitia Pelaksana (Panpel) Persipura, Fachruddin Pasollo mengatakan Persipura tidak pernah terlibat dalam kasus mafia pengaturan skor dengan tim lain di semua ajang kompetisi, baik Indonesia Super League (ISL) ataupun AFC cup.
“Kalau ingin menuding kami terlibat dalam kasus pengaturan skor, mana buktinya?. Tunjukan buktinya kepada kami”, kata Pasollo.(Dominggus Mampioper/Munir)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Benarkah Persipura  Terlibat Pengaturan Skor?