LIPI dan Pemkab Malinau Kembangkan Laboratorium Pupuk Hayati

share on:

Malinau, Jubi/Antara – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau mengembangkan laboratorium dan sarana produksi pupuk organik hayati (POH) guna menggenjot produksi sektor pertanian Malinau.

“Harapannya laboratorium ini berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Malinau. Malinau harus gunakan mikroba lokal mengingat keanekaragaman hayati daerah ini luar biasa tinggi,” kata Kepala LIPI, Iskandar Zulkanain, saat meresmikan laboratorium pupuk organik hayati (POH) di Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), Selasa (23/6/2015).

Upaya pengungkapan potensi mikroba bermanfaat untuk POH sebenarnya sudah dilakukan sejak 2008, setelah LIPI melakukan ekspedisi di Malinau.

Pengembangan pupuk organik hayati ini bisa bermanfaat langsung bagi petani, usaha kecil menengah, hingga produsen pupuk besar.

Namun demikian, perlu upaya memaksimalkan fungsi laboratorium dengan menempatkan sumber daya manusia yang kompeten, sehingga laboratorium ini dapat menjadi yang terdepan dalam menghasilkan produk-produk penelitian dan pengembangan yang bermanfaat menyejahterakan masyarakat secara nyata.

Kendala besar bagi Malinau jika harus selalu mendatangkan pupuk organik hayati dari Jawa. Karenanya, apresiasi harus diberikan kepada Pemkab Malinau yang mau berinvestasi membangun laboratorium sekaligus sarana produksi POH yang dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Wakil Bupati Malinau, Topan Amrullah, mengatakan pengembangan laboratorium yang menghabiskan anggaran APBD Rp 2,8 miliar ini jelas sebagai bagian pemenuhan swasembada pangan di Malinau sekaligus menyumbang target ketahanan pangan nasional.

Pemanfaatan POH sesuai dengan kondisi Malinau sebagai kabupaten konservasi untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida, serta beralih menggunakan pupuk organik hayati guna mengembalikan unsur hara tanah sehingga menyuburkan lahan di Malinau.

Ia berharap MoU dengan LIPI yang dilakukan bersamaan dengan peresmian laboratorium POH ini juga dapat meningkatkan peran penelitian dan pengembangan dalam mendukung sektor-sektor lain semakin berkembang di Malinau.

Sekretaris Utama LIPI, Siti Nuramaliati Prijono, mengatakan LIPI membantu kemandirian pertanian tanpa harus tergantung dari pupuk kimia yang distribusinya sering kali sulit di daerah. Dengan teknologi ini, Malinau dapat memanfaatkan potensi mikroba lokal untuk mengembalikan unsur hara tanah dengan menghasilkan POH sendiri.

“Dengan teknologi pendukung pertanian ini bahkan Malinau berpotensi mengekspor hasil-hasil pertaniannya ke Malaysia,” katanya.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Sarjiya Antoniu, yang telah berhasil mengembangkan “POH Beyond Organic” (Beyonic) mengatakan laboratorium ini dilengkapi alat-alat laboratorium yang cukup modern seperti fermentor untuk produksi sel mikroba agen POH, alat-alat analisa biokimia POH, dan dapat memproduksi biang POH hingga 200 liter setara dengan 10.000 liter POH cair.

“Ini standar dasar laboratorium yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan agen atau menyeleksi POH, menguji laboratorium kandidat bakteri agen POH. Tapi bisa juga untuk membuat ramuan atau formula POH lain untuk rehabilitasi tanah tambang batubara, emas, atau membantu reboisasi,” katanya.

Sebagai wilayah kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Malinau masih perlu menggali potensi sumber daya alam guna meningkatkan daya saing dengan negara tetangga.

Dengan sudah adanya laboratorium dan sarana produksi POH dengan teknologi Beyonic ini di Malinau, potensi pertanian dapat semakin ditingkatkan tanpa merusak lingkungan. Manfaat aplikasi POH ini sebenarnya telah dinikmati masyarakat Malinau bahkan masyarakat di Ngawi, Wonogiri, Kebumen, dan Kulon Progo.

Sebelumnya uji coba penggunaan pupuk organik hayati telah diterapkan oleh petani semangka dan mampu menaikkan produksi buah 10 hingga 15 persen. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  LIPI dan Pemkab Malinau Kembangkan Laboratorium Pupuk Hayati