Sejak 2005, Ekspor Grabah Klaten Berhenti

share on:

Solo, Jubi/Antara – Grabah Bayat, yang merupakan hasil pengrajin dari Dukuh Pagerjurang, Kelurahan Meikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sudah beberapa tahun silam tak diekspor lagi.

“Karena krisis ekonomi global, sejak tahun 2005 sebanyak 200 perajin grabah di dukuh ini sudah tidak lagi melakukan ekspor ke manca negara,” kata Koordinator Kampung Grabah Pegerjurang di Klaten, Sumilih, Selasa (30/6/2015).

Grabah merupakan barang-barang peralatan rumah tangga yang dibuat dari tanah liat yang bahan bakunya berasal dari daerah itu. Beberapa tahun silam ekspor gerabah Brayat banyak diminati warga Jepang, Australia, dan Belanda. Namun ekspor yang pernah dicapai warga itu sekarang berhenti.

Ia mengatakan penghasilan perajin disini sewaktu masih bisa melakukan ekspor lumayan, untuk harga satu peti kemas kecil nilai bisa mencapai Rp 50 juta dan permintaan itu hampir setiap bulan ada.

Dikatakan setelah ekspor grabah itu berhenti perajin Wedi hanya mengandalkan pasar dalam negeri dan juga memasok di pusat perdagangan di Kasongan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. “Barang-barang yang di pasang di toko-toko Kasongan itu sebagian dari hasil perajin di Pagerjurang,” katanya.

Sumilih mengatakan untuk memajukan grabah di daerahnya perajin bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS), baik dalam pemasaran maupun produksi.

Ia mengatakan untuk pengembangan produk grabah dari LPPM UNS telah melatih para perajin dengan teknik gloosy. Selain itu juga mendapatkan pendidikan pemasaran dan diversifikasi produk.

Diversifikasi produk itu perajin grabah tidak hanya membuat grabah saja, tetapi juga dikembangkan menjadi kampung wisata. Wisatawan yang datang ke Pagerjurang bisa melihat cara membuat grabah dan langsung terjun membuat barang-barang tersebut. (*)

Editor : Dewi Wulandari
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sejak 2005, Ekspor Grabah Klaten Berhenti