Budayawan: Festival BMW Jaga Eksistensi Nilai Adat

share on:

Biak, Jubi/Antara – Budayawan senior Papua Mikha Ronsumbre mengatakan, festival Biak Munara Wampasi (BMW) dengan atraksi snap mor (menangkap ikan di luat surut) dan apen beyeren (berjalan di atas batu panas) untuk menjaga eksistensi nilai adat.

“Secara umum BMW sukses mengelar kegiatan budaya asli Biak yang selalu dipertahankan secara turun temurun,” ujar budayawan senior Mikha Ronsumbre di Biak, Minggu (7/6), seusai penutupan festival tersebut.

Ia sangat berharap, pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tetap melanjutkan program festival BMW di tahun mendatang karena ajang masyarakat adat untuk menjadikan daerah sebagai daya tarik wisatawan.

Terkait adanya kritik dan masukan yang disampaikan berbagai elemen warga, menurut Mikha, harus menjadi bahan evaluasi pemkab dan dinas terkait sehingga tahun mendatang penyelenggaraan festival BMW dapat lebih baik.

Kegiatan festival BMW sudah berakhir Sabtu malam, lanjut Mikha, sejak 1-4 Juli kegiatan budaya ini berlangsung telah mampu menjadi panggung hiburan bagi semua elemen masyarakat.

“Ya harapan saya ajang ini sebagai atraksi budaya khas yang secara nyata berkontribusi terhadap pelestarian nilai leluhur adat Biak,” tegas budayawan Papua itu.

Sementara itu, kegiatan Festival BMW 2015 ditutup secara resmi olrh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Prof Yohana Yembise bertempat di lapangan putra angkasa Lanud Manuhua Sabtu malam.

“Festival BMW diharapkan menjadi destinasi wisata budaya Papua sehingga harus dipertahankan,” demikian Yohana Yembise.

Sejumlah pejabat daerah yang hadir pada penutupan festival BMW di antaranya Bupati Thomas Ondy, Ketua DPRD Zeth Sandy, komandan satuan TNI/Polri serta para kepala SKPD di lingkup Pemkab Biak Numfor. (*)

Editor :
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Budayawan: Festival BMW Jaga Eksistensi Nilai Adat