Freeport Bandel, Pemerintah Tak Perpanjang Izin Export

share on:
Salah seorang karyawan PT Freeport mengontrol proses penambangan.(Jubi/ist)
Salah seorang karyawan PT Freeport mengontrol proses penambangan.(Jubi/ist)

Jayapura, Jubi – PT Freeport Indonesia akan dipanggil oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk membahas perpanjangan ekspor konsentrat tembaga selama satu semester ke depan.

“Kami akan membahas lagi pada Senin (27/7/2015) ,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono di Jakarta, Minggu (26/7/2015).

Ia mengatakan Freeport belum bisa memperpanjang ijin ekspor konsentrat tembaga setelah habis masa berlakunya pada 25 Juli 2015.

“Freeport belum memenuhi syarat minimum 60 persen dari perencanaan maupun serapan dana pembangunan faslitas pengelolahan dan pemurnian (smelter) untuk periode semester I ini. Hal ini jadi faktor membuat pemerintah belum memberikan izin ekspor konsentrat tembaga,” kata Bambang.

Salah satunya soal kewajiban Freeport membangun industri pengolahan dan pemurnian mineral mentah (smelter) yang diamanatkan UU Mineral dan Batubara (Minerba), hanya menyisakan cerita semata. Bahkan sejak pemerintahan SBY sampai kini, belum kelihatan wujud nyatanya. Semula, Freeport berencana akan membangun smelter di atas lahan milik PT Petrokimia, Gresik, Jawa Timur. Ternyata, sampai sekarang hanya sebuah pepesan kosong.

 

Untuk, mengukur keseriusan industri tambang yang berkantor pusat di Amerika Serikat itu dalam membangun smelter, pemerintah telah menetapkan adanya dana komitmen. Untuk enam bulan pertama ditetapkan sebesar US$ 280 juta. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2014 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian Rekomendasi Pelaksanaan Penjualan Mineral ke Luar Negeri Hasil Pengolahan dan Pemurnian, Freeport harus setor 60 persen dari dana komitmen itu. Atau sekitar US$ 170 juta.

Menurut Dirjen Minerba Bambang, Freeport hanya sanggup membayar dana komitmen US$ 115 juta. Jelas sikap ini tidak sesuai dengan Perrmen ESDM No 11 Tahun 2014. Karenanya, PT Freeport Indonesia tidak bisa melakukan kegiatan ekspor konsentrat sejak 25 Juli 2015 karena belum memenuhi syarat. Freeport baru bisa melakukan eksport lagi jika syarat telah dipenuhi perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut.

“Kemungkinan disetop. Kalau izinnya sudah habis. Tidak ada batasan waktu. Sepanjang dia memenuhi nanti bisa diberikan,” ujar Bambang. Perusahaan tambang raksasa tambang asal Amerika Serikat ini, harus istirahat sejenak dari aktivitas ekspor konsentratnya. Pasalnya, pemerintah belum memperpanjang izin ekspor Freeport.

Izin ekspor yang berakhir ini merupakan perpanjangan izin ekspor periode kedua yang diberikan pemerintah, dari 25 Januari 2015 sampai 25 Juli 2015. Periode perpanjangan izin ekspor pertama diberikan pemerintah kepada Freeport, dari 25 Juli 2014 sampai 26 Januari 2015. Perusahaan tambang yang sudah 40 tahun di Indonesia sudah mengajukan permohonan perpanjangan izin ekspor yang ketiga ini, untuk mengekspor sebanyak 575.000 ton konsentrat tembaga.(Dominggus Mampioper)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Freeport Bandel, Pemerintah Tak Perpanjang Izin Export