Industri Garam NTT Mengarah Tren Positif

share on:

Kupang, Jubi/Antara – Pengembangan industri garam hingga semester pertama 2015 di Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukkan tren positif dengan masuknya sejumlah investor yang akan menginvestasikan dananya untuk kepentingan pengembangan garam lokal.

“Ini merupakan sinyal atau tren positif sektor penanaman modal di daerah. Artinya, nilai investasi yang masuk tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Nusa Tenggara Timur Semuel Rebo di Kupang, Selasa (28/7/2015).

Menurutnya, kegiatan investasi yang sudah masuk ke sejumlah daerah di provinsi seribu pulau itu antara lain di bidang pengembangan garam serta sentra produksinya, dengan daerah penyebaran di Kabupaten Malaka, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kupang dan Kabupaten Nagekeo.

Dia menjelaskan,di Kabupaten Malaka misalnya, PT Inti Daya Kencana telah membuka kantor perwakilannya dan saat ini sedang melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat. Kehadiran PT Inti Daya Kencana mendapat respon positif dari masyarakat, pelaku bisnis dan pemerintah setempat.

Karena iklim berinvestasinya sangat kondusif, sambungnya, PT Inti Daya Kencana bersama masyarakat dan pemerintah setempat melakukan pengukuran terhadap lahan-lahan garam yang ada.

“Hasilnya, Kabupaten Malaka memiliki lahan yang sangat potensial untuk pengembangan garam,” katanya.

Sementara itu, di Kabupaten Timor Tengah Selatan, lokasi pengembangan garamnya dipusatkan di Bena. Ada sekitar 11.000 hektare yang diperuntukan bagi pengembangan garam. Sejauh ini, pemerintah dan masyarakat setempat juga menyambut gembira kehadiran investor. “Mereka bekerja sama menyiapkan segala sesuatu untuk pelaksanaan proyek ini,” katanya.

BKPMD NTT, kata dia, sedang melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nagekeo menyangkut lahan-lahan yang sangat potensial untuk pengembangan garam. Kurang lebih 1.013 hektare lahan dari target 1.050 hektare lahan masuk dalam kategori lahan garam.

“Daerah di NTT yang juga berpotensi untuk pengembangan garam adalah Kabupaten Kupang, dengan memanfaatkan lokasi bekas HGU PT Panggung Guna Ganda Semesta, yang urung berinvestasi 20 tahun lalu,”katanya.

Sementara itu Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome terpisah mengatakan, pemerintah di daerah itu terus mengembangkan usaha garam karena potensinya sangat besar. Sejak tahun 2013 sudah dibangun pabrik garam dan akan terus dikembangkan lahan usahanya menjadi 400 hektare.

Dikatakannya, hingga saat ini tambak garam yang berhasil dibangun di Kabupaten Sabu Raijua mencapai 14 hektare dengan produksi pertahun mencapai 7.560 ton. Jika seluruh lahan seluas 121 hektare yang sedang dibangun itu berporduksi, maka setiap tahun produksi garam akan menjadi sebanyak 65.340 ton.

Dia mengaku, telah ada pabrik garam di Desa Emeba, Kecamatan Sabu Barat yang sudah beroperasi selama dua tahun dalam kemasan dengan tulisan Garam Berjodium Nataga, Cap Otak Brliliant. “Garam ini kita jual ke sejumlah daerah di NTT juga ke luar provinsi seperti ke Jawa dan lainnya,” katanya. (*)

Editor : Victor Mambor
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Industri Garam NTT Mengarah Tren Positif