Muslim Tolikara dan GIDI Sepakat Selesaikan Masalah Secara Adat, Minta Proses Hukum Dihentikan

share on:
Ustad Ali Mukhtar (ketiga dari kiri) dan Pendeta Dorman Wandikbo (keempat dari kiri) bersama pengurus GIDI dan Pengurus NU Provinsi Papua usai menyepakati tujuh point penyelesaian insiden Tolikara - Jubi
Ustad Ali Mukhtar (ketiga dari kiri) dan Pendeta Dorman Wandikbo (keempat dari kiri) bersama pengurus GIDI dan Pengurus NU Provinsi Papua usai menyepakati tujuh point penyelesaian insiden Tolikara – Jubi

Jayapura, Jubi – Ustad Ali Mukhtar, tokoh muslim di Karubaga tiba di Jayapura untuk bertemu dengan para pemimpin Gereja Indjili di Indonesia (GIDI), difasilitasi oleh Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama Provinsi Papua dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Rabu (29/7/2015).

Pertemuan antara Ustad Ali Mukhtar yang mewakili umat muslim di Karubaga, Kabupaten Tolikara dengan para pengurus GIDI dilakukan untuk membahas penyelesaian insiden yang terjadi di Tolikara, Jumat (17/7/2015). Dalam pertemuan di Kantor FKUB ini, Ustad Ali Mukhtar menyampaikan bahwa umat muslim di Tolikara hanya ingin bisa beribadah seperti biasanya.
“Insiden yang terjadi di Tolikara kami setuju diselesaikan secara damai. Kami juga sepakat ini bukan masalah agama atau SARA. Sehingga kami mohon pada saudara-saudara umat muslim di seluruh Nusantara agar jangan sampai terjadi aksi balas dendam. Kami siap menyelesaikan masalah Tolikara secara damai dan secara adat, agar kami bisa beribadah seperti biasanya dengan aman dan nyaman,” ujar Ustad Ali Mukhtar.

Ustad Ali menghimbau umat muslim untuk menahan diri agar tidak menyampaikan pernyataan yang bisa memicu emosi masyarakat Papua.
“Karena nanti kami yang jadi korban lagi,” ujar Ustad yang telah tinggal di Karubaga hampir sembilan tahun ini.

Selain itu, Ustad Ali meminta agar proses hukum yang yang sedang berjalan sebagai akibat dari insiden di Karubaga itu dihentikan.
“Kami setuju agar tahanan karena insiden Karubaga yang diproses di Polda Papua segera dilepaskan agar masalah ini tidak berkepanjangan. Dan perlu diketahui kami mewakili umat muslim di Tolikara, apabila ada kesalahan kami dalam sikap kami dalam bergaul, kami minta maaf,” kata Ustad Ali.

Sementara Presiden GIDI, Pendeta Dorman Wandikbo dalam kesempatan yang sama meminta agar umat GIDI di seluruh Indonesia dibebaskan beribadah. Sebab menurutnya, ada beberapa gereja GIDI di beberapa wilayah di Indonesia yang ditutup karena insiden Karubaga yang meluas menjadi isu nasional.
“Beberapa gereja GIDI ditutup. Jemaat GIDI juga ada yang mengalami intimidasi dan kekerasan. Karena itu kami ingin menyelesaikan masalah ini secara damai untuk sekarang dan selamanya. Kami ingin menyelesaikan masalah kami hari ini, agar umat kami bisa beribadah seperti biasanya,” ujar Pendeta Dorman.

Seperti diketahui, insiden Karubaga mengakibatkan puluhan kios dibakar oleh warga di Karubaga yang mayoritas adalah umat GIDI karena penembakan yang dilakukan oleh aparat keamanan terhadap sekelompok umat GIDI yang ingin bernegosiasi dengan umat muslim yang sedang menjalankan ibadah Sholat Ied. Terbakarnya kios-kios ini merambat hingga sebuah kios yang menjual bahan bakar minyak (BBM) hingga menjalar ke Musholla yang biasa digunakan oleh umat muslim untuk beribadah. Insiden yang tidak diharapkan oleh kedua belah pihak ini kemudian diberitakan oleh beberapa media nasional tanpa melalui proses konfirmasi dan verifikasi sehingga menyulut kemarahan sebagian umat muslim di Indonesia. (Victor Mambor)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Muslim Tolikara dan GIDI Sepakat Selesaikan Masalah Secara Adat, Minta Proses Hukum Dihentikan