Siswa Belanda Bedah Rumah Di Kamkei, Jayapura

share on:
Alex Yaku (depan tengah) berfoto bersama pelajar asal Belanda dan pengurus Global Explorasi di depan rumahnya yang sedang direnovasi, di Jalan Gerilyawan no. 7, Kelurahan Yobe, Distrik Abepura, Papua, pada Jumat (31/7/2015). Foto: Jubi/Yuliana Lantipo
Alex Yaku (depan tengah) berfoto bersama pelajar asal Belanda dan pengurus Global Explorasi di depan rumahnya yang sedang direnovasi, di Jalan Gerilyawan no. 7, Kelurahan Yobe, Distrik Abepura, Papua, pada Jumat (31/7/2015). Foto: Jubi/Yuliana Lantipo

Jayapura, Jubi – Belasan pelajar asal negeri Belanda menempuh jutaan kilo meter menuju Hollandia-Binen (Abepura) untuk belajar budaya masyarakat lokal serta belajar berbagi dengan merenovasi rumah penduduk dengan misi “we are one world”, belajar untuk berbagi dan peka terhadap masyarakat kecil.

 

Para pelajar setara SMA itu melakukan perjalanan dengan kerjasama yayasan non-pemerintah, Global Exploration yang berkantor pusat di Belanda, dan memiliki kantor di Papua. Organisasi yang memiliki misi We Are One World itu telah membawa anak-anak muda ke lebih 10 negara untuk memberikan kesempatan belajar budaya, pendidikan dan belajar untuk peka dengan kondisi orang yang sulit.

 

Koordinator Global Exploration di Papua, Tomas Darmadi, mengatakan, Papua adalah kunjungan GE yang kedua di Indonesia. Sebelumnya di Kalimantan.

 

“Selain pertukaran budaya, Global Exploration ingin memperkenalkan pelajar mengenal budaya lain dan punya hati untuk menolong, membuat mereka peka terhadap orang lain. Itu tujuannya,” kata Darmadi saat ditemui Jubi di Kamkei, Jumat (31/7/2015).

 

Dalam kunjungan itu, para pelajar membantu beberapa masyakat diantaranya dengan membangun rumah, merenovasi rumah, dan membangun jembatan untuk PAUD di Jayapura. “Seluruh anggaran dari kantong pelajar, mereka jualan kue, ada juga yang minta sumbangan keluarga,” jelasnya.

 

“Tahun lalu bangun satu rumah warga di Pos 7, Sentani, dan rehap beberapa tempat. Tahun ini, mereka bedah rumah, diantaranya di Sentani ada tiga rumah dan di sini, Kamkei. Kemudia membantu membuat jembatan untuk PAUD di Kampung Ayapo,” jelasnya.

 

Salah satu rumah yang direnovasi adalah rumah peninggalan Belanda yang berlokasi di Jl Gerilyawan no. 7, Kelurahan Yobe, Distrik Abepura. Darmadi menjelaskan, pemilihan rumah atau bangunan untuk dibantu dilakukan dengan melihat kondisi bangunan dan kemampuan ekonomi penghuninya. “Jadi, ini tidak ada hubungannya dengan peninggalan Belanda. Kebetulan, anak ini dikenal dengan rumah yang sangat sederhana maka didatangi dan dibantu,” katanya.

 

Bagai Mimpi Jadi Nyata

 

Ditemui Jubi disela-sela kunjungan pelajar Belanda yang merenovasi rumahnya, Alex Yaku, pria 39 tahun itu menyatakan kebahagiaannya, bagia mimpi jadi kenyataan. “Atap rumah yang bocor bertahun-tahun, akhirnya bisa ditutup,” katanya. “Saya berterima kasih kepada tim Global Explanation dari Belanda, telah menghapus air mata saya.”

 

Sejak 1950, rumah itu tidak pernah diubah bangunannya, bahkan tidak pernah direnovasi. Hingga 2015, rumah yang berusia 56 tahun itu akhirnya mendapat sentuhan, “bedah rumah” dari hasil sumbangan para pelajar setingkat SMA di Hollandia, Belanda.

 

Alex Yaku (39) yang menempati rumah orang tuanya –Rahabiam Yaku (alm) dan Adriana Wasanggai (alm)—menyatakan bersyukur dan berterima kasih atas perhatian tersebut. Ditemui di halaman rumahnya, ia bercerita, semua yang terjadi tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

 

Ia mengatakan, kedatangan pelajar dari negeri yang jauh tersebut bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan, menjawab doa-doanya selama ini.

 

“Saat itu, kita, komsel Menara Ninabua, sedang sembayang, tiba-tiba atap bocor,” kata Alex, mengenang kisah bersama komunitasnyabeberapa tahun lalu. “Saya berdoa kepada Tuhan, biarlah Engkau yang campur tangan untuk tutup atap-atap bocor itu. Akhirnya, saya percaya, Tuhan utus hamba-hambanya dari Belanda untuk hapus semua kedukaan saya, inilah jawabNya atas doa kami,” katanya tersenyum.

 

Alex yang sehari-hari menjual kue untuk membiayai pelayanannya menyatakan bangga kepada para pelajar Belanda itu yang jug menjual kue dan mencari sumbangan lain untuk membantu orang-orang lain di Papua, termasuk dirinya. “Kita sama. Mereka jual kue, saya juga jual kue. Semua sama untuk pelayanan.”

 

Alex lahir dirumah peninggalan Belanda pada 1976 itu mengatakan, sejak kedua orangtuanya masuk ke rumah itu tahun 1950, belum pernah ada perombakan atau perbaikan. Menurutnya, pemerintah daerah kurang perhatian pada bangunan rumah peninggalan Belanda, bukan hanya rumahnya tetapi juga beberapa bangunan lain di lingkungannya yang bisa dijadikan situs bangunan bersejarah.

 

“Ini belum pernah direhap oleh pemerintah, sampai akhirnya, orang Belanda sendiri yang bangun, Belanda sendiri yang memperbaiki,” ujarnya.

 

Sementara itu, Dr Rob de Jong, salah satu pendamping para pelajar dari Belanda mengatakan, bukan hanya karena kedekatan secara emosional dari sejarah Belanda pernah ada di Papua, tetapi Bumi Cenderawasih dilihatnya menjadi tempat yang perlu mendapat perhatian dan bantuan.

 

“Papua membutuhkan bantuan. Itu yang saya lihat saat kunjungan pertama saya di Jayapura, tahun 2008, sebagai dokter bersama tiga teman. Jadi itu (sejarah) hanya salah satu alasan saja, tetapi yang utama, Papua memang butuh bantuan, ” ucap dokter itu.

 

Program ke seluruh dunia, sudah lebih dari 10 negara di datangi. Kenapa tidak kita ke Papua? Sampai di Papua ternyata biaya ke Papua sangat mahal, tetapi setelah sampai disini, semua bisa di atur.

 

Salah satu warga Kamkei, Lukas Fautinf, turut menyampaikan terima kasih kepada Global Exploration dan para pelajar. “Saya atas nama warga khususnya yang ada di lingkungan Kamkei, hanya bisa berdoa agar adik-adik (pelajar) ini diberkati Tuhan. Semoga, bisa diberi kekuatan agar masyarakat lain yang butuh dibantu bisa dibantu di kemudian hari,” ucapnya. (Yuliana Lantipo)

 

Editor : Yuliana Lantipo
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Siswa Belanda Bedah Rumah Di Kamkei, Jayapura