Abaikan Jurnalisme Damai Picu Konflik Tolikara yang Berkepanjangan

share on:
Para narasumber dalam program ‘Damai di Papua, Damai di Indonesia’ berfoto bersama setelah menandatangani prasasti Deklarasi Damai Papua, di Swiss Bell Hotel, Jayapura, Sabtu (1/8/2015). Foto: Jubi/Yuliana Lantipo
Para narasumber dalam program ‘Damai di Papua, Damai di Indonesia’ berfoto bersama setelah menandatangani prasasti Deklarasi Damai Papua, di Swiss Bell Hotel, Jayapura, Sabtu (1/8/2015). Foto: Jubi/Yuliana Lantipo

Jayapura, Jubi – Pemberitaan media masa-elektronik maupun cetak-yang tidak menerapkan standar jurnalistik dan tidak mengedepankan jurnalisme damai pada insiden Tolikara ditengarai menjadi pemicu konflik berkepanjangan hingga skala nasional, yang berlabuh pada konflik agama antara muslim dan Kristen.

 

Ketua Pemuda Nahdatul Ulama (NU) Papua, Ridwan al-Makassary mengatakan, insiden di Tolikara pada 17 Juli 2015 telah salah ditafsirkan oleh sebagian awak media masa, karena tidak menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik. Dan, untuk meliput berita seperti peristiwa yang berawal dari ‘mis-communication’ antara pemeluk agama berbeda itu, seorang jurnalis diharapkan mampu meliput dengan titik berangkat pada jurnalisme damai.

 

“Saya lihat jurnalisme damai, dasar untuk mencari titik masalah itu tidak dilakukan (jurnalis),” kata Dosen Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) itu, dalam dialog ‘Damai Papua, Damai Indonesia’ yang diselenggarakan televisi nasional di Jayapura, Sabtu (1/8/2015).

 

Puluhan tahun lalu, Ridwan menghabiskan masa kecil hingga dewasa di Serui. Dalam forum yang dihadiri oleh petinggi aparat negara, TNI, Polisi, staf khusus Presiden, serta tokoh agama dan masyarakat, Ridwan mengatakan, kunjungannya ke Karubaga dua hari pasca insiden Tolikara memberikan gambaran yang berbeda dengan pemberitaan berbagai media, bahkan media nasional.

 

Ridwan mengatakan, kerukunan hidup masyarakat di Tolikara sangat baik, bahkan mereka saling berbagi. Seperti sebuah keluarga nasrani yang memberikan rumahnya sebagai tempat menginap ustad dari NU, atau biasa disapa masyarakat lokal sebagai ‘bapa Gembala Islam’. Ia adalah Ustad Ali Mukhtar.

 

“Sebelum insiden, saya lihat, Pak Imam justru nginap-nya di rumah orang Kristen,” ucapnya.

 

Lanjut Ridwan, toleransi yang tinggi juga dilihatnya bahkan dari masyarakat lokal yang seolah tidak rela membiarkan ‘gembala Islam’ itu keluar dari Tolikara, akhir bulan lalu. Tokoh muslim di Tolikara, Ustad Ali, meninggalkan tempat itu untuk menghadiri Muktamar NU di Jombang, Jawa Timur.

 

“Dan, saat Pak Ustad mau pergi, mereka (warga lokal) bilang ‘jangan pergi Gembala Islam (Pak Ustad)’. Itu yang mereka katakan, saya lihat. Jadi, hubungan sudah baik,” kisah Ridwan, yang mengambil Master of Human Rights and Democration di Sydney, Australia.

 

Ridwan juga mengatakan, 40 pengungsi muslim yang rumahnya ikut terbakar mengaku, selama masuk dan menetap di Tolikara, pihaknya tidak pernah merasakan ada tekanan atau intimidasi karena perbedaan kepercayaan. “Mereka katakana tidak ada tekanan, intimidasi. Jadi, saya heran dengan berita-berita yang mengatakan keadaan sebaliknya di media.”

 

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Papua, Pdt. Lipius Biniluk, mengatakan, insiden yang menelan satukorban jiwa itu disebabkan tidak adanya hubungan dan komunikasi antar level pimpinan.

 

Ia mengimbau, agar setiap pemimpin meningkatkan komunikasi dan hungan yang lebih baik untuk damai di Papua, damai di Indonesia.

 

“Komunikasi antar pemimpin yang sedikit putus. Masyarakat Papua tidak mengenal konflik agama. Jadi, komunikasi antar pemimpin yang perlu ditingkatkan untuk damai di Papua, damai di Indonesia,” ucap Pdt. Biniluk. (Yuliana Lantipo)

 

Editor : Yuliana Lantipo
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Abaikan Jurnalisme Damai Picu Konflik Tolikara yang Berkepanjangan