Jemaat Sedang Beribadah, Polisi Datang Menggeledah

share on:
Pendeta Yones Wenda (kanan) bersama seorang pengurus Gereja Kingmi Jemaat Allah Ninom - Jubi/Victor Mambor
Pendeta Yones Wenda (kanan) bersama seorang pengurus Gereja Kingmi Jemaat Allah Ninom – Jubi/Victor Mambor

Jayapura, Jubi – Puluhan anggota polisi yang diduga berasal dari Polres Jayapura dikabarkan menggeledah puluhan rumah warga yang berada di sekitar lokasi Gereja Kingmi Jemaat Allah Ninom yang terletak di ujung BTN Grand, Doyo Baru, Kabupaten Jayapura, Minggu (9/8/2015) sekitar pukul 11:50 WIT.

Salah satu majelis Gereja Kingmi Jemaat Allah Ninom, Nikius Bugiangge mengatakan, ketika itu semua anggota jemaat di dalam gereja. Pendeta sedang membawakan firman Tuhan. Lalu datanglah anggota polisi yang diduga dari Polres Jayapura kurang lebih 20 orang tanpa berseragam dinas dan bersenjata.

“Ada yang pakai motor dan ada mobil. Dan kendaraan itu di parkir disekitar gereja. Sepertinya mereka kejar orang dan semua jemaat keluar. Kami tak tahu apa masalahnya. Salah satu pemuda yang bertanya masalahnya apa? Para polisi menjawab “kenapa tanya – tanya ko pu urusan ka?” Lalu pemuda itu menjawab ini ada ibadah dan kami kaget makanya saya tanya,” kata Nikius via teleponnya kepada Jubi, Minggu (9/8/2015 malam, menirukan kata – kata para polisi.

Menurutnya, tak lama kemudian, para polisi itu mulai menggeledah kurang lebih 50 rumah warga di sekitar gereja. Ada yang masuk lewat jendela, pintu depan dan pintu belakang. Mereka memeriksa setiap kamar. Ketika itu, masyarakat pemilik rumah semua sedang beribadah.

Pendeta Yones Wenda, yang memimpin ibadah saat polisi datang menggeledah, mengatakan mereka yang datang menggeledah mengaku polisi tapi tidak berseragam polisi. Mereka menggunakan kaos oblong dan celana pendek.
“Mereka masuk di halaman gereja ketika ibadah sedang berlangsung. Lalu mereka mengepung rumah warga di belakang gereja baru yang belum diresmikan. Warga ini sedang beribadah di gereja kami. Di rumah itu beberapa keluarga pemilik rumah sedang sakit. Polisi langsung todong senjata dari pintu depan, pintu belakang dan jendela. Keluarga pemilik rumah yang sedang sakit langsung ditodong dan disuruh berdiri. Mereka tidak menunjukkan surat perintah dan tidak mengatakan tujuan mereka. Langsung ambil noken orang-orang di rumah itu untuk diperiksa,” kata Pendeta Yones kepada Jubi, Minggu (9/8/2015).

Lanjut Pendeta Yones, alasan polisi yang diberikan saat jemaat bertanya juga berbeda-beda. Ada yang mengaku sedang mengejar tahanan yang kabur dari penjara tapi ada juga yang bilang sedang kejar pelaku perampokan yang merampok di rumah Wakapolres Jayapura. Ada lagi yang bilang sedang mengejar pelaku pembunuhan.

“Setelah pulang ibadah, kami langsung menuju kantor Polres Jayapura. Tapi polisi yang jaga bilang Kapolres tidak ada. Dia bilang kami datang besok saja. Soal penyisiran yang dilakukan nanti ditanyakan pada Kapolres saja. Ada satu anggota polisi yang bilang itu mungkin Polda yang perintah,” kata Pendeta Yones mengulangi perkataan polisi yang berjaga di Polres Jayapura.

Saat Pendeta Yones dan jemaat sedang bicara dengan polisi jaga, anggota polisi lainnya yang tadi melakukan penggeledahan memasuki halaman Polres Jayapura. Pendeta Yones bersama beberapa anggota jemaat langsung mendatangi para polisi itu dan meminta mereka memanggil Kapolres untuk memberikan penjelasan. Namun mereka tidak memanggil Kapolres, melainkan melapor pada Wakapolres. Tak lama kemudian Wakapolres datang di Polres Jayapura.

“Wakapolres bilang dia yang memerintahkan anggotanya melakukan penggeledahan karena di rumah saya telah dirampok senjata dan HP. HP ini kami deteksi penggunaannya di kompleks bapak-bapak, Waibu, Sabron dan di Belakang Gunung Merah. Sehingga anggota di lapangan bergerak cepat seperti yang terjadi tadi. Untuk itu kami minta maaf atas tindakan anggota kami di lapangan,” ujar Pendeta Yones mengucapkan kembali perkataan Wakapolres di Polres Jayapura saat bertemu mereka.

Terpisah, anggota Komisi I DPR Papua bidang Politik, Keamanan, Pemerintahan, Hubungan Luar Negeri, Hukum dan HAM, Laurenzus Kadepa mengatakan, ia menyayangkan kejadian itu. Apalagi penggeledahan rumah warga dilakukan ketika pemilik rumah sedang beribadah.
“Kapolda Papua dan Kapolresta Jayapura harus menjelaskan ke publik, terutama umat Kingmi mengenai penggeledahan itu. Apa alasan sebenarnya,” kata Kadepa. (Arjuna Pademme)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jemaat Sedang Beribadah, Polisi Datang Menggeledah