Jenazah Bentrokan Antar Pelajar Dibawa Ke Wamena

share on:
Peti jenazah korban tawuran antar pelajar saat karnaval di Wamena saat tiba di rumah duka. Jubi/Islami
Peti jenazah korban tawuran antar pelajar saat karnaval di Wamena saat tiba di rumah duka. Jubi/Islami

Wamena, Jubi – Jenazah korban terkena panah akibat bentrokan antar pelajar saat karnaval budaya, Senin (10/8/2015) akhirnya dibawa kembali ke Wamena setelah sempat dilakukan perawatan intensif di RSUD Dok II Jayapura.

Kedatangan korban, Selasa (11/8/2015) sekitar pukul 13.50 waktu Papua dengan menggunakan pesawat Jayawijaya Dirgantara, disambut dengan isak tangis keluarga yang telah menunggu di Apron II Bandara Wamena.

Setibanya, jenazah Nelson Tabuni siswa kelas XI SMAN 1 Wamena langsung dibawa ke rumah duka di Maplima dengan menggunakan mobil ambulance dari Kodim 1702/Jayawijaya dan dihadiri pemerintah daerah setempat.

Sekda Jayawijaya, Yohanes Walilo berharap pasca kejadian baik sekolah dan pihak keluarga tidak ada rasa balas membalas, karena pemerintah daerah telah melakukan pertemuan dengan sekolah-sekolah maupun pihak keluarga korban.

Pemerintah sudah bicara kepada orang tua korban dan kita akan lakukan evakuasi janazah dan kita juga sudah memanggil pihak sekolah agar tidak melakukan hal saling balas membalas,” ujar Sekda Walilo kepada wartawan.

Ia juga mengatakan bahwa sebenarnya permasalahan tersebut adalah permasalahan SMA Negeri 1, namun berimbas kepada SMA Yapis dan terjadi kesalahpahaman dan Sekda juga berharap agar keributan tersebut tidak lagi meluas.

Aktivitas sekolah untuk satu dua hari ini kita liburkan sementara, agar jangan ada yang memancing keributan lagi yang meluas dan paling tidak sampai jenazah ini kita makamkan,” katanya.

Dirinya juga mengaku, pihaknya sudah mengumpulkan kepala sekolah SMA Yapis dan juga SMA Negeri 1 pada pagi hari dan kedepan, pihaknya juga akan memanggil seluruh kepala sekolah yang ada di Kota Wamena sehingga dapat menjaga kemanannya di setiap sekolah.

Pihaknya juga mengaku akan mendengarkan tuntutan dari pihak keluarga korban dan dari pemerintah daerah akan memberikan bantuan atau santunan kepada pihak keluarga. Pemda juga akan segera mengambil langkah tegas dengan memanggil kepala dinas pendidikan dan juga seluruh kepala sekolah dan melakukan kesepakatan bersama untuk menjaga siswa-siswa di setiap sekolah.

Sementara itu Kapolres Jayawijaya, AKBP Semmy Ronny Thaba melalui Kepala Satuan Reskrim Polres Jayawijaya, Iptu I Wayan Laba ketika ditemui di ruang kerjanya mengatakan, awal mula terjadinya keributan Senin (10/8) pada pukul 10.45 waktu Papua di halaman Gedung Bazda

Yapis Wamena pada saat karnaval dalam rangka HUT RI dan pada saat karnaval tersebut diikuti oleh berbagai elemen masyarakat termasuk siswa dan siswi yang ada di Jayawijaya.

Kemudian pada saat baris berbaris di lapangan untuk ikut pawai, ada dua siswa dari SMA Negeri 1 Wamena dengan inisial TSS dan JS saling ejek,” ungkap Kasat Reskrim.

Menurutnya, dari tatapan mata atau saling ejek itu terjadi ketersinggungan dan keduanya berduel satu lawan satu dan ternyata JS kalah dan terdesak lalu miminta bantuan teman-temannya dari SMA Yapis dan akhrinya TSS juga memanggil teman-temannya dari SMA Negeri 1 dan akhirnya terjadi tawuran dan melibatkan sekolah lainnya.

Dari tawuran tersebut, Polres Jayawijaya mencatat ada korban yang berobat di RSUD Wamena berjumlah 13 orang baik luka berat dan ringan dan satu orang meninggal dunia setelah sempat dirujuk di RSUD Jayapura.

Untuk tindakan hukum selanjutnya, kita sudah memanggil dan memintai keterangan dari beberapa orang terutama para pemicu kerusuhan dari kelompok TSS dan JS ini juga sudah dimintai keterangan yang berjumlah sembilan orang yang kita mintai keterangan,” katanya.

Penindakan kerusuhan dan mengakibatkan satu orang meninggal tersebut, Polres Jayawijaya berkomitmen tetap melanjutkan proses hukum dan juga akan menindak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Adapun ketujuh orang lainnya yang diperiksa sebagai saksi, menurut I Wayan peran masing-masing adalah sebagai pembantu dan dari kesembilan orang yang diperiksa tersebut menurutnya tidak tertutup kemungkinan akan ditetapkan menjadi pelaku dan tersangka.

Yang perlu diketahui masyarakat adalah masing-masing saksi ini kita bisa kenakan pasal yang sama, yakni pelaku bisa menjadi korban dan sebaliknya korban bisa menjadi pelaku karena dari kelompok TSS ini bisa menjadi pelaku kekelompok JS dan kelompok JS bisa menjadi korban

TSS dan permasalahan ini tidak ada sama sekali dikarenakan permasalahan wanita seperti yang beredar,” katanya. (Islami)

Editor : Angela
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jenazah Bentrokan Antar Pelajar Dibawa Ke Wamena