Gagal Landing, Pesawat Komala Air Tabrak Dinding Gunung

share on:
Evakuasi korban jatuhnya pesawat Komala Air PK KIG seri 170 di RSUD Wamena - Jubi/Islami
Evakuasi korban jatuhnya pesawat Komala Air PK KIG seri 170 di RSUD Wamena – Jubi/Islami

Wamena, Jubi – Pesawat jenis PAC 750 XL dengan nomor registrasi PK KIG seri 170 tahun pembuatan 2010 yang dioperasikan PT. Komala Indonesia mengalami gagal landing, Rabu (12/8/2015) di landasan pacu Distrik Ninia, Kabupaten Yahukimo, Papua.

Pesawat yang membawa dua orang awak dan empat penumpang itu, terbang atau dari Bandara Wamena pada pukul 07.43 waktu Papua dan perkiraan tiba di Ninia pada pukul 08.05 waktu Papua, namun terjadi lost contact dengan tower pukul 07.47 waktu Papua. Dalam kejadian itu, satu orang atas nama Eka Wijaya yang merupakan teknisi pesawat meninggal dunia sedangkan pilot mengalami luka serius di bagian kepala dan ke empat penumpang lainya mengalami luka cukup serius akibat patah tulang.

Empat korban jatuhnya pesawat Komala Air dievakuasi ke rumah sakit Wamena dengan menggunakan Helicopter Helivida yaitu pilot Kapten Herman Tiono, Adam, Yali Pahabol termasuk korban meninggal, Eka Wijaya.

Sedangkan dua korban lainya atas nama Laimo dan Yakyat Leobak di evakuasi ke Rumah Sakit Dian Harapan Waena, Jayapura. Sekitar pukul 10.00 waktu Papua, empat korban yang dievakuasi ke Wamena langsung dilakukan tindakan medis.

Salah satu penumpang yang selamat, Adam kepada wartawan mengakui, jatuhnya pesawat Komala Air yang ditumpanginya itu saat hendak landing atau mendarat di lapangan terbang Distrik Ninia. Namun karena terbang terlalu rendah dan dihempas angin kencang, pesawat oleng dan menabrak dinding gunung landasan pacu distrik Ninia dan terjatuh.

“Saya duduk di bagian tengah dan pada saat mau mendarat pesawat sempat oleng dan mungkin karena angin juga, sehingga bagian pesawat menabrak dinding gunung,” kata Adam di Rumah Sakit Umum Wamena.

Direncanakan tiga korban kecelakaan pesawat Komala Air hari ini, Kamis (13/8/2015) akan dievakuasi ke Jayapura. Sedangkan untuk korban meninggal akan dibawa keluarga ke Jakarta, di mana seluruh biaya ditanggung oleh PT. Komala Indonesia.

Dokter yang menangani para korban selamat, Dr. Willy menjelaskan, kondisi cukup parah dialami pilot karena luka serius dibagian kepala dan kondisinya bisa dikatakan kritis, karena saat ditangani dokter, ia tidak sadarkan diri.

“Pilot mengalami pendarahan yang cukup banyak, sehingga membuat tensinya drop. Jadi kita atasi pendarahan dulu, sambil mengontrol baru kita bisa lihat untuk pemeriksaan lainya. Kemudian dua penumpang lainnya mengalami patah pada bagian paha kanan dan kiri juga kluris kiri kanan serta ada patahan di plipis,” kata dokter Willy.

Hingga kini, kondisi pilot masih dalam penanganan intensif tim dokter rumah sakit Wamena dan harus dilakukan operasi.

Sementara itu pelaksana tugas Kepala Unit Pelaksana Bandar Udara Kelas I Wamena, Markus Roni menjelaskan, pada saat kejadian jatuhnya pesawat Komala Air belum diketahui pasti, apakah mengalami kerusakan atau faktor lainnya.

“Pada saat terbang, pesawat membawa barang seberat 179 kilogram, dan pesawat ini sudah ada ijinnya dan sering melakukan penerbangan di wilayah Wamena dan sekitarnya,” kata Markus Roni.

Sedangkan dari laporan Stasiun Meteorologi Wamena, saat ini kondisi tiupan angin di wilayah Wamena dan pegunungan tengah Papua pada khususnya masuk dalam kategori ekstrem. Angin bisa bertiup sangat kencang dengan kecepatan 38 knot sehingga sangat membahayakan bagi penerbangan, apalagi bagi pesawat-pesawat kecil yang akan melakukan penerbangan ke wilayah terpencil.
“Kondisi terakhir pengamatan BMKG tiupan angin masuk pada level 38 knot, sedangkan normalnya 20 knot sehingga bagi penerbangan harus ekstra hati-hati dengan kondisi ini, karena diperkirakan masih akan terjadi hingga bulan September 2015,” kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Wamena, Diedrech Marlissa saat dihubungi. (Islami)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Gagal Landing, Pesawat Komala Air Tabrak Dinding Gunung